Menu

Thursday, 17 December 2009

Cinta Laila Majnun

Hanya ingin menumpah kata

Laila Majnun, sebuah kisah dari cerita rakyat arab, tentang kecantikan seorang gadis bernama Laila, yang menarik hati seorang pemuda, Qais keturunan Bani Amir.

Qais yang semula pandai, gagah dan berasal dari kabilah terhormat, menjadi majnun alias gila, karena kasihnya yang tak sampai. Qais, yang tersiksa karena takdir yang selalu memusuhinya, sedang hasrat tak mampu ditundukan hatinya, menjadikan dia lupa akan hakikat hidupnya sendiri. Walau kegilaan yang dialaminya mengilhami tutur bahasa sastra yang indah, dan ketulusan jiwa dalam derita cinta, tetap saja sebutan majnun tak dapat ditepisnya.


Kisah tentang Qais dan Laila yang hidup di suatu negeri wilayah tanah Arab. Qais yang berwajah tampan dan Laila yang terkenal akan kecantikannya, yang menjadi dambaan setiap laki-laki. Akhirnya cinta mereka kandas karena adat melarang mereka untuk mengekspresikan gelora cintanya. Maka, tumpah ruahlah segala rasa rindu dan cinta dalam bentuk syair dan puisi yang mengalir menentang takdir mereka.

Suatu ketika Qais memutuskan ikut berniaga ke negeri lain bersama ayahnya agar kelak ia memiliki bekal pengetahuan sendiri tentang perniagaan. Ketika pamit kepada Laila, Qais memberikan seuntai kalung mutiara sebagai tanda kesetiaannya. Qais minta Laila berjanji untuk melepaskan sebuah mutiara dari untaiannya apabila waktu sudah menunjukkan bulan baru. Ia pun berjanji akan kembali sebelum untaian mutiara habis.

Meskipun sangat sedih, Laila merelakan kekasihnya pergi mencari pengalaman.

Sepeninggal Qais, Laila hanya bermenung diri dan menciptakan syair sebagai pelambang rindu. Suatu hari, ayah Laila, Al-Mahdi, pulang ke rumah bersama seorang tamu bernama Sad bin Munif, yang diajak menginap. Tamu itu seorang saudagar kaya raya yang berasal dari Irak. Ketika berjumpa Laila, Sad bin Munif langsung jatuh cinta dan melamar Laila kepada ayahnya. Tanpa sepengetahuan Laila, Al-Mahdi menerima lamaran tersebut karena tergiur oleh mas kawin 1.000 dinar dan harta kekayaan Sad bin Munif. Laila tak berdaya melawan perintah ayahnya karena adat memang menyatakan bahwa laki-laki berkuasa atas perempuan. Sementara itu, Qais yang telah memasuki bulan ke-9 ikut berniaga ke negeri-negeri seperti Damsjik, Jerusalem, Hims, Halab, Anthakijah, Irak, Koefah, hingga Basrah tidak dapat lagi menahan rindunya terhadap Laila. Wajahnya tampak muram dan badannya semakin kurus.

Ayah Qais melihat kesedihan anaknya dan menanyakan ada apakah gerangan yang telah mengganggu pikirannya. Akhirnya Qais berterus terang tentang kisah cintanya dengan Laila. Demi mendengar penuturan anaknya, Al-Mulawwah memutuskan segera kembali ke kampung halamannya dan berjanji akan melamar Laila untuk Qais. Ketika sampai kampung halaman, Al-Mulawwah bergegas menemui ayah Laila dan menawarkan 100 unta sebagai pengganti uang 1.000 dinar yang telah diberikan Sad bin Munif. Akan tetapi, dengan sombongnya, ayah Laila menolak lamaran Al-Mulawwah. Tak berapa lama kemudian, pesta perkawinan Laila dan Sa�d bin Munif diselenggarakan secara besar-besaran. Maka, hancur luluhlah hati Qais. Tak ada satu obat pun yang bisa menyembuhkan sakitnya ini, meskipun orangtuanya telah mendatangkan banyak tabib ternama. Sejak itu Qais tidak mau berbicara kepada orang lain, ia sibuk dengan dirinya sendiri dan sering kali terlihat berbicara sendiri. Karena perilaku aneh inilah orang sekampungnya memanggil Qais dengan Majnun, yang berarti kurang sempurna pikirannya.

Akan halnya Laila, meskipun kini telah menjadi istri Sad bin Munif, ia tetap mencintai Qais. Menurut Laila, secara fisik ia boleh menjadi istri Sad bin Munif, tetapi jiwanya tetap untuk Qais. Dalam ungkapannya, di dunia Qais dan Laila bukanlah pasangan suami istri, tetapi di akhirat mereka menjadi pasangan abadi. Karena tak kuat menanggung penderitaan cinta ini, Laila sakit dan selalu memanggil nama Qais. Akhirnya Qais pun dipanggil untuk menemui Laila. Ketika mereka bertemu, Laila memberi pesan terakhir bahwa mereka akan bertemu nanti di akhirat sebagai sepasang kekasih. Demi melihat kekasihnya meninggal, putus asalah Qais. Tak ada lagi keinginannya untuk hidup. Sehari-hari kerjanya hanya duduk di pusara Laila hingga akhirnya Qais meninggal. Maka, jasad Qais pun dibaringkan di samping pusara Laila.

Kira-kira 10 tahun kemudian, beberapa musafir menziarahi kubur mereka berdua. Di atas kedua pusara itu telah tumbuh dua rumpun bambu yang pucuknya saling berpelukan. Maka, masyhurlah kisah ini sebagai kisah Laila-Majnun.

Cinta memang tidak datang tiba-tiba, juga tidak dapat padam seketika.
Tak seorangpun dapat mengelak jika gelora asmara tiba-tiba menggelegak.
Tak ada jiwa yang dapat menyangka, jika badai cinta menggelora di dada.

Cerita roman yang penuh puisi cinta dan pengorbanan, menjadi inspirasi para pemuja cinta, yang rela mengorbankan hidupnya demi cita-cita absurd yang bertema cinta.

Persis cerita shakespeare tentang Romeo & Juliet yang berujung bunuh diri karena tak sudi menyerah atas perjuangan cintanya, cerita film Titanic tentang Rose DeWitt & Jack Dawson, yang �gagal� mewujudkan cinta mereka dan tenggelam bersama Titanic yang perkasa, cerita epik � romantik ini selalu menjadi contoh khayal para pemujanya, yang selalu mengagungkan cita-cita cinta mereka.

Laskar cinta, rekaan Dhani Ahmad, adalah salah satu lagu yang banyak digandrungi orang karena nada dan liriknya yang seolah meng-kampanyekan keagungan cinta.

Banyak orang yang tergelincir kedalam kekufuran karena api cinta yang menyala-nyala. Banyak orang tersesat dari jalan surga, karena tipu daya syahwat yang berbungkus cinta.

Banyak orang yang termehe-mehe (baca: melankolis, mengurai air mata) ketika mendengarkan lagu-lagu Chrisye bertemakan cinta.

Padahal, cinta sejati seorang muslim adalah cintanya terhadap Allah SWT & Rasul. Apapun yang diperbuatnya, selalu menginginkan pertemuannya dengan Allah &Rasul di akhirat kelak. Cinta yang berlandaskan keimanan, seolah mengorbankan keluhuran jiwa dan kemurnian hati, yang dinamakan cinta. Padahal cinta terhadap kekasih hati, belahan jiwa, tumpuan asa, tidak pernah diharamkan oleh agama. Tetapi itu semua haruslah demi meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Sang Pecipta, Allah Robb Al Amin..

Laila Majnun hanyalah sebuah kisah cinta sepasang manusia biasa, yang mungkin menerpa kita juga. Tak perlu kita mengagungkan perjuangan cintanya karena hal itu sama saja menggugat takdir yang diberikan Allah.

Cinta adalah bumbu kehidupan yang menjadikan indahnya perjalanan hidup manusia.

Cinta bukanlah tujuan dari keberadaan manusia di dunia, bukan pula akhir dari perjuangan di alam fana. Cinta hanyalah kendaraan untuk meraih kebahagiaan sejati, yaitu keridloan Allah untuk mendapatkan surga, yang luasnya seluas bumi dan langit.

Tuesday, 27 October 2009

Ma'ad Badr Al-Islami


Selintas tentang jam’iyah Al Wafa Al Islamiyah
Bogor Indonesia

Jami’iay Al Wafa Al Islamiyah Bogor didirikan untuk mengusung da’wah sunnah berdasarkan manhaj salafus sholih sambil berupaya keras melakukakn proses kaderisasi da’wah untuk menyiapkan tenaga-tenaga muda yg kelak menjadi penerang bagi umat ini. Lembaga ini berdiri pada tanggal 27 Desember 2004 dan berkantor pusat di Bogor Jawa Barat.
Menyadari betapa urgennya proses kaderisasi dakwah, lembaga ini merasa perlu menyiapkan media-media yg mendukung proses tersebut dengan berbagai potensi yang dimilikinya. Oleh karenanya seluruh pimpinan lembaga ini berupaya keras menyiapkan beberapa ma’had dengan ma’had yang semuanya berdomisili di Bogor dan Cianjur Jawa Barat. Pertama Ma’had Yatim Al Wafa Bogor, kedua Ma’had Badr Al Islami sebagai wadah dan pembentuk dan membina para da’I, ketiga Ma’had Putri Al Wafa sebagai media membina para akhwat muslimah menjadi ibu yang sholihah dan sebagai da’iyah bagi komunitas muslimah dilingkungannya. Ketiganya berlokasi di kecamatan Taman Sari Bogor. Dan keempat Ma’had Al Wafa Cianjur Jawa Barat (Ma’had Uhud). Saat ini Jam’iyah Al Wafa sedang membangun sebuah markas dakwah di Lampung, setelah membangun beberapa masjid yang dilengkapi dengan rumah imam di Serang Banten. Dan kedepan Jam’iyah Al Wafa terus berupaya mengasuh anak-anak yatim yang telah kehilangan orang tua mereka dengan membuka ma’had-ma’had yatim di beberapa tempat di Indonesia.
Sesungguhnya Jami’iay Al Wafa Al Islamiyah merupakan lembaga yang bergerak dalam bidah Dakwah, pendidikan dan sosial, dengan berbagai program berkesinambungan yang terjabar dalam kegiatan sebagai berikut :
Mengadakan daurah-daurah Syar’iyah dan da’wiyah secara rutin. Baik yang bersifat internal maupun eksternal.
Pengiriman da’i ke daerah-daerah tertentu untuk menyebarluaskan da’wah sunnah berdasarkan pemahaman salafus sholih.
Penerbitan buku-buku islam dan brosur-brosur dakwah yang bermanhaj salaf.
Mengasuh dan membina anak-anak yatim piatu dalam ma’had yang didesain secara khusus dengan menyediakan semua fasilitas pendukung secara maksimal. Dari makan sehari-hari, pakaian, perlengkapan pribadi, SPP, Laboratorium Bahasa, kendaraan bis untuk rihlah (Tamasya) dan semua kebutuhan sekolah sampai perawatan kesehatan.
Menyiapkan kader da’i dan da’iyah dalam sebuah ma’had yang dirancang khusus dengan kurikulum berbasis kompetensi yang menekankan penguasaan bahasa arab dan hafalan Al-Qura’an.
Membangun masjid dan rumah imam di daerah-daerah yang membutuhkannya. Dan menyipakan imam khusus yang mengelola kemakmuran masjid tersebut.
Mengadakan buka puasa bersama pada bulan Ramadhan.
Pembagian hewan qur’ban
Khitanan massal
Melakukan upaya-upaya semaksimal mungkin untuk mengurangi berbagai bentuk kemungkaran yang menyebar dikalangan masyarakat dengan cara-cara yang hikmah dan elegan.

Tentu saja lembaga ini tidak dapat bergerak dinamis tanpa dukungan dan partisipasi dari para muhsinin yang dengan penuh keikhlasan mendonasikan sebagian harta kekayaan mereka untuk da’wah ini. Dan lembaga ini juga tidak akan mampu meretas jalan da’wah sunnah yang mulia in tanpa dukungan partisipasi dan kerja sama yan baik dengan institusi dan lembaga-lembaga da’wah lainnya yang sama-sama memiliki visi dan misi yang sejalan, yaitu menegakan da’wah ahlus sunnah wal jama’ah berdasarkan pemahaman salafus sholih dan berjuang membendung berbagai bentuk bid’ah dan kemungkaran yang menyebar luas di lingkungan masyarakat.





Wednesday, 7 October 2009

Welut Listrik

Beberapa ratus species ikan memiliki organ penghasil listrik, namun hanya sedikit yang dapat menghasilkan daya listrik yang kuat. Organ penghasil listrik yang dimiliki oleh kebanyakan ikan tersusun dari sel saraf dan sel otot yang telah mengalami perubahan penting. Bentuk organ listrik seperti piringan kecil yang memproduksi lendir disebut elektrosit, tersusun dan menyatu di bagian atas dari susunan lain yang sejajar.
Pada umumnya, semua piringan menghadap arah yang sama yang memuat 150 atau 200 piringan setiap susunannya. Misalnya, pada ikan torpedo terdapat 140 sampai 1000 piringan listrik pada setiap kolom. Pada ikan torpedo yang sangat besar, jumlah seluruh piringan sampai setengah juta. Prinsip kerja piringan listrik ini mirip dengan cara kerja baterai. Ketika ikan beristirahat, otot-otot yang tidak berhubungan belum aktif. Namun jika menerima pesan dari saraf, akan segera bekerja secara serentak untuk mengeluarkan daya listrik. Pada saat itu, voltase semua piringan listrik atau elektrosit menyatu, sehingga mampu menghasilkan daya listrik sampai 220 volt pada ikan torpedo atau sampai 650 volt pada belut listrik.

Pada umumnya semua spesies ikan tawar hanya bersifat listrik ringan, kecuali sembilang listrik dan belut listrik. Ikan listrik yang hidup di laut memiliki tenaga listrik yang lebih kuat dan berbahaya, karena air laut mengandung garam membuat dirinya lebih tahan terhadap arus listrik. Posisi dan bentuk organ listrik ini bervariasi tergantung pada speciesnya.

Selain ikan yang dipersenjatai dengan muatan listrik potensial, ada jenis ikan lain pula yang menghasilkan sinyal bertegangan rendah dua hingga tiga volt. Jika ikan-ikan ini tidak menggunakan sinyal listrik lemah semacam ini untuk berburu atau mempertahankan diri, lalu digunakan untuk apa?

Ikan ini memanfaatkan sinyal lemah ini sebagai alat indera. Allah menciptakan sistem indera dalam tubuh ikan ini, yang menghantarkan dan menerima sinyal-sinyal tersebut.

Ikan ini menghasilkan pancaran listrik dalam suatu alat khusus di ekornya. Listrik ini dipancarkan melalui ribuan pori-pori di punggung makhluk ini dalam bentuk sinyal yang untuk sementara menciptakan medan listrik di sekitarnya. Benda apa pun dalam medan ini membiaskannya, sehingga ikan ini mengetahui ukuran, daya alir dan gerak dari benda tersebut. Pada tubuh ikan ini, ada pengindera listrik yang terus menentukan medan ini seperti halnya radar.

Pendeknya, ikan ini memiliki radar yang memancarkan sinyal listrik dan menerjemahkan perubahan pada medan yang disebabkan oleh benda yang menghambat sinyal-sinyal di sekitar tubuhnya. Ketika kerumitan radar yang digunakan oleh manusia kita renungkan, penciptaan mengagumkan dalam tubuh ikan akan menjadi jelas.

Bentuk tubuh belut listrik unik. Hampir 7/8 bagian tubuhnya berupa ekor. Di bagian ekor inilah terdapat baterai-baterai kecil berupa lempengan-lempengan kecil yang horizontal dan vertikal. Jumlahnya sangat banyak, lebih dari 5.000 buah. Tegangan listrik tiap baterai kecil ini tidak besar, tetapi kalau semua baterai dihubungkan secara berderet (seri), akan diperoleh tegangan listrik sekitar 600 volt (bandingkan dengan batu baterai yang hanya 1,5 volt).

Ujung ekor bertindak sebagai kutub positif baterai dan ujung kepala bertindak sebagai kutub negatif. Belut listrik dapat mengatur hubungan antara baterai kecil dalam tubuhnya itu untuk mendapat tegangan listrik kecil dan tegangan listrik besar.

Untuk navigasi, belut listrik hanya membutuhkan tegangan listrik yang kecil. Tetapi ketika ketemu musuh atau mangsanya, belut listrik akan memberikan tegangan semaksimal mungkin melalui kepala dan ekornya yang ditempelkan pada tubuh musuh atau mangsanya itu. Arus listrik sekitar 1 ampere yang ditimbulkan oleh tegangan listrik yang tinggi ini akan mengalir dan membunuh mereka. Hewan lain tidak terganggu karena mereka tidak bersentuhan langsung dengan ekor dan kepala belut.

Wednesday, 23 September 2009

Daftar buruan

daftar burun download minggu ini...haha

http://www.radiorodja.com/podpress_trac/web/813/0/AbuUsamah_64kb_mp3.zip
http://www.radiorodja.com/podpress_trac/web/813/1/AbuUsamah_925_64kb_mp3.zip

juz 30...
http://www.radiorodja.com/podpress_trac/web/637/0/Murottal_Juz30_Abu_Usamah_64kb_mp3.zip

http://www.radiorodja.com/podpress_trac/web/637/1/Murottal_Juz30_Abu_Usamahb_64kb_mp3.zip

Murottal Muhammad Thaha al Junayd
http://www.radiorodja.com/podpress_trac/web/1446/0/MurottalAlQuranRadioRodja756Am

Thursday, 10 September 2009

Sejarah Sastra

Sastra Indonesia

Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.
Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia.

Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura.
Periodisasi
Sastra Indonesia terbagi menjadi 2 bagian besar, yaitu:
• lisan
• tulisan
Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
• Angkatan Pujangga Lama
• Angkatan Sastra Melayu Lama
• Angkatan Balai Pustaka
• Angkatan Pujangga Baru
• Angkatan 1945
• Angkatan 1950 - 1960-an
• Angkatan 1966 - 1970-an
• Angkatan 1980 - 1990-an
• Angkatan Reformasi
• Angkatan 2000-an
Pujangga Lama
Pujangga lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada masa ini karya satra di dominasi oleh syair, pantun, gurindam dan hikayat. Di Nusantara, budaya Melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat meliputi sebagian besar negara pantai Sumatera dan Semenanjung Malaya. Di Sumatera bagian utara muncul karya-karya penting berbahasa Melayu, terutama karya-karya keagamaan. Hamzah Fansuri adalah yang pertama di antara penulis-penulis utama angkatan Pujangga Lama. Dari istana Kesultanan Aceh pada abad XVII muncul karya-karya klasik selanjutnya, yang paling terkemuka adalah karya-karya Syamsuddin Pasai dan Abdurrauf Singkil, serta Nuruddin ar-Raniri.[1]
Karya Sastra Pujangga Lama
Sejarah
• Sejarah Melayu (Malay Annals)
Hikayat
• Hikayat Abdullah
• Hikayat Aceh
• Hikayat Amir Hamzah
• Hikayat Andaken Penurat
• Hikayat Bayan Budiman
• Hikayat Djahidin
• Hikayat Hang Tuah
• Hikayat Iskandar Zulkarnain
• Hikayat Kadirun • Hikayat Kalila dan Damina
• Hikayat Masydulhak
• Hikayat Pandawa Jaya
• Hikayat Pandja Tanderan
• Hikayat Putri Djohar Manikam
• Hikayat Sri Rama
• Hikayat Tjendera Hasan
• Tsahibul Hikayat
Syair
• Syair Bidasari
• Syair Ken Tambuhan
• Syair Raja Mambang Jauhari
• Syair Raja Siak
Kitab agama
• Syarab al-'Asyiqin (Minuman Para Pecinta) oleh Hamzah Fansuri
• Asrar al-'Arifin (Rahasia-rahasia para Gnostik) oleh Hamzah Fansuri
• Nur ad-Daqa'iq (Cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsuddin Pasai
• Bustan as-Salatin (Taman raja-raja) oleh Nuruddin ar-Raniri
Sastra Melayu Lama
Karya sastra di Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870 - 1942, yang berkembang dilingkungan masyarakat Sumatera seperti "Langkat, Tapanuli, Minangkabau dan daerah Sumatera lainnya", orang Tionghoa dan masyarakat Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam bentuk syair, hikayat dan terjemahan novel barat.
Karya Sastra Melayu Lama
• Robinson Crusoe (terjemahan)
• Lawan-lawan Merah
• Mengelilingi Bumi dalam 80 hari (terjemahan)
• Graaf de Monte Cristo (terjemahan)
• Kapten Flamberger (terjemahan)
• Rocambole (terjemahan)
• Nyai Dasima oleh G. Francis (Indo)
• Bunga Rampai oleh A.F van Dewall
• Kisah Perjalanan Nakhoda Bontekoe
• Kisah Pelayaran ke Pulau Kalimantan
• Kisah Pelayaran ke Makassar dan lain-lainnya
• Cerita Siti Aisyah oleh H.F.R Kommer (Indo)
• Cerita Nyi Paina
• Cerita Nyai Sarikem
• Cerita Nyonya Kong Hong Nio • Nona Leonie
• Warna Sari Melayu oleh Kat S.J
• Cerita Si Conat oleh F.D.J. Pangemanan
• Cerita Rossina
• Nyai Isah oleh F. Wiggers
• Drama Raden Bei Surioretno
• Syair Java Bank Dirampok
• Lo Fen Kui oleh Gouw Peng Liang
• Cerita Oey See oleh Thio Tjin Boen
• Tambahsia
• Busono oleh R.M.Tirto Adhi Soerjo
• Nyai Permana
• Hikayat Siti Mariah oleh Hadji Moekti (indo)
• dan masih ada sekitar 3000 judul karya sastra Melayu-Lama lainnya
Angkatan Balai Pustaka
Angkatan Balai Pusataka merupakan karya sastra di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit Balai Pustaka. Prosa (roman, novel, cerita pendek dan drama) dan puisi mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam dan hikayat dalam khazanah sastra di Indonesia pada masa ini.
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan oleh sastra Melayu Rendah yang banyak menyoroti kehidupan pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu-Tinggi, bahasa Jawa dan bahasa Sunda; dan dalam jumlah terbatas dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
Nur Sutan Iskandar dapat disebut sebagai "Raja Angkatan Balai Pustaka" oleh sebab banyak karya tulisnya pada masa tersebut. Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapatlah dikatakan bahwa novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah "novel Sumatera", dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.[2]
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka
• Merari Siregar
o Azab dan Sengsara (1920)
o Binasa kerna Gadis Priangan (1931)
o Cinta dan Hawa Nafsu
• Marah Roesli
o Siti Nurbaya (1922)
o La Hami (1924)
o Anak dan Kemenakan (1956)
• Muhammad Yamin
o Tanah Air (1922)
o Indonesia, Tumpah Darahku (1928)
o Kalau Dewi Tara Sudah Berkata
o Ken Arok dan Ken Dedes (1934)
• Nur Sutan Iskandar
o Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (1923)
o Cinta yang Membawa Maut (1926)
o Salah Pilih (1928)
o Karena Mentua (1932)
o Tuba Dibalas dengan Susu (1933)
o Hulubalang Raja (1934)
o Katak Hendak Menjadi Lembu (1935) • Tulis Sutan Sati
o Tak Disangka (1923)
o Sengsara Membawa Nikmat (1928)
o Tak Membalas Guna (1932)
o Memutuskan Pertalian (1932)
• Djamaluddin Adinegoro
o Darah Muda (1927)
o Asmara Jaya (1928)
• Abas Soetan Pamoentjak
o Pertemuan (1927)
• Abdul Muis
o Salah Asuhan (1928)
o Pertemuan Djodoh (1933)
• Aman Datuk Madjoindo
o Menebus Dosa (1932)
o Si Cebol Rindukan Bulan (1934)
o Sampaikan Salamku Kepadanya (1935)

Pujangga Baru
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra intelektual, nasionalistik dan elitis.
Pada masa itu, terbit pula majalah Pujangga Baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisjahbana, beserta Amir Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra di Indonesia setelah zaman Balai Pustaka (tahun 1930 - 1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisyahbana dkk. Masa ini ada dua kelompok sastrawan Pujangga baru yaitu :
1. Kelompok "Seni untuk Seni" yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah
2. Kelompok "Seni untuk Pembangunan Masyarakat" yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana, Armijn Pane dan Rustam Effendi.
Penulis dan Karya Sastra Pujangga Baru
• Sutan Takdir Alisjahbana
o Dian Tak Kunjung Padam (1932)
o Tebaran Mega - kumpulan sajak (1935)
o Layar Terkembang (1936)
o Anak Perawan di Sarang Penyamun (1940)
• Hamka
o Di Bawah Lindungan Ka'bah (1938)
o Tenggelamnya Kapal van der Wijck (1939)
o Tuan Direktur (1950)
o Didalam Lembah Kehidoepan (1940)
• Armijn Pane
o Belenggu (1940)
o Jiwa Berjiwa
o Gamelan Djiwa - kumpulan sajak (1960)
o Djinak-djinak Merpati - sandiwara (1950)
o Kisah Antara Manusia - kumpulan cerpen (1953)
• Sanusi Pane
o Pancaran Cinta (1926)
o Puspa Mega (1927)
o Madah Kelana (1931)
o Sandhyakala Ning Majapahit (1933)
o Kertajaya (1932)
• Tengku Amir Hamzah
o Nyanyi Sunyi (1937)
o Begawat Gita (1933)
o Setanggi Timur (1939)
• Roestam Effendi
o Bebasari: toneel dalam 3 pertundjukan
o Pertjikan Permenungan
• Sariamin Ismail
o Kalau Tak Untung (1933)
o Pengaruh Keadaan (1937)
• Anak Agung Pandji Tisna
o Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935)
o Sukreni Gadis Bali (1936)
o I Swasta Setahun di Bedahulu (1938)
• J.E.Tatengkeng
o Rindoe Dendam (1934)
• Fatimah Hasan Delais
o Kehilangan Mestika (1935)
• Said Daeng Muntu
o Pembalasan
o Karena Kerendahan Boedi (1941)
• Karim Halim
o Palawija (1944)

Angkatan 1945
Pengalaman hidup dan gejolak sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan '45. Karya sastra angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga baru yang romantik - idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil Anwar. Sastrawan angkatan '45 memiliki konsep seni yang diberi judul "Surat Kepercayaan Gelanggang". Konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan '45 ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1945
• Chairil Anwar
o Kerikil Tajam (1949)
o Deru Campur Debu (1949)
• Asrul Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
o Tiga Menguak Takdir (1950)
• Idrus
o Dari Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
o Aki (1949)
o Perempuan dan Kebangsaan
• Achdiat K. Mihardja
o Atheis (1949)
• Trisno Sumardjo
o Katahati dan Perbuatan (1952)
• Utuy Tatang Sontani
o Suling (drama) (1948)
o Tambera (1949)
o Awal dan Mira - drama satu babak (1962)
• Suman Hs.
o Kasih Ta' Terlarai (1961)
o Mentjari Pentjuri Anak Perawan (1957)
o Pertjobaan Setia (1940)
Angkatan 1950 - 1960-an
Angkatan 50-an ditandai dengan terbitnya majalah sastra Kisah asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya sastra yang didominasi dengan cerita pendek dan kumpulan puisi. Majalah tersebut bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya, Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis dikalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) yang berkonsep sastra realisme-sosialis. Timbullah perpecahan dan polemik yang berkepanjangan diantara kalangan sastrawan di Indonesia pada awal tahun 1960; menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karena masuk kedalam politik praktis dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1950 - 1960-an
• Pramoedya Ananta Toer
o Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)
o Bukan Pasar Malam (1951)
o Di Tepi Kali Bekasi (1951)
o Keluarga Gerilya (1951)
o Mereka yang Dilumpuhkan (1951)
o Perburuan (1950)
o Cerita dari Blora (1952)
o Gadis Pantai (1965)
• Nh. Dini
o Dua Dunia (1950)
o Hati jang Damai (1960)
• Sitor Situmorang
o Dalam Sadjak (1950)
o Djalan Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
o Pertempuran dan Saldju di Paris (1956)
o Surat Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
o Wadjah Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
• Mochtar Lubis
o Tak Ada Esok (1950)
o Jalan Tak Ada Ujung (1952)
o Tanah Gersang (1964)
o Si Djamal (1964)
• Marius Ramis Dayoh
o Putra Budiman (1951)
o Pahlawan Minahasa (1957)
• Ajip Rosidi
o Tahun-tahun Kematian (1955)
o Ditengah Keluarga (1956)
o Sebuah Rumah Buat Hari Tua (1957)
o Cari Muatan (1959)
o Pertemuan Kembali (1961)
• Ali Akbar Navis
o Robohnya Surau Kami - 8 cerita pendek pilihan (1955)
o Bianglala - kumpulan cerita pendek (1963)
o Hujan Panas (1964)
o Kemarau (1967)
• Toto Sudarto Bachtiar
o Etsa sajak-sajak (1956)
o Suara - kumpulan sajak 1950-1955 (1958)
• Ramadhan K.H
o Priangan si Jelita (1956)
• W.S. Rendra
o Balada Orang-orang Tercinta (1957)
o Empat Kumpulan Sajak (1961)
o Ia Sudah Bertualang (1963)
• Subagio Sastrowardojo
o Simphoni (1957)
• Nugroho Notosusanto
o Hujan Kepagian (1958)
o Rasa Sajangé (1961)
o Tiga Kota (1959)
• Trisnojuwono
o Angin Laut (1958)
o Dimedan Perang (1962)
o Laki-laki dan Mesiu (1951)
• Toha Mochtar
o Pulang (1958)
o Gugurnya Komandan Gerilya (1962)
o Daerah Tak Bertuan (1963)
• Purnawan Tjondronagaro
o Mendarat Kembali (1962)
• Bokor Hutasuhut
o Datang Malam (1963)

Angkatan 1966 - 1970-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison (majalah sastra) pimpinan Mochtar Lubis.[3] Semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbit Pustaka Jaya sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini. Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini adalah Motinggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur Rasuanto, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk paus sastra Indonesia, H.B. Jassin.
Beberapa satrawan pada angkatan ini antara lain: Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C. Noer, Darmanto Jatman, Arief Budiman, Goenawan Mohamad, Budi Darma, Hamsad Rangkuti, Putu Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail dan banyak lagi yang lainnya.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1966
• Taufik Ismail
o Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia
o Tirani dan Benteng
o Buku Tamu Musim Perjuangan
o Sajak Ladang Jagung
o Kenalkan
o Saya Hewan
o Puisi-puisi Langit
• Sutardji Calzoum Bachri
o O
o Amuk
o Kapak
• Abdul Hadi WM
o Meditasi (1976)
o Potret Panjang Seorang Pengunjung Pantai Sanur (1975)
o Tergantung Pada Angin (1977)
• Sapardi Djoko Damono
o Dukamu Abadi (1969)
o Mata Pisau (1974)
• Goenawan Mohamad
o Parikesit (1969)
o Interlude (1971)
o Potret Seorang Penyair Muda Sebagai Si Malin Kundang (1972)
o Seks, Sastra, dan Kita (1980)
• Umar Kayam
o Seribu Kunang-kunang di Manhattan
o Sri Sumarah dan Bawuk
o Lebaran di Karet
o Pada Suatu Saat di Bandar Sangging
o Kelir Tanpa Batas
o Para Priyayi
o Jalan Menikung
• Danarto
o Godlob
o Adam Makrifat
o Berhala
• Nasjah Djamin
o Hilanglah si Anak Hilang (1963)
o Gairah untuk Hidup dan untuk Mati (1968)
• Putu Wijaya
o Bila Malam Bertambah Malam (1971)
o Telegram (1973)
o Stasiun (1977)
o Pabrik
o Gres
o Bom
• Djamil Suherman
o Perjalanan ke Akhirat (1962)
o Manifestasi (1963)
• Titis Basino
o Dia, Hotel, Surat Keputusan (1963)
o Lesbian (1976)
o Bukan Rumahku (1976)
o Pelabuhan Hati (1978)
o Pelabuhan Hati (1978)
• Leon Agusta
o Monumen Safari (1966)
o Catatan Putih (1975)
o Di Bawah Bayangan Sang Kekasih (1978)
o Hukla (1979)
• Iwan Simatupang
o Ziarah (1968)
o Kering (1972)
o Merahnya Merah (1968)
o Keong (1975)
o RT Nol/RW Nol
o Tegak Lurus Dengan Langit
• M.A Salmoen
o Masa Bergolak (1968)
• Parakitri Tahi Simbolon
o Ibu (1969)
• Chairul Harun
o Warisan (1979)
• Kuntowijoyo
o Khotbah di Atas Bukit (1976)
• M. Balfas
o Lingkaran-lingkaran Retak (1978)
• Mahbub Djunaidi
o Dari Hari ke Hari (1975)
• Wildan Yatim
o Pergolakan (1974)
• Harijadi S. Hartowardojo
o Perjanjian dengan Maut (1976)
• Ismail Marahimin
o Dan Perang Pun Usai (1979)
• Wisran Hadi
o Empat Orang Melayu
o Jalan Lurus

Angkatan 1980 - 1990-an
Karya sastra di Indonesia pada kurun waktu setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya sastra Indonesia pada masa angkatan ini tersebar luas diberbagai majalah dan penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili angkatan dekade 1980-an ini antara lain adalah: Remy Sylado, Yudistira Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Ajidarma, Pipiet Senja, Kurniawan Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Effendi Tarsyad, Noor Aini Cahya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Hiroko, La Barka, Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya barat, di mana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya, tokoh utama dalam novel mereka adalah wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-karya pada era 1980-an biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era 1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijaya dengan serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas Wanita Penulis Indonesia yang dikomandani Titie Said, antara lain: La Rose, Lastri Fardhani, Diah Hadaning, Yvonne de Fretes, dan Oka Rusmini.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 1980
• Ahmadun Yosi Herfanda
o Ladang Hijau (1980)
o Sajak Penari (1990)
o Sebelum Tertawa Dilarang (1997)
o Fragmen-fragmen Kekalahan (1997)
o Sembahyang Rumputan (1997)
• Y.B Mangunwijaya
o Burung-burung Manyar (1981)
• Darman Moenir
o Bako (1983)
o Dendang (1988)
• Budi Darma
o Olenka (1983)
o Rafilus (1988)
• Sindhunata
o Anak Bajang Menggiring Angin (1984)
• Arswendo Atmowiloto
o Canting (1986)
• Hilman Hariwijaya
o Lupus - 28 novel (1986-2007)
o Lupus Kecil - 13 novel (1989-2003)
o Olga Sepatu Roda (1992)
o Lupus ABG - 11 novel (1995-2005)
• Dorothea Rosa Herliany
o Nyanyian Gaduh (1987)
o Matahari yang Mengalir (1990)
o Kepompong Sunyi (1993)
o Nikah Ilalang (1995)
o Mimpi Gugur Daun Zaitun (1999)
• Gustaf Rizal
o Segi Empat Patah Sisi (1990)
o Segi Tiga Lepas Kaki (1991)
o Ben (1992)
o Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
• Remy Sylado
o Ca Bau Kan (1999)
o Kerudung Merah Kirmizi (2002)
Angkatan Reformasi
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaan politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Megawati Sukarnoputri, muncul wacana tentang "Sastrawan Angkatan Reformasi". Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel, yang bertema sosial-politik, khususnya seputar reformasi. Di rubrik sastra harian Republika misalnya, selama berbulan-bulan dibuka rubrik sajak-sajak peduli bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan Angkatan Reformasi merefleksikan keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring dengan jatuhnya Orde Baru. Proses reformasi politik yang dimulai pada tahun 1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra -- puisi, cerpen, dan novel -- pada saat itu. Bahkan, penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema sosial politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda, Acep Zamzam Noer, dan Hartono Benny Hidayat, juga ikut meramaikan suasana dengan sajak-sajak sosial-politik mereka.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
• Widji Thukul
o Puisi Pelo
o Darman
Angkatan 2000-an
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan Angkatan Reformasi muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karena tidak memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar wacana tentang lahirnya "Sastrawan Angkatan 2000". Sebuah buku tebal tentang Angkatan 2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002. Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan Korrie ke dalam Angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak 1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmadun Yosi Herfanda dan Seno Gumira Ajidarma, serta yang muncul pada akhir 1990-an, seperti Ayu Utami dan Dorothea Rosa Herliany.
Penulis dan Karya Sastra Angkatan 2000
• Ayu Utami
o Saman (1998)
o Larung (2001)
• Seno Gumira Ajidarma
o Atas Nama Malam
o Sepotong Senja untuk Pacarku
o Biola Tak Berdawai
• Dewi Lestari
o Supernova 1: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001)
o Supernova 2.1: Akar (2002)
o Supernova 2.2: Petir (2004)
• Habiburrahman El Shirazy
o Ayat-Ayat Cinta (2004)
o Diatas Sajadah Cinta (2004)
o Ketika Cinta Berbuah Surga (2005)
o Pudarnya Pesona Cleopatra (2005)
o Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007)
o Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007)
o Dalam Mihrab Cinta (2007)
• Andrea Hirata
o Laskar Pelangi (2005)
o Sang Pemimpi (2006)
o Edensor (2007)
o Maryamah Karpov (2008)
Cybersastra
Era internet memasuki komunitas sastra di Indonesia. Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasi berupa buku namun termaktub di dunia maya (Internet), baik yang dikelola resmi oleh pemerintah, organisasi non-profit, maupun situs pribadi. Ada beberapa situs Sastra Indonesia di dunia maya.
Pranala luar
• http://www.sumpahpalapa.com/ (lihat link sastra)
• http://www.geocities.com/tumpal_feui/CIPTA.html
• http://www.cybersastra.net/
• Sastra Romantis dari Jogja
Referensi
1. ^ Ricklefs, M.C. (1991). A History of Modern Indonesia 1200-2004. London: MacMillan.
2. ^ Mahayana, Maman S, Oyon Sofyan (1991). Ringkasan dan Ulasan Novel Indonesia Modern. Jakarta: Grasindo.
3. ^ Yudiono (2007). Pengantar Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Grasindo.

Friday, 4 September 2009

Suratku Untukmu 2

Kepada yang tercinta,

Bundaku yang tersayang


Segala puji bagi Allah ta’ala yang telah memuliakan kedudukan kedua orang tua, dan telah menjadikan mereka berdua sebagai pintu tengah menuju surga. Shalawat serta salam, hamba yang lemah ini panjatkan keharibaan Nabi yang mulia, keluarga serta para sahabatnya hingga hari kiamat. Amin…


Ibu… aku terima suratmu yang engkau tulis dengan tetesan air mata dan duka, dan aku telah membacanya, ya aku telah mengejanya kata demi kata… tidak ada satu huruf pun yang aku terlewatkan.

Tahukah engkau, wahai Ibu, bahwa aku membacanya semenjak shalat Isya’ dan baru selesai membacanya setelah ayam berkokok, fajar telah terbit dan adzan pertama telah dikumandangkan. .? Sebenarnyalah surat yang engkau tulis tersebut jika ditaruhkan di atas batu, tentu ia akan pecah, sekiranya diletakkan ke atas daun yang hijau tentu dia akan kering. Sebenarnyalah surat yang engkau tulis tersebut tidak tersudu oleh itik dan tidak tertelan oleh ayam. Sebenarnyalah bahwa suratmu itu bagiku bagaikan petir kemurkaan… bagaikan awan kaum Tsamud yang datang berarak yang telah siap dimuntahkan kepadaku…

Ibu…

Aku baca suratmu, sedangkan air mataku tidak pernah berhenti.. Bagaimana tidak, sekiranya surat itu ditulis oleh orang yang bukan ibu dan ditujukan pula bukan kepadaku, layaklah orang mempunyai hati yang keras ketika membaca surat itu menangis sejadi-jadinya. Bagaimana kiranya yang menulis itu adalah bunda dan surat itu ditujukan untuk diriku sendiri..

Aku sering membaca kisah dan cerita sedih, tidak terasa bantal yang dijadikan tempat bersandar telah basah karena air mata, aku juga sering menangis melihat tangisnya anak yatim atau menitikkan air mata melihat sengsaranya hidup si miskin. Aku acap kali tersentuh dengan suasana yang haru dan keadaan yang memilukan, bahkan pada binatang sekalipun. Bagaimana pula dengan surat yang ibu tulis itu..? Ratapan yang bukan ibu karang atau sebuah drama yang ibu perankan..? Akan tetapi dia adalah sebuah kenyataan…

Suratku Untukmu 1

Anakku…,surat ini datang dari ibumu yang selalu dirundung sengsara. Ia coba untuk menulis di atas keraguan dan rasa malu. Setelah berfikir panjang, ia goreskan pena berulang kali akan tetapi selalu terhalang oleh tangis dan setiap kali menitikkan air mata, setiap itu pula hatinya terluka.


Anakku… setelah umur yang panjang ini, kulihat engkau telah menjadi laki-laki yang dewasa, cerdas, dan bijak. Karenanya engkau pantas untuk membaca tulisan ibu ini. Sekalipun nantinya engkau sobek sebagaimana sebelumnya engkau telah menyobek hati ibumu.
Wahai anakku…25 thn berlalu dan tahun2 itu adalah tahun2 kebahagiaan dalam hidupku. Ketika itu dokter memberitahukanku bahwa aku positif hamil dan semua para ibu mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur gembira bersama bahagia sebagaimana ia adalah awal mula perubahan fisik dan emosi. Setelah kabar gembira tersebut, aku membawamu 9 bulan. Tidur dalam kesulitan, berdiri dalam kesulitan, makan dalam kesulitan, bernapas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidaklah mengurangi rasa cinta dan kasih sayangku padamu. Bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu. Aku mengandungmu wahai anakku dalam kondisi lemah di atas lemah. Akan tetapi aku gembira setiap kali aku melihat gerakanmu didalam perutku. Aku gembira setiap kali aku menimbang tubuhku bertambah dgn bertambah berat badanmu padahal kandungan itu sangat berat wahai anakku.
Penderitaan yang berkepanjangan itu, telah sampai ketika fajar malam itu yaitu ketika mata ini tdk bisa dipicingkan. Aku merasakan sakit yg tidak tertahankan dan takut yang tidak bisa dilukiskan. Sakit itu terus berlanjut shg aku tdk lagi menangis. sebanyak itu pula aku melihat kemaitian dihadapanku sampai engkau benar2 keluar ke alam dunia. Ketika aku melihat engkau keluar ke alam dunia, bercampur air mata kebahagiaanku dengan air mata tangismu. Dengan itu semua telah sirna, semua keletihan dan kesedihanku. Bahkan kasihku bertambah dgn kuatnya sakitku. Aku peluk cium dirimu sebelum aku meneguk setetes air.
Wahai anakku, telah berlalu tahun dan usiamu sedangkan aku membawamu dengan hatiku, memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku, memberi saripati hidupku padamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, aku berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya agar aku melihat senyumanmu. Setiap harinya aku berharap bahwa engkau tersenyum. Kebahagiaanku setiap saat, yang aku harapkan adalah permintaan dari mulut mungilmu agar aku berbuat sesuatu untukmu. Itulah kebahagiaanku di hari2 masa kecilmu. Lalu berlalulah hari..sedangkan aku setia menjadi pelayan yg tidak pernah lalai, dayang yg tidak pernah berhenti, pekerja yg tidak pernah mengenal lelah. Mendo’akan selalu kebaikan dan taufik untukmu. Itu semua aku perhatikan dirimu dari hari ke hari sampai engkau dewasa. Telah tegak pula badanmu. Telah nampak jiwa laki-lakimu pada tingkah laku dan keseharianmu. Saat itu pula aku melirik ke kiri dan ke kanan agar engkau mendapat pasangan hidup. Datanglah hari perkawinanmu wahai anakku…berarti hampir dekat pula kepergianmu dariku. Tatkala itu hatiku serasa teriris, air mataku mengalir bercampur kebahagiaan dengan kesedihan. Bagaimana tidak, aku bahagia karena engkau akan mendapat pasangan akan tetapi bersamaan dengan itu aku sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.
Waktu pun berlalu…seakan-akan menyeretnya dengan berat. Kiranya, setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu. Waktu sudah berlalu…setelah engkau menikah, setelah engkau berkeluarga, setelah engkau bawa istri dan anak-anakmu dari rumahku. Waktu bagiku serasa lama, sangat lamban. Perkawinan itu menyebabkan engkau tidak lagi mengenal diriku. Senyummu telah sirna dihadapanku sebagaimana sirnanya matahari ditutupi oleh kegelapan malam. Suaramu telah tenggelam sebagaimana tenggelamnya batu dijatuhkan ke dalam kolam yang sunyi dan kelam. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau benar-benar melupakanku dan melupakan hakku.

Friday, 28 August 2009

my little brother.....

aduuuhh...adikku yang lucu....


Cerita dikit tentang sastra

*Haji Abdul Malik bin Karim Amrullah*, atau lebih dikenal dengan *HAMKA*.
Sebuah singkatan yang cerdas. (jauh mendahului singkatan zaman sekarang
seperti "SBY"). Beliau dilahirkan 15 Februari 1908, artinya kurang lebih 100
tahun yang lampau...

Buya begitu biasa orang memanggilnya banyak sekali menelurkan karya2
fenomenal, mulai dari karya sastra, filsafat, apalagi masalah-masalah agama
seperti aqidah, fikih, dan tasauf. Beliau adalah ulama yang ilmuan dan
sekaligus ilmuwan yang ulama... (Lho bukannya ilmuwan dan ulama berasal dari
kata yg sama? 'ilm' artinya ilmu, orang berilmu 'alim' jamaknya ulama.
Ilmuwan juga orang berilmu? Ah, entahlah yang jelas dalam bahasa Indonesia
memang keduanya bermakna beda...)


Dua buah roman cinta karya beliau "*Dibawah Lindungan Ka'bah*", dan
"*Tenggelamnya
kapal Van Der Vijk*", ceritanya yang berisi kisah cinta abadi, sungguh
menyentuh dan mengharukan. Entah kenapa kisah cinta dalam karya2 beliau
cenderung berakhir tragis. Sehingga menimbulkan rasa haru yang dalam. Yang
menarik, karya2 beliau selalu menampilkan surat2 cinta itu secara panjang
lebar, dengan bahasa yang indah...

Buku2 beliau di bidang agama jangan ditanya lagi, namun ada satu karya yang
sangat monemuntal, yaitu "*Tafsir Al-Azhar*", yang barangkali merupakan
tafsir Quran karya bangsa Indonesia yang pertama dalam bahasa Indonesia.
Memang ada juga tafsir karya Ulama sebelumnya seperti *Tafsir
Al-Ibriz*karya KH Bisri Mustafa (ayahanda KH Mustafa Bisri), namun
karya ini
menggunakan bahasa Jawa Pegon. Tafsir Al-Azhar ini memang lain dari yang
lain, selain bercorak kontekstual, yaitu mengkaitkan dengan kejadian dalam
konteks kekinian, juga sangat sastrawi. Bahasanya indah, dan sering
menggunakan aspek2 sastra, seperti syair pepatah. Tafsir Al-Azhar buya
selesaikan di dalam penjara, ketika Presiden Soekarno (saat itu)
memenjarakan beliau karena pandangan2nya yang tidak sejalan.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan Buya menjadi seorang yang sangat
istimewa di Negara ini :

*Pertama*, ilmu beliau didapat secara otodidak. Namun, keilmuannya tidak
dipungkiri melebihi, paling tidak setara, dengan yang diperoleh dari
universitas. Gelas Doktor HC (dari Universitas Al-Azhar) dan profesornya
menunjukkan diakuinya keilmuwan beliau. Ini mengajarkan, untuk selalu
belajar dari diri sendiri walau harus sendiri. Karena ilmu adalah milik kaum
beriman, apa pun ilmu itu...

*Kedua*, kemampuan beliau untuk meletakkan agama secara proporsional.Beliau
sering memberi jalan tengah atas berbagai kecenderungan. Misalnya antara
kecenderungan rasionalis dan literalis atau anti dan pro tasauf. Beliau
adalah ulama yang sangat rasional, namun selalu berpijak pada aspek2
tekstual. Terhadap tasauf, misalnya, beliau memberi jalan tengah antara
kelompok anti tasauf, yang kebanyakan dari kalangan modernis, dan
pro-tasauf, yang kebanyakan dari kaum tradisional. Beliau memberi nama itu
sebagai "tasauf modern".

*Ketiga*, kemampuan beliau meramu berbagai ilmu secara indah dalam Islam.
Kalau kita membaca buku2 beliau, nampak sekali nuansa keluasan ilmu beliau
dalam mengkaji sesuatu. Khusus terhadap ilmu sastra beliau adalah salah satu
pelopor sastra Islami di Indonesia. Sesuatu yang tidak banyak dimiliki oleh
ulama di Indonesia.

*Keempat*, beliau adalah ulama yang sangat terbuka kepada semua pemikiran.
Kalau kita baca Tafsir Al-Azhar, misalnya, beliau tidak ragu2 menyebut
pendapat kalangan lain seperti Syiah, misalnya. Dan analisis beliau bukanlah
dalam rangka menyesatkan mereka.

*Kelima*, beliau adalah ulama yang konsisten terhadap pendapatnya, walau
harus menerima akibatnya. Seperti ditahan oleh Presiden Sukarno... Atau yang
terkenal, adalah memilih mengundurkan diri dari jabatan ketua MUI, ketika
harus merubah fatwa tentang Natal Bersama. Ini menjadi simbol sikap
istiqamah hingga kini...

*Keenam*, sikap toleran beliau terhadap berbagai masalah khilafiah. Beliau
adalah seorang ulama Muhamadiyah. Namun, kalau kita baca buku2 beliau,
nampak bahwa beliau sangat terbuka dan toleran terhadap masalah khilafiah.
Masalah qunut, lafal ushali, adzan dua kali dalam shalat jumat, segala
macam, tidaklah menjadi tema bagi beliau untuk saling membid'ahkan, atau
menyesatkan, seperti sebagian orang belakangan ini.

Malah, kalau kita baca di tablod "Dialog Jumat" Republika tanggal 15-02-08.
Dalam salah satu kolom, terdapat beberapa kisah toleransi beliau. Di
antaranya, ketika memimpin shalat shubuh, menanyakan dulu kepada jamaah mau
pakai qunut atau tidak? Jika jamaah menginginkan pakai, beliau akan memakai
qunut. Ketika beliau mengundang *KH Abdullah Syafi'i* (tokoh Nahdliyin)
sebagai khatib, adzan jumat dilakukan dua kali...

Karenanya, menurut saya, apa pun mazhab kita... Kita tetap bisa belajar dari
ulama besar dari Minang ini, Buya HAMKA... Semoga Allah merahmati beliau,
dan menempatkan beliau di tempat yang mulia di sisi Allah SWT... Amien..

*Berikut petikan beberapa Komentar mengenai Beliau:*

------------------------------

Wah saya hanya bisa menulis Buya Hamka dimata Ayah saya, boleh kah?

Ayah saya ulama Perti, sedangkan buya Hamka orang Muhammadiyah. Tetapi di
rumah, beliau selalu bercerita tentang sosok buya Hamka yang santun tidak
seperti kebanyakan generasi muhammadiyah kala itu yang merasa diri lebih
moderat dari orang Perti. Kata ayahku, belajarlah ke pada Hamka jangan lihat
anak-anak muhammadiyah yang kebanyakan BANGANG itu. Di rumah kami juga
banyak sekali koleksi karya buya Hamka. Sampai-sampai beberapa orang
berbisik kalau ayah saya seorang Perti yang muhammdiyin heheh.

------------------------------

Assalamu'alaikum...

bagi Buya, bukan kelompok-kelompok itu yg terpenting, tapi Islam..

Beliau memang selalu toleran, rendah hati..dan bahkan bertanya ke Jama'ah,
apakah subuh mau qunut atau tidak..atau taraweh mau 11 raka'at dgn witir
atau 23 raka'at...

Pokok pemikiran beliau adalah bagaimana anak muda itu menyenangi Islam
secara mendalam..Luar biasa memang

Gak kayak orang2 sekarang yg lebih mementingkan kelompoknya..hehehe

mhn maaf

------------------------------

assalamu'alaikum..

Buya, begitu panjang dan berliku pengalaman spiritualmu..pahit dan getir
adalah sama nilainya,cinta dan benci hanyalah sebuah rasa,kau tuliskan
karya2 mu begitu indah dan menyentuh jiwa..

Akhirnya, satu kata adalah "Damai Dunia"..

Kutuliskan untukmu di sudut malam yang sunyi teriring doa kutitipkan pada
NYA....

------------------------------

Buya Hamka teman ayah saya Andjar Asmara demi kebenaran dan keadilan buya
sanggup dipenjarakan oleh Soekarno,saya salut.. beliau adalah insan yang
satu kata dan perbuatan.Mudah2an arwahnya mendapatkan tempat yang terbaik
disisi Allah SWT.

------------------------------

Pramoedya ananta toer sering menjelek2kan karangan2 buya, kadang mengandung
fitnah. Soekarno pernah mempenjarakan beliau...namun semua itu tidak
meninggalkan dendam dihati beliau, bahkan disaat pramoedya ananta toer ingin
memiliki menantu seorang muallaf,pramoedya ananta toer menyuruh calon
menantunya tersebut belajar agama islam kepada beliau dan disambut dengan
tangan terbuka. Dan juga saat soekarno meninggal, beliaulah yang menjadi
imam saat jenazahnya dishalatkan..

ulama yang berbudi luhur....

------------------------------

inget buya hamka inget sayid qutb sama2 menghasilkan karya tafsir dibalik
jeruji besi.... subhanalloh

------------------------------

di dalam diri Seorang ulama menampilkan berbagai visi dalam manfaat, namun
semua tergantung pada setiap umat dalam menafsirkan, penafsiran yang keliru
akan mampu menyesatkan aqidah umat itu sendiri, sosok Buya HAMKA dengan
multi karakter akan disertai berbagai penafsiran dan sikap yang terilhami,
namun untuk mempersempit penafsiran namun tidak menjebak kearah ke khufuran
maka pandanglah dari apa yang pernah beliau lakukan dalam upaya syiar Islam
itu sendiri serta karya-karya besarnya yang sangat-sangat bermanfaat bagi
umat, Buya itu sendiri menggambarkan seorang pejuang dalam agama namun
memiliki kecerdasan bak ilmuwan, dengan ide dan tulisannya menjadi ilham
bagi banyak orang, Buya Kau Pantas mendapatkan yang Terbaik di Sisi Allah
SWT

------------------------------

dengan kemampuannya menguasai 12 macam ilmu tentang penafsiran AL QUR'AN
maka tafsir AL AZHAR yang beliau tulis dapat diyakini
kesahihannya..Indonesia membutuhkan kembali sosok seperti buya untuk kita
belajar bahwa mendebatkan perbedaan mahzab dalam Islam hanya akan membawa
Islam kedalam perpecahan..satu hal yang sangat diinginkan oleh agama lain
diluar Islam..

Wednesday, 24 June 2009

Sejarah Singkat Imam Malik

Dalam sebuah kunjungan ke kota Madinah, Khalifah Bani Abbasiyyah, Harun Al Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti ceramah al muwatta' (himpunan hadits) yang diadakan Imam Malik. Untuk hal ini, khalifah mengutus orang memanggil Imam. Namun Imam Malik memberikan nasihat kepada Khalifah Harun, ''Rasyid, leluhur Anda selalu melindungi pelajaran hadits. Mereka amat menghormatinya. Bila sebagai khalifah Anda tidak menghormatinya, tak seorang pun akan menaruh hormat lagi. Manusia yang mencari ilmu, sementara ilmu tidak akan mencari manusia.''



Sedianya, khalifah ingin agar para jamaah meninggalkan ruangan tempat ceramah itu diadakan. Namun, permintaan itu tak dikabulkan Imam Malik. ''Saya tidak dapat mengorbankan kepentingan umum hanya untuk kepentingan seorang pribadi.'' Sang khalifah pun akhirnya mengikuti ceramah bersama dua putranya dan duduk berdampingan dengan rakyat kecil.

Imam Malik yang bernama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir bin Amr bin Haris bin Gaiman bin Kutail bin Amr bin Haris al Asbahi, lahir di Madinah pada tahun 712 M dan wafat tahun 796 M. Berasal dari keluarga Arab terhormat, berstatus sosial tinggi, baik sebelum maupun sesudah datangnya Islam. Tanah asal leluhurnya adalah Yaman, namun setelah nenek moyangnya menganut Islam, mereka pindah ke Madinah. Kakeknya, Abu Amir, adalah anggota keluarga pertama yang memeluk agama Islam pada tahun 2 H. Saat itu, Madinah adalah kota ilmu yang sangat terkenal.

Kakek dan ayahnya termasuk kelompok ulama hadits terpandang di Madinah. Karenanya, sejak kecil Imam Malik tak berniat meninggalkan Madinah untuk mencari ilmu. Ia merasa Madinah adalah kota dengan sumber ilmu yang berlimpah lewat kehadiran ulama-ulama besarnya.

Kendati demikian, dalam mencari ilmu Imam Malik rela mengorbankan apa saja. Menurut satu riwayat, sang imam sampai harus menjual tiang rumahnya hanya untuk membayar biaya pendidikannya. Menurutnya, tak layak seorang yang mencapai derajat intelektual tertinggi sebelum berhasil mengatasi kemiskinan. Kemiskinan, katanya, adalah ujian hakiki seorang manusia.

Karena keluarganya ulama ahli hadits, maka Imam Malik pun menekuni pelajaran hadits kepada ayah dan paman-pamannya. Kendati demikian, ia pernah berguru pada ulama-ulama terkenal seperti Nafi' bin Abi Nuaim, Ibnu Syihab az Zuhri, Abul Zinad, Hasyim bin Urwa, Yahya bin Said al Anshari, dan Muhammad bin Munkadir. Gurunya yang lain adalah Abdurrahman bin Hurmuz, tabi'in ahli hadits, fikih, fatwa dan ilmu berdebat; juga Imam Jafar Shadiq dan Rabi Rayi.

Dalam usia muda, Imam Malik telah menguasai banyak ilmu. Kecintaannya kepada ilmu menjadikan hampir seluruh hidupnya diabdikan dalam dunia pendidikan. Tidak kurang empat khalifah, mulai dari Al Mansur, Al Mahdi, Hadi Harun, dan Al Ma'mun, pernah jadi murid Imam Malik. Ulama besar, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i pun pernah menimba ilmu dari Imam Malik. Belum lagi ilmuwan dan para ahli lainnya. Menurut sebuah riwayat disebutkan murid terkenal Imam Malik mencapai 1.300 orang.

Ciri pengajaran Imam Malik adalah disiplin, ketentraman, dan rasa hormat murid kepada gurunya. Prinsip ini dijunjung tinggi olehnya sehingga tak segan-segan ia menegur keras murid-muridnya yang melanggar prinsip tersebut. Pernah suatu kali Khalifah Mansur membahas sebuah hadits dengan nada agak keras. Sang imam marah dan berkata, ''Jangan melengking bila sedang membahas hadits Nabi.''

Ketegasan sikap Imam Malik bukan sekali saja. Berulangkali, manakala dihadapkan pada keinginan penguasa yang tak sejalan dengan aqidah Islamiyah, Imam Malik menentang tanpa takut risiko yang dihadapinya. Salah satunya dengan Ja'far, gubernur Madinah. Suatu ketika, gubernur yang masih keponakan Khalifah Abbasiyah, Al Mansur, meminta seluruh penduduk Madinah melakukan bai'at (janji setia) kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang saat itu baru berusia 25 tahun merasa tak mungkin penduduk Madinah melakukan bai'at kepada khalifah yang mereka tak sukai.

Ia pun mengingatkan gubernur tentang tak berlakunya bai'at tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya perceraian paksa. Ja'far meminta Imam Malik tak menyebarluaskan pandangannya tersebut, tapi ditolaknya. Gubernur Ja'far merasa terhina sekali. Ia pun memerintahkan pengawalnya menghukum dera Imam Malik sebanyak 70 kali. Dalam kondisi berlumuran darah, sang imam diarak keliling Madinah dengan untanya. Dengan hal itu, Ja'far seakan mengingatkan orang banyak, ulama yang mereka hormati tak dapat menghalangi kehendak sang penguasa.

Namun, ternyata Khalifah Mansur tidak berkenan dengan kelakuan keponakannya itu. Mendengar kabar penyiksaan itu, khalifah segera mengirim utusan untuk menghukum keponakannya dan memerintahkan untuk meminta maaf kepada sang imam. Untuk menebus kesalahan itu, khalifah meminta Imam Malik bermukim di ibukota Baghdad dan menjadi salah seorang penasihatnya. Khalifah mengirimkan uang 3.000 dinar untuk keperluan perjalanan sang imam. Namun, undangan itu pun ditolaknya. Imam Malik lebih suka tidak meninggalkan kota Madinah. Hingga akhir hayatnya, ia tak pernah pergi keluar Madinah kecuali untuk berhaji.

Pengendalian diri dan kesabaran Imam Malik membuat ia ternama di seantero dunia Islam. Pernah semua orang panik lari ketika segerombolan Kharijis bersenjatakan pedang memasuki masjid Kuffah. Tetapi, Imam Malik yang sedang shalat tanpa cemas tidak beranjak dari tempatnya. Mencium tangan khalifah apabila menghadap di baliurang sudah menjadi adat kebiasaan, namun Imam Malik tidak pernah tunduk pada penghinaan seperti itu. Sebaliknya, ia sangat hormat pada para cendekiawan, sehingga pernah ia menawarkan tempat duduknya sendiri kepada Imam Abu Hanifah yang mengunjunginya.




Dari Al Muwatta' Hingga Madzhab Maliki

Al Muwatta' adalah kitab fikih berdasarkan himpunan hadits-hadits pilihan. Santri mana yang tak kenal kitab yang satu ini. Ia menjadi rujukan penting, khususnya di kalangan pesantren dan ulama kontemporer. Karya terbesar Imam Malik ini dinilai memiliki banyak keistimewaan. Ia disusun berdasarkan klasifikasi fikih dengan memperinci kaidah fikih yang diambil dari hadits dan fatwa sahabat.

Menurut beberapa riwayat, sesungguhnya Al Muwatta' tak akan lahir bila Imam Malik tidak 'dipaksa' Khalifah Mansur. Setelah penolakan untuk ke Baghdad, Khalifah Al Mansur meminta Imam Malik mengumpulkan hadits dan membukukannya. Awalnya, Imam Malik enggan melakukan itu. Namun, karena dipandang tak ada salahnya melakukan hal tersebut, akhirnya lahirlah Al Muwatta'. Ditulis di masa Al Mansur (754-775 M) dan baru selesai di masa Al Mahdi (775-785 M).

Dunia Islam mengakui Al Muwatta' sebagai karya pilihan yang tak ada duanya. Menurut Syah Walilullah, kitab ini merupakan himpunan hadits paling shahih dan terpilih. Imam Malik memang menekankan betul terujinya para perawi. Semula, kitab ini memuat 10 ribu hadits. Namun, lewat penelitian ulang, Imam Malik hanya memasukkan 1.720 hadits. Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa dengan 16 edisi yang berlainan. Selain Al Muwatta', Imam Malik juga menyusun kitab Al Mudawwanah al Kubra, yang berisi fatwa-fatwa dan jawaban Imam Malik atas berbagai persoalan.

Imam Malik tak hanya meninggalkan warisan buku. Ia juga mewariskan mazhab fikih di kalangan Islam Sunni, yang disebut sebagai Mazhab Maliki. Selain fatwa-fatwa Imam Malik dan Al Muwatta', kitab-kitab seperti Al Mudawwanah al Kubra, Bidayatul Mujtahid wa Nihaayatul Muqtashid (karya Ibnu Rusyd), Matan ar Risalah fi al Fiqh al Maliki (karya Abu Muhammad Abdullah bin Zaid), Asl al Madarik Syarh Irsyad al Masalik fi Fiqh al Imam Malik (karya Shihabuddin al Baghdadi), dan Bulgah as Salik li Aqrab al Masalik (karya Syeikh Ahmad as Sawi), menjadi rujukan utama mazhab Maliki.

Di samping sangat konsisten memegang teguh hadits, mazhab ini juga dikenal amat mengedepankan aspek kemaslahatan dalam menetapkan hukum. Secara berurutan, sumber hukum yang dikembangkan dalam Mazhab Maliki adalah Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah SAW, amalan sahabat, tradisi masyarakat Madinah (amal ahli al Madinah), qiyas (analogi), dan al maslahah al mursalah (kemaslahatan yang tidak didukung atau dilarang oleh dalil tertentu).

Mazhab Maliki pernah menjadi mazhab resmi di Mekah, Madinah, Irak, Mesir, Aljazair, Tunisia, Andalusia (kini Spanyol), Marokko, dan Sudan. Kecuali di tiga negara yang disebut terakhir, jumlah pengikut mazhab Maliki kini menyusut. Mayoritas penduduk Mekah dan Madinah saat ini mengikuti Mazhab Hanbali. Di Iran dan Mesir, jumlah pengikut Mazhab Maliki juga tidak banyak. Hanya Marokko saat ini satu-satunya negara yang secara resmi menganut Mazhab Maliki.



Sumber: http://www.kotasantri.com/galeria.php?aksi=DetailArtikel&artid=170