Menu

Showing posts with label bunka. Show all posts
Showing posts with label bunka. Show all posts

Saturday, 21 February 2009

Yokosho Japan

101 about Japan

When is the best time to go to Japan?
Ada beberapa pilihan waktu jika anda ingin mengunjungi Jepang, tergantung tujuan mengunjungi Jepang. Jika anda hanya punya kesempatan sekali mengunjungi Jepang, datanglah pada saat awal april, ketika sakura bersemi (sakura blossom)
Spring (Mar-May) - sekitar awal april, pada saat sakura blossom, atau yg di Jepang biasa disebut Hanami (hana = bunga; mi(ru) = melihat) Jika bisa, sekaligus saja piknik di bawah pohon sakura, yg popular di Ueno Park, Tokyo.




Summer (June- Aug) dont miss Hokkaido. Summer di Hokkaido sangat bagus untuk orang yg menyukai alam. Selain itu pada bulan Juli - Aug tiap tahun, gunung fuji dibuka untuk umum (buat dipanjat). Saat summer banyak sekali Hanabi (fireworks) di semua tempat di Jepang. Negative point buat summer, sering hujan, dan udaranya lebih parah dibanding Jakarta dari segi kelembaban. Musim panas ini menyebabkan Hokkaido populasinya meningkat beberapa kali lipat, karena banyak sekali orang Jepang yg ke pulai ini pada musim panas.

Autumn (Sept -Nov) Go to Kyoto. Pada saat ini di Jepang cuacanya lumayan enak, tidak begitu panas dan belum dingin. Momiji atau daun2 yg berubah warnanya, umumnya menjadi merah.

Winter (Dec -Feb) musim dingin di Jepang sangat cocok untuk anda yg ingin merasakan suasana Natal. Tiap desember di Hakodate (Hokkaido) ada white illuminations di sepanjang jalan. Selain itu setiap awal Feb ada Yuki Matsuri di Sapporo. Disini anda bisa melihat pahatan2 es untuk berbagai jenis bangunan2 yg terkenal di dunia.

Hindari bepergian di awal mei (Golden Week) atau pertengahan agustus (Obon). Pada saat ini, kantor-kantor di Jepang meliburkan karyawan. Lebih mirip dengan suasana lebaran di Indonesia, ketika semua orang mudik. Disini orang-orang Jepang memanfaatkan liburan dengan berwisata ke luar negeri atau dalam negeri (okupansi hotel mendadak penuh).

Where to go
Kota-kota yg dikunjungi ada bermacam-macam. Biasanya turis akan ke Tokyo. Tapi jika anda punya waktu berlebih jangan lewatkan KYOTO.

Tokyo, Akihabara, Shinjuku, Shibuya, Harajuku,
Kyoto Ibukota Jepang selama 1000 tahun, banyak kuil2 bersejarah, tempat Gion Matsuri (Gion Festival). Bisa dibilang sebagai ibukota budaya jepang, hampir mirip spt Yogyakarta di Indonesia.
Yokohama Kota terbesar kedua di Jepang, hanya 40 menit dari Tokyo.

Nikko kota tempat kuil-kuil yg agak berbeda dengan kebanyakan kuil di Jepang,
Nara Ibukota Jepang sebelum Kyoto
Himeji Terdapat Himeji Castle (Castle paling terkenal di Jepang).
Osaka Pusat ekonomi di kawasan kansai, ada Universal Studio Japan
Kobe Kota pelabuhan yg banyak mempunyai rumah eropa
Hiroshima Kota yg kena bom atom (setiap tgl 6 aug ada ceremonial ceremony); admission fee hampir semua tempat wisata disini gratis untuk mahasiswa asing (ryuugakusei) di Jepang.
Nagasaki Kota kedua yg kena bom atom (setiap tanggal 9 aug ada memorial ceremony)
Sapporo Kota terbesar di Hokkaido, tuan rumah Yuki Matsuri selama bulan February.
Three Scenic Places of Japan - Miyajima, Amanohashidate, dan Matsushima

Who should you meet?
Geisha bisa ditemui di daerah Gion di Kyoto.
Sumo Wrestler bisa ditemui di daerah Ryugoku (Tokyo). Biasanya ada kompetisi sumo setahun 6 kali, kebanyakan di Tokyo.

Ninja Sebenarnya bukan ninja yg asli, tapi anda bisa mengunjungi sekolah ninja di Iga Ueno. Intermezzo aja, di Jepang ada dua klan ninja yg terkenal, Iga Klan dan Koga Klan. Iga Klan ini berdomisili di kota Iga Ueno.

Kaisar and Imperial Family - Kalau anda ingin masuk ke Imperial Palace di Tokyo, dan melihat langsung kaisar, silahkan datang tanggal 26 Desember (Ultah Kaisar Akihito) atau tanggal 2 Januari (sehari setelah tahun baru). Pada saat ini imperial palace dibuka untuk umum dan anda bisa masuk dan melihat Japan Imperial Family melambai2 dari balkon istana (yg dilapisi kaca anti-peluru).

Yakuza jarang dilihat dalam kondisi biasa, tapi mereka umumnya akan tidak malu2 muncul pada saat Sanja Matsuri di Tokyo. Pada saat ini anda bisa melihat Yakuza yg hanya menggunakan celana dalam sedang menari di atas kuil berjalan dengan badan yg dipenuhi tato.

Harajuku Girls bisa dilihat di depan Meiji-jinggu Shrine, tidak jauh dari Harajuku Station, dan anda bisa melihat cewek-cewek Harajuku dengan dandanan mereka yg aneh2.

Akihabara Boys gamer-gamer yg berkumpul di akihabara, lebih mendekati geeks. Kadang2 ada yg menggunakan seragam sailor (bayangin cowok pake seragam SMU cewek???)

Cozplay Actor/Actress Tokyo Big Sight umumnya menjadi tempat berkumpul para manga dan anime mania yg berpakaian seperti tokoh2 dalam manga pada hari-hari tertentu.

What you shouldnt miss?
Tourist Information umumnya terletak di dekat stasiun utama, penting untuk mengambil brosur2 tentang objek wisata di kota tersebut
Onsen (Japanese hot spring) untuk merasakan budaya mandi komunal Jepang.
Tea Ceremony
Climbing Mt. Fuji
Fujikyuu Highland untuk yg ingin merasakan pengalaman naik roller coaster tertinggi di dunia (Fujiyama)
Hanami at Ueno Park Sakura viewing di tempat paling popular di tokyo u/ sakura blossoms view
Hanabi at Asakusa melihat fireworks di tepi sungai di daerah asakusa.
Disney Land untuk yg bawa anak-anak
Disney Sea buat orang yg lebih dewasa
Osaka Universal Studio
Lavender at Furano and Biei Hills untuk anda yg menyukai alam dan bunga.
New Year visit to shrine/temple membaur bersama orang Jepang, ke kuil pada saat malam pergantian tahun, antriannya sumpah panjang banget.
Eat sushi at Tsukiji Fish Market Tsukiji Fish market merupakan pasar ikan terbesar di Jepang (dan juga dunia).
Eat ramen at Ramen Yokocho in Sapporo
Buy Shiroi Koibito in Sapporo semacam oleh-oleh khas dari Sapporo (coklat)

Which way to go?
Dari Tokyo, sebenarnya ada dua pilihan, ke arah barat, atau ke arah utara.

Utara, anda bisa ke daerah Tohoku (Aomori, Hirosaki, Sendai, Matsushima, dll) lalu dilanjutkan ke Hokkaido (Sapporo, Otaru, Hakodate, Biei, Furano,etc)

Barat anda bisa ke daerah Chubu (Nagoya dst), dilanjutkan ke Kansai (Kyoto, Osaka, Nara, Kobe, Himeji), dilanjutkan ke daerah Chugoku (Hiroshima dan Miyajima), lalu bablas ke Kyushu (Fukuoka, Nagasaki, Kunamoto, Beppu). Buat first-timer, lebih baik ke daerah barat, karena lebih banyak tempat yg bisa dikunjungi.

Jepang dibagi menjadi beberapa daerah, antara lain (dari Utara ke Selatan), Hokkaido, Tohoku, Kanto (Tokyo dan daerah sekitarnya), Chubu, Kansai, Shikoku, Chugoku, Kyushu, dan Ryukyus.

How to get around?
Gunakan kereta api. Jepang merupakan Negara dengan system kereta apai yg terbaik di
dunia. Kereta di Jepang sangat tepat waktu. Jika mobilitas anda di Jepang tinggi (dan visa anda visa turis), lebih baik dipikirkan untuk membeli JR Pass (Japan Railways Pass). JR Pass merupakah pilihan yg sangat hemat, dibandingkan anda membeli satuan (satu hal lagi, hanya beli JR Pass jika anda akan mengunjungi tidak hanya satu kota).

Tips naik kereta, Tip pertama jika anda tidak tahu harus membayar berapa ke tempat tujuan anda, pada ticket machine, pilih saja harga tiket terendah. Nanti saat tiba di stasiun tujuan, pergi ke fare adjustment machine, dan bayar selisih harga tiket tersebut. Kalau tidak mau (atau tidak mengerti cara) menggunakan fare adjustment machine, keluar melalui manned gate, dan tanya, berapa selisih yg harus dibayarkan. Beberapa stasiun hanya mempunyai rute yg ditulis dengan kanji (tanpa romaji), sehingga menyulitkan turis yg tidak paham bahasa Jepang.

Tips kedua Hati-hati dengan woman only car. Di Jepang ada gerbong khusus wanita untuk jam-jam tertentu (biasanya jam rush hour). Nah, para pria dilarang keras berada di gerbong ini.

Night Train merupakan pilihan buat anda yg benar2 ingin menghemat waktu perjalanan dan juga uang anda (kalau dikombinasikan dengan seishun 18 kippu). Night train ini biasanya ada dua jenis, rapid dan express. Moonlight Nagara merupakan night train paling terkenal di Jepang, karena melayani rute Tokyo Ogaki (kota kecil setelah Nagoya dan sebelum Kyoto), dan biasa digunakan oleh orang2 yg mau ke daerah Kansai dengan biaya murah. Selain itu ada juga Moonlight Kyushu yg mempunyai rute Osaka Hakata (Fukuoka), Moonlight Echigo (Tokyo Niigata).

Seishun 18 (juuhachi) kippu merupakan tiket yg dijual hanya pada saat liburan anak sekolah. Setahun hanya ada tiga periode penjualan tiket ini, pada saat winter holiday, spring holiday, dan summer holiday. Harganya 11500 yen untuk 5 unconsecutive day (jadi seharinya 2300 yen) untuk semua kereta local dan rapid Japan Railways di seluruh Jepang. Pada tiket ini ada 5 kotak yg belum dicap oleh petugas. Cara penggunaannya, kita masuk ke peron tidak melalui automatic gate, tetapi ke manned gate. Lalu memperlihatkan tiket tersebut kepada penjaga, lalu dia akan mencap tiket tsb, dan seharian kita bebas menggunakan tiket itu kemana saja di seluruh Jepang dengan kereta local dan rapid yg dimiliki oleh Japan Railways.

Tidak disarankan untuk first-timer ke Jepang menggunakan seishun 18 kippu, lebih baik anda menggunakan JR Pass. Tapi jika anda saat ini belajar di Jepang, dan tidak boleh membeli JR Pass (JR Pass hanya bisa dibeli oleh orang yg mempunyai jenis visa turis, bukan college student), seishun 18 kippu merupakan pilihan utama untuk jalan-jalan.

One day subway ticket. Ada dua harga, 700 yen dan 1000 yen untuk Tokyo. Dengan one day ticket ini, anda bisa menggunakan subway seharian penuh untuk beberapa line (700 yen) dan semua line (1000 yen).

One day bus ticket akan sangat berguna ketika anda mengunjungi Kyoto. Harga tiket bus di Kyoto flat, artinya jauh dekat harganya sama 220 yen. Tetapi jika anda membeli one day bus ticket seharga 500 yen, anda bisa menaiki bus2 suka2 anda. Break even pas sudah tiga kali naik.

Night Bus merupakan pilihan yg hemat juga. Harganya (umumnya) lebih murah jika dibandingkan dengan harga tiket kereta untuk rute yg sama.

Taxi di Jepang mahal, jangan gunakan kalau tidak kepepet sama sekali.

Be prepared before go to Japan
Electricity di Jepang menggunakan 110 volt dan colokannya berbentuk pipih dan sejajar. Colokan Indonesia itu dua yg bentuknya silinder. Lebih baik membeli “device” biar nggak repot selama di jepang. Ada jg dijual di toko elektronik seperti Yodobashi, Sakuraya, atau Big Camera, tp harganya sekitar 500 yen.

Website
www.japan-guide.com segala hal tentang jepang ada disini
www.hyperdia.com rute kereta, pesawat terbang, etc
Japan Youth Hostel -penginapan murah

All about Japan
Makanan

Kalau anda mau menghemat makanan, sering-seringlah ke McDonald (yg mempunyai fungsi lain sebagai tempat mencharge batere HP atau kamera anda kalau sudah habis), karena disini makanan paling murah (Beefburger 80 yen). Tapi kalau mau makan nasi, ada beberapa pilihan makanan yg murah. Pertama makan di Yoshinoya, Matsuya, atau Genkiya. Ini ada dimana-mana. Sekali makan berkisar 300 -600 yen.

Untuk yg muslim ingat2 bahwa babi bahasa jepangnya Buta, sedangkan buat yg Hindu, ingatlah bahwa sapi bahasa jepangnya Gyuu, pastikan anda mengetahui kanji untuk kedua hewan ini.

Harga

Jepang terkenal dengan mahal. Memang kadang-kadang kita geleng-geleng kepala kalau melihat harga barang di Jepang. Tips untuk mensiasatinya adalah dengan mengetahui kapan harga akan murah (terutama untuk yg berbelanja di supermarket). Tips kedua, adalah beli barang di 100 yen shop (hyaku en shop).

Harga konsumsi :

Paket McD 500 yen
Beef Burger 80 yen
Cheese Burger 100 yen
Bento 300 600 yen
Indomie di toko Indonesia 100 yen
Coca Cola @ vending machine 120 yen
Durian 2500 yen
Pisang 4 biji 120 yen
Youth Hostel 2000 - 5000 yen
Admission Fee Kuil 500 - 1000 yen
Disneyland 5500 yen
Disney Sea 5500 yen

Samurai

Samurai (侍 atau 士?) adalah istilah untuk perwira militer kelas elit sebelum zaman industrialisasi di Jepang. Kata "samurai" berasal dari kata kerja "samorau" asal bahasa Jepang kuno, berubah menjadi "saburau" yang berarti "melayani", dan akhirnya menjadi "samurai" yang bekerja sebagai pelayan bagi sang majikan.



Istilah yang lebih tepat adalah bushi (武士) (harafiah: "orang bersenjata") yang digunakan semasa zaman Edo. Bagaimanapun, istilah samurai digunakan untuk prajurit elit dari kalangan bangsawan, dan bukan contohnya, ashigaru atau tentara berjalan kaki. Samurai yang tidak terikat dengan klan atau bekerja untuk majikan (daimyo) disebut ronin (harafiah: "orang ombak"). Samurai yang bertugas di wilayah han disebut hanshi.
Samurai dianggap mesti bersopan dan terpelajar, dan semasa Keshogunan Tokugawa berangsur-angsur kehilangan fungsi ketentaraan mereka. Pada akhir era Tokugawa, samurai secara umumnya adalah kakitangan umum bagi daimyo, dengan pedang mereka hanya untuk tujuan istiadat. Dengan reformasi Meiji pada akhir abad ke-19, samurai dihapuskan sebagai kelas berbeda dan digantikan dengan tentara nasional menyerupai negara Barat. Bagaimanapun juga, sifat samurai yang ketat yang dikenal sebagai bushido masih tetap ada dalam masyarakat Jepang masa kini, sebagaimana aspek cara hidup mereka yang lain.
Etimologi
Perkataan samurai berasal pada sebelum zaman Heian di Jepang di mana bila seseorang disebut sebagai saburai, itu berarti dia adalah seorang suruhan atau pengikut. Hanya pada awal zaman modern, khususnya pada era Azuchi-Momoyama dan awal periode/era Edo pada akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17 perkataan saburai bertukar diganti dengan perkataan samurai. Bagaimanapun, pada masa itu, artinya telah lama berubah.
Pada era pemerintahan samurai, istilah awal yumitori (“pemanah”) juga digunakan sebagai gelar kehormat bagi sejumlah kecil panglima perang, walaupun pemain pedang telah menjadi lebih penting. Pemanah Jepang (kyujutsu), masih berkaitan erat dengan dewa perang Hachiman.
Berikut adalah beberapa istilah lain samurai.
• Buke (武家) – Ahli bela diri
• Kabukimono - Perkataan dari kabuku atau condong, ia merujuk kepada gaya samurai berwarna-warni.
• Mononofu (もののふ) - Istilah silam yang berarti panglima.
• Musha (武者) - Bentuk ringkasan Bugeisha (武芸者), harafiah. pakar bela diri.
• Si (士) - Huruf kanji pengganti samurai.
• Tsuwamono (兵) - Istilah silam bagi tentara yang ditonjolkan oleh Matsuo Basho dalam haiku terkemukanya. Arti harafiahnya adalah orang kuat.
Senjata
Samurai mengunakan beberapa macam jenis senjata, tetapi katana adalah senjata yang identik dengan keberadaan mereka, Dalam Bushido diajarkan bahwa katana adalah roh dari samurai dan kadang-kadang digambarkan bahwa seorang samurai sangat tergantung pada katana dalam pertempuran. Mereka percaya bahwa katana sangat penting dalam memberi kehormatan dan bagian dalam kehidupan. Sebutan untuk katana tidak dikenal sampai massa Kamakura (1185–1333), sebelum masa itu pedang Jepang lebih dikenal sebagai tachi dan uchigatana, Dan katana sendiri bukan menjadi senjata utama sampai massa Edo.
Apabila seorang anak mancapai usia tiga belas tahun, ada upacara yang dikenali sebagai Genpuku. Anak laki-laki yang menjalani genpuku mendapat sebuah wakizashi dan nama dewasa untuk menjadi samurai secara resmi. Ini dapat diartikan dia diberi hak untuk mengenal katana walaupun biasanya diikat dengan benang untuk menghindari katana terhunus dengan tidak sengaja. Pasangan katana dan wakizashi dikenali sebagai Daisho, yang berarti besar dan kecil.
Senjata samurai yang lain adalah yumi atau busar komposit dan dipakai selama beberapa abad sampai masa masuknyah senapan pada abad ke-16. Busur komposit model Jepang adalah senjata yang bagus. Bentuknya memungkinkan untuk digunakan berbagai jenis anak panah, seperti panah berapi dan panah isyarat yang dapat menjangkau sasaran pada jarak lebih dari 100 meter, bahkan bisa lebih dari 200 meter bila ketepatan tidak lagi diperhitungkan, Senjata ini biasanya digunakan dengan cara berdiri dibelakang Tedate (手盾) yaitu perisai kayu yang besar, tetapi bisa juga digunakan dengan menunggang kuda. Latihan memanah di belakang kuda menjadi adat istiadat Shinto, Yabusame (流鏑馬). Dalam pertempuran melawan penjajah Mongol, busur komposit menjadi senjata penentu kemenangan, Pasukan Mongol dan Cina pada waktu itu memakai {busur komposit]] dengan ukuran yang lebih kecil, apalagi dengan keterbatasannya dalam pemakaian pasukan berkuda.

Restorasi Meiji II

Restorasi Meiji II: Menunda Matahari Terbenam (di Barat)
Pada 8 Juli 1853, Komodor Matthew Perry dari Angkatan Laut Amerika Serikat mencapai Edo (kemudian bernama Tokyo). Ada 4 kapal perang besar AS—orang Jepang menyebutnya Kapal-kapal Hitam—yang bersauh di pelabuhan Edo.


Kesemuanya dilengkapi dengan persenjataan lengkap, termasuk meriam-meriam besar yang moncongnya mengarah ke Kekaisaran Jepang.
Kaisar Meiji, yang kala itu memerintah, tidak bisa berbuat apa-apa melihat unjuk kekuatan dari Amerika. Meiji lantas melakukan langkah revolusioner pada zaman itu: membuka hubungan dagang dengan Amerika, yang diperkuat dengan Konvensi Kanagawa (31 Maret 1854).
Rentetan peristiwa yang dirangkum dalam frase “Restorasi Meiji” ini menjadi momentum yang mengubah wajah Jepang secara keseluruhan. Tidak hanya hubungan dagang yang terbuka, melainkan juga terbinanya kerjasama politik dengan negara asing. Jepang benar-benar membuka diri terhadap dunia makro. Jepang mengadopsi sistem pendidikan, menerapkan metode militer modern ala Barat, dan, yang paling spektakuler, mengubah sistem politiknya.
Pada 11 Februari 1889, Meiji menggelontorkan apa yang kemudian disebut Konstitusi Meiji (atau Konstitusi Jepang)—praktiknya sendiri baru dimulai pada 29 November 1890. Hingga tahun 1947, undang-undang ini diberlakukan sebagai landasan bagi sebuah monarki konstitusional berdasarkan model Prusia, di mana Kaisar Jepang adalah penguasa aktif dan mempunyai kekuasaan politik yang besar, namun membagi hal ini dengan anggota parlemen yang dilantik. Setelah itu, seiring kekalahan Jepang di penghujung Perang Dunia II, Konstitusi Meiji diperbaharui untuk mentransformasi sistem kekaisaran dengan sejenis demokrasi liberal ala Barat.
Karena Restorasi Meiji tersebut, Jepang akhirnya menjadi kekuatan politik dan ekonomi yang sangat besar sebagaimana kita lihat sekarang.
Sayang sekali, nyaris saja Negeri Matahari Terbit itu terbenam hanya gara-gara miskin keturunan laki-laki. Tercatat, sejak kelahiran Akishino pada 1965, negara dengan luas wilayah 377.835 km² ini nir keturunan laki-laki. Semua cucu Akihito berjenis kelamin perempuan.
Sebelum kelahiran pangeran baru, Hisahito, pada 6 September kemarin, Kekaisaran Jepang sempat gonjang-ganjing dengan merebaknya tuntutan publik untuk membolehkan anak perempuan menjadi pewaris tahta. Perdebatan antara yang pro dan kontra pun terjadi dengan sangat ngotot. Tidak hanya kalangan dalam istana yang terlibat, masyarakat luas pun bersikap sebagai pembela dari setiap kubu. Satu pihak bersikukuh “mempertahankan” tradisi lama, sedangkan satu pihak lagi bersikeras “melanjutkan” tradisi lama, apa pun caranya.
Ini seperti perdebatan antara mana yang lebih penting: menetapi masa lalu atau menyiasati masa depan. Sampai di sini, Koizumi merasa harus bertindak. Ia memilih untuk menyelamatkan keberlangsungan kekaisaran Jepang ke depan. Pada Januari 2005, Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi menunjuk 10 orang ahli dari beberapa golongan untuk bertindak sebagai tim khusus demi membuat konstitusi tentang kemungkinan penerus tahta kerajaan adalah perempuan. Langkah ini diambil Koizumi, sekali lagi, untuk mengantisipasi kemungkinan tiadanya keturunan laki-laki dalam keluarga Kaisar.
Satu bayi laki-laki ini, dengan demikian, menunda langkah Koizumi. Namun, tampaknya tidak cukup untuk menghentikan rencananya. Hasil jejak pendapat yang dilakukan oleh media NHK setelah kelahiran ahli waris mahkota Bunga Krisan, menunjukkan perlunya perubahan konstitusi (56 persen) sehingga wanita dan anak-anaknya bisa naik tahta. Ini adalah representasi mayoritas suara publik Jepang, mengingat hanya 33 persen saja yang mencoba mempertahankan tradisi kuno kekaisaran. Landasannya: selain upaya menyelamatkan kekaisaran tertua di dunia, tentulah massifnya anggapan bahwa pada zaman sekarang perempuan didudukkan setara dengan laki-laki.
Kita melihat jejak feminisme di sini.
Feminisme sendiri merupakan sebuah aliran pemikiran dan gerakan yang muncul di Eropa pada waktu yang nyaris bersamaan dengan Restorasi Meiji. Pada abad Pencerahan, perempuan-perempuan Eropa seperti Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet sudah mulai mengumumkan terpojoknya perempuan di segala situasi. Baru ketika abad 19 di depan mata, feminisme lahir menjadi gerakan yang cukup mendapatkan perhatian dari para perempuan kulit putih di Eropa.
Sejak istilah ini dicetuskan pertama kali oleh seorang aktivis sosialis-utopis, Charles Fourier pada tahun 1837, feminisme mulai mendapat tempat dalam sejarah pemikiran Eropa. Buku yang ditulis John Stuart Mill, The Subjection of Women (1869) seperti menjadi genderang kelahiran feminisme Gelombang Pertama. Gerakan pada masa inilah yang mula-mula menuntut pengurangan atau penghapusan pemasungan kebebasan terhadap perempuan. Eropa menggeliat untuk menaikkan derajat perempuan.
Kita kemudian melihat hubungan samar-samar antara rencana Koizumi dengan Restorasi Meiji dan Feminisme.
Ada koinsidensi menarik yang menyimpul ketiga entitas sejarah (di Jepang dan dunia) tersebut. Kita bisa saja menduga bahwa Koizumi berniat mengulangi langkah taktis-politis yang dilakukan Kaisar Meiji pada abad 19. Kali ini, Koizumi mengusung feminisme, memasukkan pemikiran itu ke dalam tembok istana yang sedemikian maskulin secara historis. Kita boleh pula mengira bahwa Koizumi cuma bermaksud menunda terbenamnya Kekaisaran Matahari Terbit, dan tidak aneh-aneh.
Semua bisa benar. Sebenar ketika meramalkan bahwa keberhasilan Restorasi Meiji membuat orang tergiur untuk melakukannya lagi. Yang pasti: matahari terbit di timur, terbenam di barat.

Restorasi Meiji

Sejarah Jepang
(Periode historis)
• Paleolitik Jepang
• Jōmon
• Yayoi
• Zaman Yamato
o Kofun
o Asuka
• Nara
• Heian
• Kamakura
o Restorasi Kemmu
• Muromachi
o Istana Utara dan Selatan
o Sengoku
• Azuchi-Momoyama
• Edo
o Akhir Keshogunan Tokugawa
• Meiji
o Restorasi Meiji
• Taishō
o Jepang dalam PD-I
• Shōwa
o Ekspansionisme Jepang
o Pendudukan sekutu
o Jepang pasca pendudukan
• Heisei

• Sejarah ekonomi
• Sejarah pendidikan
• Sejarah militer
• Angkatan laut




Restorasi Meiji (明治維新 Meiji-ishin?), dikenal juga dengan sebutan Meiji Ishin, Revolusi, atau Pembaruan, adalah rangkaian kejadian yang menyebabkan perubahan pada struktur politik dan sosial Jepang. Restorasi Meiji terjadi pada tahun 1866 sampai 1869, tiga tahun yang mencakup akhir Zaman Edo dan awal Zaman Meiji. Restorasi ini merupakan akibat langsung dari dibukanya Jepang kepada kedatangan kapal dari dunia Barat yang dipimpin oleh perwira angkatan laut asal AS, Matthew Perry.
Pembentukkan Aliansi Sat-cho, yaitu antara Saigo Takamori, pemimpin Satsuma, dengan Kido Takayoshi, pemimpin Choshu, adalah titik awal dari Restorasi Meiji. Aliansi ini dicetuskan oleh Sakamoto Ryoma, dengan tujuan melawan Keshogunan Tokugawa dan mengembalikan kekuasaan kepada Kaisar.
Keshogunan Tokugawa resmi berakhir pada tanggal 9 November 1867, ketika Shogun Tokugawa ke-15, Tokugawa Yoshinobu "memberikan kekuasaannya ke Kaisar" dan 10 hari kemudian mundur dari jabatannya. Titik ini adalah awal "Restorasi" kekuasaan imperial. Walau begitu, Yoshinobu masih tetap memiliki kekuasaan yang signifikan.
Kemudian pada January 1868, dimulailah Perang Boshin (Perang Tahun Naga), yang diawali Pertempuran Toba Fushimi, dimana tentara yang dipimpin Choshu dan Satsuma mengalahkan tentara mantan shogun, dan membuat Kaisar mencopot seluruh kekuasaan yang dimiliki Yoshinobu. Sejumlah anggota keshogunan melarikan diri ke Hokkaido dan mencoba membuat negara baru, Republik Ezo, tapi usaha ini digagalkan pada penyerbuan Hakodate, Hokkaido. Kekalahan tentara mantan shogun adalah akhir dari Restorasi Meiji; dimana semua musuh kaisar berhasil dihancurkan.

Pertempuran Sekigahara

(関ヶ原の戦い sekigahara no tatakai?) adalah pertempuran yang terjadi tanggal 15 September 1600 menurut kalender lunar (21 Oktober 1600 menurut kalender Gregorian) di Sekigahara, distrik Fuwa, Provinsi Mino, Jepang.
Pertempuran melibatkan pihak yang dipimpin Tokugawa Ieyasu melawan pihak Ishida Mitsunari sehubungan perebutan kekuasaan sesudah wafatnya Toyotomi Hideyoshi. Pertempuran dimenangkan oleh pihak Tokugawa Ieyasu yang memuluskan jalan menuju terbentuknya Keshogunan Tokugawa.



Dendam akibat Pertempuran Sekigahara berperan dalam melahirkan gerakan menggulingkan pemerintahan Keshogunan Edo di abad ke-19 yang dimulai dari wilayah han Satsuma dan Chōshū.
Pihak yang bertikai dalam pertempuran ini terbagi menjadi kubu Tokugawa (Pasukan utara) dan kubu pendukung klan Toyotomi (Pasukan Barat). Klan Toyotomi sendiri tidak memihak salah satu pihak yang bertikai dan tidak ambil bagian dalam pertempuran.
Setelah pertempuran selesai, kekuasaan militer cenderung berhasil dikuasai pihak Tokugawa sehingga Pertempuran Sekigahara juga terkenal dengan sebutan Tenka wakeme no tatakai (天下分け目の戦い? pertempuran yang menentukan pemimpin Jepang).
Pada saat terjadinya pertempuran belum digunakan istilah Pasukan Barat dan Pasukan Timur. Kedua istilah tersebut baru digunakan para sejarawan di kemudian hari untuk menyebut kedua belah pihak yang bertikai.
Latar belakang
Perselisihan di dalam pemerintahan Toyotomi
Pemerintah Toyotomi yang berhasil menjadi pemersatu Jepang menyangkal keberadaan pertentangan tajam antara faksi bersenjata bentukan pemerintah dan pihak birokrat yang terdiri dari pejabat tinggi pengatur kegiatan beragama, ekonomi dan pemerintahan. Faksi bersenjata terdiri dari komandan militer pro klan Toyotomi yang pernah diturunkan di garis depan perang penaklukan Joseon. Bentrokan langsung antar faksi bersenjata dan pihak birokrat dapat dicegah oleh Toyotomi Hideyoshi dan adik kandungnya yang bernama Toyotomi Hidenaga.
Pertentangan menjadi semakin panas setelah pasukan ditarik mundur dari Joseon dan wafatnya Toyotomi Hidenaga di tahun 1591. Di akhir hayatnya, Toyotomi Hideyoshi mengambil sumpah setia para pengikut loyal yang terdiri dari dewan lima menteri dan lima orang pelaksana administrasi untuk membantu pemerintahan yang dipimpin Toyotomi Hideyori. Pertentangan di kalangan militer pengikut Hideyoshi mencuat ke permukaan sejak wafatnya Toyotomi Hideyoshi pada bulan Agustus 1598 di Istana Fushimi.
Tokugawa Ieyasu merupakan salah satu anggota dari dewan lima menteri yang menjadi tokoh yang sangat berpengaruh. Ieyasu mengatur pembagian wilayah untuk para daimyo berikut nilai kokudaka untuk setiap wilayah. Ieyasu juga menghapus pelarangan ikatan perkawinan di antara keluarga para daimyo yang berlaku di zaman pemerintahan Hideyoshi. Maeda Toshiie yang bertentangan dengan Tokugawa Ieyasu juga diharuskan menandatangani perjanjian non-agresi dengan Ieyasu.
Setelah Maeda Toshiie wafat di bulan Maret tahun berikutnya (1599), bentrokan bersenjata terjadi antara faksi birokrat pimpinan Ishida Mitsunari dan faksi bersenjata pimpinan kelompok Katō Kiyomasa, Fukushima Masanori dan 7 komandan militer. Ishida Mitsunari kabur bersembunyi ke rumah kediaman Ieyasu dan dituduh Ieyasu bertanggung jawab atas terjadinya bentrokan. Ishida Mitsunari lalu dipecat sebagai anggota pelaksana pemerintahan dan dikenakan tahanan rumah di Istana Sawayama.
Ada pendapat yang meragukan cerita Ishida Mitsunari yang kabur bersembunyi di rumah kediaman Ieyasu, karena peristiwa ini tidak didukung bukti sejarah yang kuat.
Kekuatan penentang Tokugawa Ieyasu tamat dengan habisnya karir politik Ishida Mitsunari dan kepulangan para anggota dewan lima menteri ke daerah masing-masing. Tokugawa Ieyasu yang tidak lagi mempunyai lawan politik memimpin pasukan dari Istana Fushimi untuk berangkat ke Osaka dan memimpin pemerintahan dari Istana Osaka.
Tokugawa Ieyasu kemudian berusaha merebut kekuasaan pemerintah dengan cara memanfaatkan pertentangan antara faksi militer dan faksi birokrat di dalam pemerintahan Toyotomi yang semakin melemah.
Pemicu peperangan
Akibat terungkapnya rencana pembunuhan Tokugawa Ieyasu yang didalangi Maeda Toshinaga (putra pewaris Maeda Toshiie), anggota dewan lima pelaksana pemerintahan yang terdiri dari Asano Nagamasa, Ōno Harunaga dan Hijikata Katsuhisa ikut menjadi tersangka sehingga dipecat dan dikenakan tahanan rumah. Pasukan Toyotomi yang dibawah perintah Ieyasu berusaha menangkap Maeda Toshinaga yang dituduh sebagai dalang pemberontakan. Atas tuduhan pemberontakan ini, Maeda Toshinaga menunjukkan bahwa dirinya merupakan pengikut pemerintah Toyotomi yang setia dengan memberikan ibu kandungnya Hōshun-in (Matsu) kepada Ieyasu untuk disandera.
Memasuki tahun 1600, Tokugawa Ieyasu menggunakan kesempatan kaburnya Fujita Nobuyoshi (mantan pengikut klan Uesugi) untuk mengkritik Uesugi Kagekatsu penguasa Aizu yang dituduh telah memperkuat diri secara militer. Ieyasu juga memperingatkan kemungkinan Uesugi Kagekatsu bertujuan menyerang Kyoto sekaligus meminta Kagekatsu untuk datang ke Kyoto untuk menjelaskan duduk persoalan.
Penasehat Kagekatsu yang bernama Naoe Kanetsugu menolak tuduhan Ieyasu, tapi pasukan pemerintah Toyotomi mulai menyerang posisi Kagekatsu. Tokugawa Ieyasu yang ditunjuk sebagai panglima gabungan memimpin pasukan para daimyo yang loyal terhadap Toyotomi untuk menuju ke wilayah kekuasaan Uesugi di Aizu.
Sepeninggal Ieyasu yang berangkat ke Aizu, Ishida Mitsunari yang selesai dikenakan tahanan rumah kembali berkelompok dengan Ōtani Yoshitsugu, anggota dewan pelaksana administrasi Mashida Nagamori dan Ankokuji Ekei. Kelompok Mitsunari mendapat dukungan militer dari pasukan Mōri Terumoto yang bersama-sama membentuk Pasukan Barat. Kelompok Mitsunari berencana untuk menyandera istri dan anak-anak para daimyo pengikut Ieyasu sebelum mengangkat senjata melawan pasukan Ieyasu.
Ieyasu menyadari pergerakan militer Mitsunari sewaktu berada di Oyama (provinsi Shimotsuke) berdasarkan laporan pengikutnya yang bernama Torii Mototada yang tinggal di Istana Fushimi. Ieyasu yang sedang dalam perjalanan untuk menaklukkan Uesugi Kagekatsu di Aizu segera membatalkan rencana menyerang Kagekatsu. Ieyasu lalu mengadakan pertemuan dengan para daimyo pengikutnya mengenai strategi menghadapi Ishida Mitsunari. Pertemuan ini dikenal sebagai Perundingan Oyama. Daimyo seperti Sanada Masayuki dan Tamaru Tadamasa melepaskan diri dari pasukan Ieyasu, tapi sebagian besar daimyo ternyata memutuskan untuk terus mendukung Ieyasu. Pasukan Ieyasu kemudian menuju ke arah barat untuk kembali ke Kyoto.
Penjelasan lain mengatakan penaklukkan Uesugi Kagekatsu semata-mata digunakan Tokugawa Ieyasu sebagai alasan untuk dapat bentrok dengan pasukan Mitsunari. Daerah Kinai sengaja dibiarkan tidak terjaga untuk mengundang pergerakan pasukan Mitsunari. Istana Fushimi sengaja ditinggalkan pasukan Ieyasu dan hanya dijaga pasukan Torii Mototada untuk memancing penyerangan dari pasukan Mitsunari.
Pihak yang saling berhadapan dalam Pertempuran Sekigahara tidak bisa dengan mudah dibagi dua menjadi Pasukan Timur yang terdiri dari pasukan Tokugawa dan Pasukan Barat adalah pasukan Toyotomi. Ada pendapat yang mengatakan Pasukan Timur justru terdiri dari pasukan reguler di bawah pemerintah Toyotomi, sedangkan Pasukan Barat justru merupakan pasukan pemberontak. Keberadaan Pasukan Barat hampir-hampir tidak diketahui oleh tokoh-tokoh penting dalam pemerintahan Hideyori. Beberapa pejabat tinggi yang tidak setuju dengan pergerakan Pasukan Barat juga mengambil sikap pura-pura tidak tahu.
Sebelum Sekigahara
Bentrokan bersenjata
Pada tanggal 2 Juli 1600, Ishida Mitsunari membujuk Ōtani Yoshitsugu yang bermaksud untuk bergabung dengan pasukan Ieyasu agar justru bergabung dengan kelompok Mitsunari untuk menggulingkan pemerintahan Ieyasu.
Pada hari berikutnya (12 Juli), Ishida Mitsunari, Mashita Nagamori dan Ankokuji Ekei mengadakan pertemuan rahasia di Istana Sawayama. Dalam pertemuan antara lain disepakati permohonan untuk menunjuk Mōri Terumoto sebagai panglima tertinggi Pasukan Barat. Pada hari yang sama, Ishida Mitsunari dan kelompoknya menyiapkan pos-pos pemeriksaan di dekat sungai Aichi untuk menghentikan pasukan yang bermaksud bergabung dengan Pasukan Timur. Gerakan pasukan Chōsokabe Morichika dan Nabeshima Katsushige menjadi terhenti sehingga akhirnya tidak jadi bergabung dengan Pasukan Timur.
Pada tanggal 17 Juli, Mitsunari menyatakan perang terhadap Ieyasu dengan mengepung Istana Fushimi yang dijaga pengikut Ieyasu bernama Torii Mototada. Mitsunari mengeluarkan peringatan kepada Mototada agar menyerah. Mototada menolak pemintaan Mitsunari sehingga mulai diserang pada tanggal 19 Juli. Istana Fushimi digempur oleh pasukan Ukita Hideie dan Shimazu Yoshihiro. Pasukan yang dipimpin Mototada bertempur dengan sengit sebelum menyerah pada tanggal 1 Agustus.
Selanjutnya, basis-basis kekuatan militer Tokugawa seperti Istana Tanabe di provinsi Tango, Istana Anotsu dan Istana Matsusaka di provinsi Ise, secara berturut-turut semuanya berhasil direbut pasukan Mitsunari di bulan Agustus 1600. Mitsunari yang berniat menyerang provinsi Mino memindahkan markas pasukannya dari Istana Sawayama ke Istana Ōgaki pada tanggal 10 Agustus.
Sementara itu, Pasukan Timur terus maju ke arah barat melalui jalur Tōkaido tanpa dipimpin Tokugawa Ieyasu yang sedang berada di Edo. Fukushima Masanori dan Ikeda Terumasa yang berada di garis depan pimpinan Pasukan Timur berhasil menaklukkan Istana Gifu yang dikuasai Oda Hidenobu (Sanbōshi) pada tanggal 23 Agustus. Ieyasu sedang berada di Edo mengirimkan surat kepada para daimyo. Ieyasu memanfaatkan Tōdō Takatora dan Kuroda Nagamasa untuk membujuk daimyo yang setia pada Toyotomi agar tidak bergabung dengan Pasukan Barat. Setelah mengetahui jatuhnya Istana Gifu, Ieyasu dengan segan memimpin sekitar 30.000 prajurit melalui jalur Tōkaido menuju Osaka.
Putra ketiga Ieyasu yang bernama Tokugawa Hidetada diserahi tugas memimpin pasukan utama Tokugawa yang terdiri dari 38.000 prajurit. Hidetada sedang membawa pasukan melewati jalur Nakasendō berusaha menaklukkan Istana Ueda yang dipertahankan oleh Sanada Masayuki tapi gagal. Pasukan Hidetada yang mendapat perlawanan dari pasukan Masayuki terlambat sampai ke Pertempuran Sekigahara. Akibat datang terlambat di Sakigahara, Tokugawa Hidetada menerima hukuman dari Ieyasu. Hidetada harus menunggu tiga hari sebelum bisa menghadap Ieyasu.
Para bawahan Tokugawa Hidetada seperti daimyo wilayah han Ōgo bernama Makino Yasunari dihukum kurungan karena dituduh bertanggung jawab atas keterlambatan pasukan Tokugawa dan baru dilepas beberapa tahun kemudian.
Ada banyak kecurigaan sehubungan dengan keputusan Tokugawa Hidetada menggunakan pasukan inti Tokugawa untuk menyerang Sanada Masayuki. Daimyo kecil seperti Sanada Masayuki sebetulnya tidak perlu diserang apalagi penyerangan dilakukan persis sebelum terjadinya pertempuran besar. Walaupun tidak sedang dipimpin sendiri oleh Ieyasu, pasukan inti Tokugawa memerlukan waktu terlalu lama untuk menghadapi Sanada Masayuki yang hanya memiliki sedikit prajurit. Pendapat lain yang dapat dipercaya mengatakan Ieyasu menggunakan strategi tidak menurunkan pasukan inti dalam Pertempuran Sekigahara agar pasukan yang dimilikinya tetap utuh agar bisa digunakan di kemudian hari.
Pendapat lain juga mempertanyakan sebab pasukan Hidetada terlambat datang. Pada awalnya, Hidetada menerima perintah dari Ieyasu untuk menaklukkan Istana Ueda di provinsi Shinshu. Perintah menyerang Shinshu dibatalkan oleh Ieyasu setelah mendengar berita jatuhnya Istana Gifu. Tokugawa Ieyasu mengeluarkan perintah yang baru kepada Hidetada agar memimpin pasukan menuju provinsi Mino pada tanggal 29 Agustus tapi pada waktu itu sungai Tonegawa sedang banjir sehingga perjalanan kurir yang membawa pesan dari Ieyasu menjadi terhambat. Kurir dari Tokugawa Ieyasu baru sampai tanggal 9 September, sehingga keterlambatan Hidetada tidak dianggap sebagai kesalahan berat oleh Ieyasu.
Tokugawa Ieyasu juga baru bergabung lokasi berkumpulnya Pasukan Timur di Akasaka, Gunung Oka pada malam sebelum pertempuran (14 September 1600).
Pengikut Ishida Mitsunari yang bernama Shima Sakon mengusulkan agar sebagian pasukan Mitsunari mengambil posisi di sekitar tempat mengalirnya sungai Kuise di Akasaka untuk memancing Pasukan Timur dan menghabisinya. Peristiwa ini disebut Pertempuran Sungai Kuise.
Ishida Mitsunari dan pimpinan Pasukan Barat terpancing keluar menuju Sekigahara ketika sedang mempertahankan Istana Ōgaki akibat desas-desus yang disebarluaskan Ieyasu "Lupakan Istana Ōgaki, taklukkan Istana Sawayama, maju ke Osaka." Ada perbedaan pendapat tentang kebenaran Ieyasu perlu menyebar desas-desus untuk memancing keluar Ishida Mitsunari dan kelompoknya karena pertahanan Istana Ōgaki dikabarkan tidak terlalu kuat.
Pihak yang bertikai dalam Pertempuran Sekigahara
( S Mengirimkan pasukan ke Sekigahara, ×T Membelot dari Pasukan Barat ke Pasukan Timur)
Pasukan Timur Komandan militer Kokudaka
Pasukan Barat Komandan militer Kokudaka

Tokugawa Ieyasu
2.550.000 S Mōri Terumoto
1.205.000
Maeda Toshinaga
830.000 Uesugi Kagekatsu
1.200.000
Date Masamune
580.000 Ukita Hideie
570.000 S
Katō Kiyomasa
245.000 Shimazu Yoshihiro
560.000 S
Fukushima Masanori
200.000 S Kobayakawa Hideaki
357.000 ×T
Hosokawa Tadaoki
180.000 S Ishida Mitsunari
194.000 S
Asano Kichinaga
160.000 S Konishi Yukinaga
200.000 S
Ikeda Terumasa
152.000 S Mashita Nagamori
200.000
Koroda Nagamasa
180.000 S Ogawa Suketada
70.000 ×T
Katō Yoshiakira
100.000 S Ōtani Yoshitsugu
50.000 S
Tanaka Yoshimasa
100.000 S Wakisaka Yasuharu
33.000 ×T
Tōdō Takatora
80.000 S Ankokuji Ekei
60.000 S
Mogami Yoshiaki
240.000 Satake Yoshinobu
544.000
Yamauchi Kazutoyo
69.000 S Oda Hidenobu
135.000
Hachisuka Yoshishige
177.000 Chōsokabe Morichika
220.000 S
Honda Tadakatsu
100.000 S Kutsuki Mototsuna
10.000 ×T
Terazawa Hirotaka
80.000 S Akaza Naoyasu
20.000 ×T
Ikoma Kazumasa
150.000 S Kikkawa Hiroie
142.000 ×T
Ii Naomasa
120.000 S Natsuka Masaie
50.000
Matsudaira Tadayoshi
100.000 S Mōri Hidemoto
200.000 S
Tsutsui Sadatsugu
200.000 S Toda Katsushige
10.000 S
Formasi pasukan


Posisi pasukan pada pertempuran Sekigahara.
Pada tanggal 15 September 1600, kedua belah pihak Pasukan Barat dan Pasukan Timur saling berhadapan di Sekigahara. Menurut buku "Sejarah Jepang" yang disusun oleh markas besar Angkatan Darat Jepang, kubu Pasukan Timur tediri dari 74.000 prajurit dan kubu Pasukan Barat terdiri dari 82.000 prajurit. Di lembah sempit Sekigahara berkumpul pasukan dengan total lebih dari 150.000 prajurit.
Penasehat militer dari Jerman bernama Klemens Wilhelm Jacob Meckel yang didatangkan pemerintah Jepang zaman Meiji mengatakan Pertempuran Sekigahara pasti dimenangkan oleh Pasukan Barat setelah melihat peta formasi pasukan di Sekigahara. Pasukan Timur dalam keadaan terkepung dan kemenangan Pasukan Barat sudah di depan mata jika melihat posisi pasukan Mitsunari di gunung Sasao, pasukan Ukita Hideie di gunung Temma, pasukan Kobayakawa Hideaki di gunung Matsuo, dan garis pertahanan pasukan Mōri Hidemoto di gunung Nangū.
Sekigahara sejak pagi diselimuti kabut tebal. Kelompok pasukan yang ada di samping kiri dan samping kanan tidak bisa kelihatan. Fukushima Masanori yang ditunjuk Ieyasu sebagai pimpinan garis depan tidak bisa memutuskan saat tepat melakukan tembakan pertama untuk memulai pertempuran. Masanori tidak bisa melihat situasi karena tebalnya kabut.
Pertempuran dimulai
Kedua belah pihak saling diam berhadapan di tengah kabut tebal. Pada saat kabut menipis, Ii Naomasa dan pasukan kecil pimpinan Matsudaira Tadayoshi yang berada di samping pasukan Fukushima bermaksud lewat menerobos. Fukushima Masanori yang sudah dijanjikan Ieyasu untuk memimpin penyerangan Pasukan Timur di bagian paling depan menjadi terkejut. Masanori memanggil pasukan yang mencoba menerobos agar berhenti, tapi dijawab "Mau lihat situasi" sambil langsung maju ke depan. Pasukan kecil yang dipimpin Tadayoshi secara tiba-tiba menembak ke arah gugus pasukan Ukita Hideie yang merupakan kekuatan utama Pasukan Barat. Tembakan yang dilepaskan Matsudaira Tadayoshi menandai dimulainya Pertempuran Sekigahara.
Pasukan Ukita yang dijadikan sasaran juga langsung balas menembak. Sekigahara menjadi medan pertempuran sengit. Pasukan Fukushima yang terdiri dari 6.000 prajurit dan pasukan Ukita yang terdiri dari 17.000 prajurit saling desak dan saling bunuh tanpa bisa maju selangkah pun juga.
Pasukan Kuroda Nagamasa yang terdiri dari 5.400 prajurit dan pasukan Hosokawa Tadaoki yang terdiri dari 5.100 pasukan secara bersama-sama mengincar pasukan Ishida Mitsunari dan membuka serangan. Pasukan Shima Sakon dan Gamō Satoie yang berada di pihak Ishida Mitsunari juga bertarung dengan gagah berani, musuh yang menyerang pasti dipukul mundur. Ōta Gyūichi yang mengalami sendiri pertempuran sengit Sekigahara menulis sebagai berikut: "Kawan dan lawan saling dorong, suara teriakan ditengah letusan senapan dan tembakan panah, langit bergemuruh, tanah tempat berpijak berguncang-guncang, asap hitam membubung, siang bolong pun menjadi gelap seperti malam, tidak bisa membedakan kawan atau lawan, pelat pelindung leher (pada baju besi) menjadi miring, pedang ditebas ke sana kemari."
Ketika pertempuran sudah berlangsung lebih dari 2 jam, Ishida Mitsunari membuat isyarat asap untuk memanggil gugus pasukan yang belum juga turut bertempur. Mistunari mengirim kurir untuk mengajak pasukan Shimazu untuk ikut bertempur, tapi Shimazu menolak untuk bertempur. Mōri Terumoto juga tidak bisa ikut bertempur akibat dihalangi di jalan oleh Kikkawa Hiroie. Ieyasu sebelumnya sudah melakukan perundingan rahasia dengan Hiroie yang dijanjikan untuk memperoleh wilayah kekuasaan klan Mōri.
Pembelotan Kobayakawa Hideaki
Kobayakawa Hideaki yang berada di pihak Pasukan Barat sudah diam-diam bersekongkol dengan Ieyasu, tapi sampai lepas tengah hari masih bersikap ragu-ragu dan pasukan Hideaki cuma diam saja. Tokugawa Ieyasu menjadi hilang kesabaran dan memerintahkan pasukannya untuk menembak ke posisi pasukan Hideaki di gunung Matsuo. Kobayakawa Hideaki yang masih ragu-ragu akhirnya memutuskan untuk turun gunung dan bertempur untuk pihak Ieyasu.
Pasukan Kobayakawa Hideaki menggempur sayap kanan gugusan pasukan Ōtani Yoshitsugu. Walaupun sudah bersekongkol dengan Ieyasu, Wakisaka Yasuharu, Ogawa Suketada, Akaza Naoyasu dan Kutsuki Mototsuna yang masih menunggu situasi jalannya pertempuran, akhirnya membelot ke kubu Pasukan Timur. Akibat aksi pembelotan demi pembelotan ke kubu Pasukan Timur, hasil akhir pertempuran Sekigahara yang seharusnya dimenangkan Pasukan Barat berubah dimenangkan Pasukan Timur.
Pasukan Barat tercerai-berai
Di tengah keadaan Pasukan Barat yang mulai tercerai-berai, pasukan yang dipimpin Shimazu Yoshihiro berusaha mundur dengan memotong garis depan menerobos pasukan Ieyasu sambil terus menerus melepaskan tembakan ke arah gugus tempur Ieyasu. Pasukan Fukushima menjadi ketakutan melihat kenekatan pasukan Shimazu yang mundur memotong garis depan. Ii Naomasa dan Matsudaira Tadayoshi berusaha mengejar pasukan Shimazu, tapi malah tertembak dan luka-luka. Kuda yang sedang ditunggangi Honda Tadakatsu tertembak sehingga Tadakatsu jatuh dan menderita luka-luka.
Pada akhirnya, pasukan Shimazu berhasil mundur walaupun menderita korban tewas seperti Shimazu Toyohisa dan Ata Moriatsu dan pasukan yang tersisa jumlahnya tinggal sekitar 80 prajurit. Shimazu Yoshihiro bisa lolos berkat penyamaran Ata Moriatsu yang mengenakan mantel tempur (jinbaori) milik Yoshihiro yang dihadiahkan oleh Toyotomi Hideyoshi. Moriatsu bertempur mati-matian dengan lawan yang menyangkanya sebagai Shimazu Yoshihiro, hingga sadar pasti tewas dan melakukan seppuku. Gugus tempur Pasukan Barat yang lain juga berhasil dihancurkan atau lari tercerai-berai.
Pertempuran di daerah-daerah
Pertempuran Sekigahara tidak hanya terbatas di provinsi Mino, melainkan juga meluas ke daerah-daerah lain. Sebelum dan sesudah Sekigahara, di berbagai daerah di seluruh Jepang seperti di Tohoku, Hokuriku, Kinai, Kyushu terjadi bentrokan bersenjata yang dapat disebut perang proxy antara daimyo pendukung Pasukan Timur dan daimyo pendukung Pasukan Barat.
Daerah Tohoku
Ada cerita yang didasarkan bukti kuat bahwa penghancuran klan Uesugi akibat dijelek-jelekkan oleh Hori Hideharu yang berada di pihak Pasukan Timur, tapi dokumen yang ditemukan belakangan ini justru membuktikan bahwa Hideharu berada di pihak Pasukan Barat.
Dalam mengawasi pergerakan pasukan Ishida Mitsunari, Ieyasu mengeluarkan perintah untuk kepada Yūki Hideyasu sebagai kekuatan utama dalam mengawasi Uesugi Kagekatsu, dibantu oleh para daimyo yang mempunyai wilayah yang bertetangga dengan wilayah Kagekatsu seperti Mogami Yoshiaki, Hori Hideharu dan Date Masamune.
Mogami Yoshiaki yang ingin wilayah yang dekat dengan laut melihat kesempatan emas untuk merebut wilayah kekuasaan Uesugi menyusun rencana penyerangan bekerja sama dengan Date Masamune. Pengikut setia klan Uesugi seperti Naoe Kanetsugu yang mendengar rencana ini mengambil keputusan untuk menyerang lebih dulu daripada diserang. Pada tanggal 9 September 1600, kekuatan Naoe Kanetsugu yang datang dari arah Yonezawa berhasil mendesak masuk ke dalam wilayah Mogami dan beberapa hari kemudian berhasil mengepung Istana Yamagata yang merupakan tempat kediaman Mogami Yoshiaki.
Setelah kemenangan Tokugawa Ieyasu dalam Sekigahara, Date Masamune yang berada di bawah Pasukan Timur mendapat tambahan wilayah sebanyak 7 distrik yang bernilai 1.000.000 koku. Ieyasu memang menjanjikan 1.000.000 koku bagi daimyo yang mau berpihak kepadanya dalam Sekigahara. Istana Shiraishi yang merupakan wilayah kekuasaan Uesugi kemudian juga diserang dan dikuasai oleh pasukan Date Masamune.
Mogami Yoshiaki yang panik akibat serangan mendadak dari pasukan Uesugi segera meminta bantuan pasukan kepada Date Masamune. Di kalangan pengikut Date Masamune seperti Katakura Kagetsuna berpendapat pasukan Uesugi yang sudah kelelahan bertempur dengan pasukan Mogami dapat ditaklukkan dengan mudah dan wilayah Yamagata dapat dikuasai tanpa bersusah payah.
Date Masamune perlu menolong klan Mogami karena kehancuran klan Mogami akan membuat Uesugi Kagekatsu menjadi ancaman langsung bagi Masamune. Pada tanggal 17 September 1600 Date Masamune menunjuk panglima tertinggi Rusu Masakage untuk menyerang pasukan Naoe Kanetsugu. Ada juga pendapat yang mengatakan Date Masamune kuatir dengan nasib ibunya yang berada di Istana Yamagata disandera oleh Mogami Yoshiaki.
Berkat pasukan tambahan dari Masamune, pasukan pengikut Sakenobe Hidetsuna yang berada di pihak Mogami bertempur gagah berani melawan pasukan Naoe Kanetsugu. Pertempuran menjadi berlangsung seimbang. Istana Hasedō yang dipertahankan Shimura Mitsuyasu hanya dengan sedikit prajurit ternyata tidak bisa juga ditaklukkan oleh Kanetsugu. Setelah hasil Pertempuran Sekigahara diketahui oleh kubu kedua belah pihak pada tanggal 29 September, pertempuran secara cepat dimenangkan pasukan Mogami Yoshiaki.
Naoe Kanetsugu segera memerintahkan pasukannya untuk mundur dengan Maeda Toshimasu berada di bagian paling belakang. Mogami Yoshiaki segera memerintahkan pasukannya untuk mengejar sekaligus memimpin sendiri penyerangan besar-besaran. Pengejaran ini berubah menjadi pertempuran yang kacau balau, topi baja yang dikenakan Mogami Yoshiaki sempat tertembak dan harus bersusah payah melarikan diri sementara pasukan Mogami Yoshiyasu (putra Yoshiaki) terus melakukan pengejaran. Pada tanggal 4 Oktober, pasukan Kanetsugu berhasil kembali dengan selamat di Istana Yonezawa.
Daerah Hokuriku
Maeda Toshinaga yang merasa harus mendukung penyerangan terhadap Uesugi Kanetsugi berangkat dari Kanazawa pada tanggal 26 Juli 1600. Memasuki bulan Agustus, Yamaguchi Munenaga yang bertahan di dalam Istana Daishōji berhasil dikepung oleh pasukan Maeda Toshinaga dan jatuh pada tanggal 3 Agustus. Istana Kitanojō yang dijaga Aoki Kazunori juga sudah berhasil dikepung, tapi akhirnya pasukan Toshinaga terpaksa mundur dengan tergesa-gesa akibat kabar bohong tentang pasukan Ōtani Yoshitsugu yang datang menyerang dari belakang. Kabar bohong ini konon disebarkan sendiri oleh Yoshitsugu.
Di tengah jalan, Maeda Toshinaga membagi pasukannya menjadi dua. Setengah dari pasukannya dikirim untuk menyerang Niwa Nagashige yang bertahan di dalam Istana Komatsu. Pada tanggal 9 Agustus 1600, pasukan Nagashige yang sebelumnya sudah tercerai berai akibat serangan mendadak kembali dihantam oleh pasukan inti Toshinaga sehingga korban jatuh dalam jumlah besar di pihak Nagashige. Niwa Nagashige akhirnya menawarkan perdamaian dan menyerahkan Istana Komatsu. Toshinaga yang berhasil pulang ke Kanazawa segera menyusun kembali pasukannya dengan tergesa-gesa dan baru berhasil berangkat dari Kanazawa pada tanggal 12 September 1600 sehingga pada akhirnya tidak berhasil sampai di Sekigahara.
Daerah Kinai
Istana Ōtsu
Kyōgoku Takatsugu yang berada di kubu Pasukan Timur tidak berhasil mempertahankan Istana Ōtsu dan diasingkan sebagai pendeta di kuil Onjōji, Gunung Kōya.
Istana Tanabe
Hosokawa Tadaoki ketika sedang pergi berperang menitipkan Istana Tanabe di provinsi Tango kepada Hosokawa Yūsai yang hanya ditemani 500 prajurit. Pasukan Barat yang dipimpin panglima tertinggi Onogi Shigekatsu (penguasa Istana Fukuchiyama) mengepung Istana Tanabe dengan lebih dari 15.000 prajurit dari pasangan bapak dan anak Koide Yoshimasa-Koide Hidemasa dan Akamatsu Hirohide. Pertempuran berlangsung seimbang tapi tidak berlangsung habis-habisan karena beberapa orang komandan kubu Pasukan Barat seperti Tani Morimoto pernah berguru kepada Hosokawa Yūsai yang dikenal ahli dalam seni menulis Kadō.
Keadaan pertempuran kemudian tidak lagi menguntungkan pihak Pasukan Timur, sehingga satu-satunya pilihan Hosokawa Yūsai adalah gugur secara terhormat daripada ditaklukkan musuh. Buku berisi ilmu rahasia seni menulis Kadō yang disebut Kokindenju sudah diputuskan untuk diwariskan semuanya kepada murid yang bernama Hachijōnomiya Toshihitoshinnō. Kabar ini diteruskan oleh Hachijonomiya kepada Kaisar Goyōzei yang merasa takut akan kehilangan Hosokawa Yūsai. Kaisar mengeluarkan perintah kepada pihak Pasukan Barat agar menghentikan penyerangan ke Istana Tanabe. Pasukan Barat tidak mau menghentikan penyerangan begitu saja, lagipula Yūsai juga menolak untuk menyerahkan Istana Tanabe. Pada tanggal 12 September 1600, kaisar mengirim tiga orang utusan pribadi yang bernama Nakanoin Michikatsu, Karasuma Mitsuhiro dan Sanjūnishi Sanuki ke Istana Tanabe. Hosokawa Yūsai akhirnya menerima usulan damai dan menyerahkan Istana Tanabe kepada Onogi Shigekatsu pada tanggal 18 September 1600.
Sehabis mengusir Hosokawa Yūsai dari Istana Tanabe, Onogi Shigekatsu mendengar kabar kekalahan Pasukan Barat di Sekigahara. Shigekatsu segera pulang melarikan diri ke Istana Fukuchiyama. Tidak lama kemudian Istana Fukuchiyama dikepung oleh pasukan Hosokawa Tadaoki yang baru saja menang perang dan pasukan Tani Morimoto yang membelot ke kubu Pasukan Timur. Shigekatsu memohon agar nyawanya diampuni, tapi akhirnya terpaksa melakukan bunuh diri pada tanggal 18 November 1600.
Kyushu
Kuroda Josui, Katō Kiyomasa, Nabeshima Naoshige sedang berada di wilayah kekuasaannya masing-masing di Kyushu. Kiyomasa dan Noshige pada awalnya mempertahankan sikap netral, sedangkan Josui berusaha keras membantu Pasukan Timur dengan tanpa ragu-ragu menyumbangkan semua uang dan perbekalan yang disimpan di Istana Nakatsu. Berkat semua yang yang dimilikinya, Kuroda Josui dengan cepat berhasil membentuk pasukan yang terdiri lebih dari 3.500 ronin.
Sementara itu, Ōtomo Yoshimune dari kubu Pasukan Barat ingin lebih memanaskan pertentangan antara kubu Timur-Barat. Yoshimune yang menerima dukungan dari Mōri Terumoto berencana untuk merebut kembali provinsi Bungo. Pada tanggal 9 September 1600, Ōtomo Yoshimune menjejakkan kaki di provinsi Bungo yang baru pertama kali dilakukannya sejak diasingkan. Yoshimune yang mengumpulkan bekas pengikutnya menantang pasukan Kuroda Josui untuk bertempur di Ishigakihara (sekarang kota Beppu).
Pada tanggal 13 September 1600, kedua belah pihak terlibat bentrokan bersenjata. Kubu pihak Yoshimune akhirnya menyerah kepada kubu Josui akibat terbunuhnya jenderal dari pihak Yoshimune. Pada tanggal 15 September 1600, Ōtomo Yoshimune memutuskan untuk menjadi biksu setelah menyerahkan diri kepada pasukan yang dipimpin Mori Tomonobu yang bertempur untuk kubu pasukan Josui. Katō Kiyomasa yang ketika mendengar berita kemenangan pasukan Josui sedang memimpin bala bantuan untuk Josui dari Kumamoto segera berbalik arah menyerang wilayah kekuasaan Konishi Yukinaga.
Pasukan Josui terus menyerang dan berturut-turut menaklukkan istana yang terdapat di Kita Kyushu. Katō Kiyomasa bersama Nabeshima Naoshige kemudian mengepung Istana Yanagawa dan berhasil memaksa Tachibana Muneshige untuk menyerah. Pada waktu itu, Tachibana Muneshige sedang bertahan di dalam Istana Yanagawa setelah terlambat datang di pertempuran Sekigahara. Pasukan gabungan yang dipimpin Josui kemudian merencanakan untuk menyerang provinsi Shimazu. Shimazu Ryūhaku yang ditinggal untuk menjaga wilayah milik Konishi Yukinaga menjadi panik atas ancaman pasukan gabungan yang dipimpin Josui. Ryūhaku mengirim pasukannya untuk memperkuat Kyushu dengan menjadi semakin tegang menanti serangan dari pasukan gabungan Josui. Penyerangan ke Shimazu yang sudah di depan mata akhirnya dibatalkan setelah ada perintah untuk menghentikan peperangan dari Tokugawa Ieyasu.
Daerah-daerah lain
Kanto
Satake Yoshinobu menjadi ragu-ragu dalam menentukan pihak yang perlu didukung. Yoshinobu sendiri merupakan sahabat dari Ishida Mitsunari, tapi ayahnya yang bernama Satake Yoshishie menyuruhnya untuk mendukung Pasukan Timur. Pengikut Yoshinobu seperti Tagaya Shigetsune, Yamakawa Asanobu yang memiliki sedikit pasukan, Sōma Yoshitane semuanya mendukung Uesugi Kagekatsu (kubu Pasukan Barat)
Ise
Istana pihak Pasukan Barat yang ada di Ise seperti Istana Anotsu tidak luput dari serangan pasukan Mōri Terumoto yang sedang dalam perjalanan menuju Sekigahara. Penguasa Istana Anotsu yang bernama Tomita Nobutaka menjadi biksu setelah menyerah. Furuta Shigekatsu yang menguasai Istana Matsusaka berhasil mengulur waktu dengan menawarkan perjanjian damai sehingga tidak perlu menyerahkan istana.
Penyelesaian pasca Sekigahara


Lokasi pertempuran Sekigahara sekarang.
• Seusai Pertempuran Sekigahara, Ishida Mitsunari tertangkap oleh pasukan Tanaka Yoshimasa pada tanggal 21 September 1600, sedangkan Konishi Yukinaga tertangkap tanggal 19 September dan Ankokuji Ekei tertangkap tanggal 23 September tahun yang sama. Para tawanan kemudian diarak berkeliling kota di Osaka dan Sakai sebelum dieksekusi di tempat bernama Rokujōgawara yang terletak di pinggir sungai Kamo, Kyoto.
• Ukita Hideie yang setelah Pertempuran Sekigahara melarikan diri ke provinsi Satsuma berhasil ditangkap oleh Shimazu Tadatsune di akhir tahun 1603. Hideie kemudian diserahkan kepada Tokugawa Ieyasu. Tadatsune dan Maeda Toshinaga yang merupakan kakak dari istri Hideie (Putri Gō) meminta pengampunan atas nyawa Hideie dan dikabulkan oleh Ieyasu. Hukuman mati Ukita Hideie dikurangi menjadi hukuman buang ke pulau Hachijōjima setelah menjalani hukuman kurungan di gunung Kuno, provinsi Suruga.
• Nastuka Masaie melarikan diri ke tempat tinggalnya di Istana Minakuchi provinsi Ōmi tapi berhasil dikejar oleh pasukan Ikeda Terumasa yang bertempur untuk kubu Pasukan Timur. Masaie melakukan bunuh diri pada tanggal 3 Oktober 1600. Ōtani Yoshitsugu melakukan bunuh diri sewaktu mempertahankan diri dari serangan Kobayakawa Hideaki yang membelot ke kubu Pasukan Timur.
• Hukuman untuk Shimazu Yoshihiro tidak juga kunjung berhasil diputuskan. Pada bulan April 1602, Tokugawa Ieyasu memutuskan wilayah kekuasaan Yoshihiro diberikan kepada kakaknya yang bernama Shimazu Yoshihisa karena menurut Ieyasu, "Tindakan Yoshihiro bukanlah (tindakan yang) dapat diterima majikan." Hak Yoshihiro sebagai pewaris klan juga dicabut dan putranya yang bernama Shimazu Tadatsune ditunjuk sebagai penggantinya.
• Mōri Terumoto dinyatakan bersalah karena sebagai panglima tertinggi mengeluarkan berbagai petunjuk untuk mempertahankan Istana Osaka. Wilayah kekuasaan Terumoto dikurangi hingga tinggal menjadi dua provinsi, yakni provinsi Suō dan provinsi Nagato. Pada mulanya, Tokugawa Ieyasu menjanjikan seluruh wilayah klan Mōri untuk Kikkawa Hiroie, tapi kemudian janji ini diubah secara sepihak oleh Ieyasu. Kikkawa Hiroie hanya akan diberi dua provinsi milik klan Mōri yang tersisa (Suō dan Nagato) sehingga pemberian Ieyasu ditolak oleh Hiroie dan kedua provinsi ini tetap menjadi milik klan Mōri.
• Hak atas semua wilayah kekuasaan Tachibana Muneshige dan Maeda Toshinaga dicabut karena telah menimbulkan kerugian besar pada pasukan Niwa Nagashige. Muneshige dan Nagashige kemudian dipulihkan haknya sebagai daimyo lain berkat jasa baik Tokugawa Hidetada. Muneshige juga menerima kembali bekas wilayah kekuasaannya.
• Chōsokabe Morichika mengaku bersalah sebagai pembunuh kakak kandungnya yang yang bernama Tsuno Chikatada akibat kesalah pahaman dan laporan bohong yang disampaikan pengikutnya. Tokugawa Ieyasu marah besar hingga merampas semua wilayah kekuasaan Chōsokabe Morichika.
• Wilayah kekuasaan senilai 1.200.000 koku milik Uesugi Kagekatsu dari Aizu dikurangi menjadi hanya tinggal wilayah Yonezawa bekas kepunyaan Naoe Kanetsugu yang hanya bernilai 300.000 koku.
• Satake Yoshinobu yang tadinya menguasai provinsi Hitachi yang bernilai 540.000 koku ditukar dengan provinsi Dewa yang hanya bernilai 180.000 koku.
• Kobayakawa Hideaki berkhianat dari kubu Pasukan Barat dan membelot ke kubu Pasukan Timur ditukar wilayah kekuasaannya dari provinsi Chikuzen yang cuma bernilai 360.000 koku menjadi provinsi Bizen yang bernilai 570.000 koku. Pada tahun 1602, Kobayakawa Hideaki yang masih berusia 21 tahun meninggal karena sakit gila, tanpa ada anak pewaris dan garis keturunannya putus begitu saja.
• Wakisaka Yasuharu dan Kutsuki Mototsuna yang membelot ke kubu Pasukan Timur atas ajakan Kobayakawa Hideaki mendapat wilayah kekuasaan. Pembelotan Ogawa Suketada dan Akaza Naoyasu justru sia-sia karena wilayah kekuasaan dirampas oleh Ieyasu. Tokugawa Ieyasu tidak menghargai para pembelot dari kubu Pasukan Barat kecuali Hideaki, Yasuharu dan Mototsuna. Ogawa Suketada memang dikabarkan mempunyai sejarah pembelotan ke sana kemari, lagipula putra pewarisnya merupakan sahabat dekat Ishida Mitsunari. Selain itu, Akaza Naoyasu kabarnya takut mendengar bunyi tembakan. Ogawa Suketada tutup usia setahun sesudah Pertempuran Sekigahara, sedangkan Akaza Naoyasu menjadi pengikut Maeda Toshinaga sebelum mati tenggelam di provinsi Etchū pada tahun 1606.
Di pasca Pertempuran Sekigahara, Tokugawa Ieyasu menghadiahkan pada daimyo pendukung kubu Pasukan Timur dengan tambahan wilayah kekuasaan yang luas.
• Hosokawa Tadaoki yang tadinya memiliki provinsi Tango (Miyazu) senilai 180.000 koku ditukar dengan provinsi Buzen (Okura) yang bernilai 400.000 koku.
• Tanaka Yoshimasa yang tadinya memiliki provinsi Mikawa (Okazaki) senilai 100.000 koku ditukar dengan provinsi Chikugo (Yanagawa) yang bernilai 325.000 koku.
• Kuroda Nagamasa yang tadinya memiliki provinsi Buzen (Nakatsu) senilai 180.000 koku ditukar dengan provinsi Chikuzen (Najima) yang bernilai 530.000 koku.
• Katō Yoshiakira dipindahkan dari Masaki (provinsi Iyo) yang bernilai 100.000 koku ke Matsuyama yang terletak di provinsi yang sama tapi bernilai 200.000 koku.
• Tōdō Takatora dipindahkan dari Itajima (provinsi Iyo) yang bernilai 80.000 koku ke Imabari yang terletak di provinsi yang sama tapi bernilai 200.000 koku.
• Terazawa Hirotaka yang menguasai provinsi Hizen ditingkatkan penghasilannya dari 83.000 koku menjadi 123.000 koku.
• Yamauchi Kazutoyo yang tadinya memiliki provinsi Tōtōmi (Kakegawa) senilai 70.000 koku ditukar dengan provinsi Tosa yang bernilai 240.000 koku.
• Fukushima Masanori yang memiliki provinsi Owari (Kiyosu) senilai 200.000 koku ditukar dengan provinsi Aki dan Bingo (Hiroshima) yang bernilai 498.000 koku.
• Ikoma Kazumasa yang menguasai provinsi Sanuki (Takamatsu) senilai 65.000 koku ditingkatkan penghasilannya menjadi 171.000 koku.
• Ikeda Terumasa yang menguasai provinsi Mikawa (Yoshida) senilai 152.000 koku dipindahkan ke provinsi Harima (Himeji) yang bernilai 520.000 koku.
• Asano Kichinaga yang menguasai provinsi Kai senilai 220.000 koku dipindahkan ke provinsi Kii (Wakayama) yang bernilai 376.000 koku.
• Katō Kiyomasa yang menguasai provinsi Higo ditingkatkan penghasilannya dari 195.000 koku menjadi 515.000 koku.
Para daimyo yang bukan merupakan pengikut Tokugawa Ieyasu sebagian besar diusir ke provinsi-provinsi yang terdapat di sebelah barat Jepang.
• Date Masamune yang berangkat dari Oshu untuk bergabung dengan kubu Pasukan Timur juga tidak ketinggalan menerima hadiah dari Ieyasu. Provinsi Mutsu (Iwadeyama) yang dimiliki Date Masamune ditingkatkan nilainya dari 570.000 koku menjadi 620.000 koku.
• Mogami Yoshiaki yang memiliki provinsi Dewa (Yamagata) ditingkatkan penghasilannya dari 240.000 koku menjadi 570.000 koku.
• Pasca Sekigahara, Nilai wilayah yang langsung berada di bawah kekuasaan Tokugawa Ieyasu bertambah drastis dari 2.500.000 koku menjadi 4.000.000 koku.
• Wilayah kekuasaan klan Toyotomi yang sewaktu Toyotomi Hideyoshi masih berkuasa bernilai 2.220.000 koku berkurang secara drastis menjadi 650.000 koku. Pelabuhan ekspor-impor di kota Sakai dan Nagasaki yang membiayai klan Toyotomi dijadikan milik Tokugawa Ieyasu, sehingga posisi klan Tokugawa berada di atas klan Toyotomi.
• Klan Shimazu dari Satsuma yang kalah dan menderita kerugian besar dalam Pertempuran Sekigahara dan klan Mōri dari Chōshū yang dirampas wilayah kekuasaannya menyimpan dendam kesumat terhadap Tokugawa Ieyasu. Klan Mōri dan klan Shimazu harus menunggu 250 tahun untuk dapat menumbangkan kekuasaan Keshogunan Edo yang dibangun Tokugawa Ieyasu.
Film dan sinetron
Pertempuran Sekigahara masih jarang diangkat sebagai film atau sinetron, karena pertempuran hanya berlangsung singkat namun melibatkan banyak sekali pihak yang bertikai.
• Aoi Tokugawa Sandai (Taiga drama tahun 2000, produksi NHK) bercerita tentang tiga generasi dinasti Tokugawa yang dibangun setelah Pertempuran Sekigahara.

Kehidupan Jepang

Gaya hidup di Jepang berubah secara dramatis setelah Perang Dunia ke-2, ketika banyak sekali orang dari daerah pindah ke kota-kota besar untuk mencari nafkah sebagai karyawan kantoran. Dengan tumbuhnya kota-kota, baik ukuran maupun populasinya, makin banyak orang yang pergi-pulang dari apartemen atau rumah mereka di pinggiran kota ke tempat kerja mereka di kawasan-kawasan pusat kota. Dulu rumah-tangga tradisional terdiri dari tiga generasi atau lebih yang hidup di dalam satu rumah. Dewasa ini rumah-tangga perkotaan cenderung terdiri dari orangtua dan anak-anak saja, sedangkan kakek-nenek tinggal di tempat lain.
RUMAH



Rumah tradisional Jepang dibuat dari kayu dan ditunjang tiang-tiang kayu. Namun dewasa ini rumah Jepang biasanya mempunyai kamar-kamar bergaya Barat dengan lantai kayu dan kerap dibangun dengan tiang-tiang baja. Lagi pula, makin banyak keluarga di kawasan perkotaan tinggal di gedung-gedung apartemen baja beton yang besar.
Ada dua perbedaan besar dengan rumah Barat, yakni orang tidak mengenakan sepatu di dalam rumah dan setidaknya ada satu ruang yang cenderung dirancang dalam gaya Jepang, berlantaikan tatami. Orang melepaskan sepatu begitu memasuki rumah agar lantai rumah tetap bersih. Genkan, jalan masuk, merupakan tempat untuk melepaskan sepatu, meletakkannya, dan mengenakannya kembali. Setelah melepaskan sepatu, orang Jepang mengenakan sandal rumah.

Tatami adalah sejenis tikar tebal yang dibuat dari jerami, sudah dipakai di rumah Jepang sejak sekitar 600 tahun yang lalu. Sehelai tatami biasanya berukuran 1,91 x 0,95 meter. Ukuran ruang/kamar biasanya didasarkan pada jumlah tatami. Lantai tatami terasa sejuk pada musim panas dan hangat pada musim dingin, dan tetap lebih segar daripada karpet selama bulan-bulan lembab di Jepang.


MAKANAN

Istilah untuk makan dalam bahasa Jepang adalah gohan. Kata ini sebenarnya menunjukkan nasi, tapi karena nasi merupakan makanan pokok bagi orang Jepang, maka gohan sudah diartikan sebagai nasi dengan lauk pauknya. Makan tradisional Jepang terdiri dari semangkuk nasi putih, dengan lauk utama (ikan atau daging), lauk pelengkap (biasanya sayuran), sup (biasanya sup miso), dan acar sayur. Nasi Jepang lengket (seperti ketan), sehingga cocok untuk dimakan dengan sumpit.

Orang Jepang dewasa ini makan berbagai jenis makanan dari seluruh dunia, terutama dari Eropa, Amerika Utara, dan Asia. Selain nasi, orang Jepang makan roti, mie, dan pasta, dan menyukai beraneka macam masakan daging, ikan, sayuran, dan buah-buahan. Sushi, tempura, sukiyaki, dan jenis-jenis makanan Jepang yang terkenal di dunia, tentu saja juga populer di Jepang.

Di kota-kota besar, khususnya, terdapat banyak restoran cepat-saji yang menyediakan burger dan fried chicken, yang populer terutama di kalangan muda dan anak-anak.

Sebelum makan, orang Jepang mengucapkan "itadakimasu", ungkapan sopan yang berarti "Saya terima makanan ini." Hal ini merupakan pernyataan terima kasih kepada siapa pun yang telah terlibat dalam menyiapkan makanan tersebut. Setelah makan, orang Jepang menyatakan terima kasih lagi dengan menyebutkan "gochisosama deshita", yang secara harfiah berarti "Terima kasih atas hidangan mewah yang lezat dan berlimpah."

PAKAIAN

Pakaian tradisional Jepang adalah kimono. Pada umumnya kimono dibuat dari sutera, berlengan besar yang menjulai dari bahu hingga ke tumit. Obi adalah ikat pinggang lebar kimono. Dewasa ini kimono biasanya hanya dikenakan pada kesempatan-kesempatan khusus saja, seperti Tahun Baru, festival Shichi-Go-San, upacara pernikahan, dan upacara wisuda.

Dibandingkan dengan pakaian Barat, kimono cenderung membatasi gerak dan diperlukan lebih banyak waktu untuk mengenakannya dengan baik. Sedangkan pada musim panas, anak-anak dan orang dewasa muda mengenakan jenis kimono ringan informal yang dikenal sebagai yukata di festival, pesta kembang-api, serta berbagai kesempatan khusus lainnya. Namun dalam kehidupan sehari-hari, orang muda cenderung lebih suka mengenakan pakaian yang memudahkannya bergerak, seperti kaos, celana jeans, kaos polo, dan sweat suits.

KEBUDAYAAN JEPANG

Sepanjang sejarahnya, Jepang telah menyerap banyak gagasan dari negara-negara lain termasuk teknologi, adat-istiadat, dan bentuk-bentuk pengungkapan kebudayaan. Jepang telah mengembangkan budayanya yang unik sambil mengintegrasikan masukan-masukan dari luar itu. Gaya hidup orang Jepang dewasa ini merupakan perpaduan budaya tradisional di bawah pengaruh Asia dan budaya modern Barat.




KEBUDAYAAN TRADISIONAL
Seni pertunjukan tradisional yang masih berjaya di Jepang dewasa ini adalah antara lain kabuki, noh, kyogen dan bunraku.

Kabuki adalah sebuah bentuk teater klasik yang mengalami evolusi pada awal abad ke-17. Ciri khasnya berupa irama kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh para aktor, kostum yang super-mewah, make-up yang mencolok (kumadori), serta penggunaan peralatan mekanis untuk mencapai efek-efek khusus di panggung. Make-up menonjolkan sifat dan suasana hati tokoh yang dibawakan aktor. Kebanyakan lakon mengambil tema masa abad pertengahan atau zaman Edo, dan semua aktor, sekalipun yang memainkan peranan sebagai wanita, adalah pria.

Noh adalah bentuk teater musikal yang tertua di Jepang. Penceritaan tidak hanya dilakukan dengan dialog tapi juga dengan utai (nyanyian), hayashi (iringan musik), dan tari-tarian. Ciri khas lainnya adalah sang aktor utama yang berpakaian kostum sutera bersulam warna-warni, dan mengenakan topeng kayu berlapis lacquer. Topeng-topeng itu menggambarkan tokoh-tokoh seperti orang yang sudah tua, wanita muda atau tua, dewa, hantu, dan anak laki-laki.

Kyogen adalah sebuah bentuk teater klasik lelucon yang dipagelarkan dengan aksi dan dialog yang amat bergaya. Ditampilkan di sela-sela pagelaran noh, meski sekarang terkadang ditampilkan secara tunggal.

Bunraku, yang menjadi populer sekitar akhir abad ke-16, merupakan jenis teater boneka yang dimainkan dengan iringan nyanyian bercerita dan musik yang dimainkan dengan shamisen (alat musik petik berdawai tiga). Bunraku dikenal sebagai salah satu bentuk teater boneka yang paling halus di dunia.

Berbagai seni tradisional lainnya, seperti upacara minum teh dan ikebana (merangkai bunga), terus hidup sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Upacara minum teh (sado atau chado) adalah tata-cara yang diatur sangat halus dan teliti untuk menghidangkan dan minum teh hijau matcha (dalam bentuk bubuk). Ada hal yang lebih penting daripada ritual membuat dan menyajikan teh, karena upacara ini merupakan rangkaian seni yang mendalam yang membutuhkan pengetahuan yang luas dan kepekaan yang sangat halus. Sado juga menjajaki tujuan hidup dan mendorong timbulnya apresiasi terhadap alam.
Seni merangkai bunga Jepang (ikebana), yang mengalami evolusi di Jepang selama tujuh abad, berasal dari sajian bunga Budhis di masa awalnya.
Seni ini berbeda dengan penggunaan bunga yang murni bersifat dekoratif saja, karena setiap unsur dari sebuah karya ikebana dipilih secara sangat cermat termasuk bahan tanaman, wadah di mana ranting dan bunga akan ditempatkan, serta keterkaitan ranting-ranting dengan wadahnya dan ruang di sekitarnya.
KEBUDAYAAN MODERN
Musik klasik masuk ke Jepang dari Barat. Penggemarnya cukup banyak dan sejumlah konser diadakan di berbagai tempat di Jepang. Jepang telah melahirkan banyak konduktor (seperti Ozawa Seiji), pianis, dan pemain biola dan mereka melakukan pertunjukan di seluruh dunia.

Sejak Kurosawa Akira memenangkan Golden Lion Award di Festival Film Venice pada tahun 1951, dunia perfilman Jepang menjadi pusat perhatian dunia, dan karya-karya dari sutradara besar seperti Mizoguchi Kenji dan Ozu Yasujiro mendapat sambutan luas. Pada tahun-tahun terakhir ini, Kitano Takeshi memenangkan Golden Lion Award pada Festival Film Venice 1997 dengan karyanya HANA-BI dan meraih penghargaan sebagai sutradara terbaik pada festival tahun 2003 dengan karyanya Zatoichi.

Film anime (kartun) Jepang yang menjadi hiburan bagi anak-anak Jepang sejak tahun 1960-an, kini diekspor ke seluruh dunia. Ada seri yang menjadi favorit anak-anak seluruh dunia, seperti Astro Boy, Doraemon, Sailor Moon, Detective Conan, dan Dragonball Z. Sementara itu, karya sutradara Miyazaki Hayao, Spirited Away, memenangkan Oscar sebagai film cerita kartun terbaik pada tahun 2003.
Untuk sastra, ada sejumlah pemenang Hadiah Nobel, yaitu Kawabata Yasunari dan Oe Kenzaburo. Sementara itu, karya-karya para pengarang yang lebih modern seperti Murakami Haruki dan Yoshimoto Banana populer di kalangan kaum muda Jepang dan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa.
Sumber: 在インドネシア日本国大使館/在ジャカルタ日本国総領事館

Kanji (漢字)

secara harfiah berarti "aksara dari Han Republik Rakyat Cina") adalah aksara Tionghoa yang digunakan dalam bahasa Jepang. Kanji adalah salah satu dari empat set aksara yang digunakan dalam tulisan modern Jepang selain kana (katakana, hiragana) dan romaji.



Kanji dulunya juga disebut mana (真名?) atau shinji (真字?) untuk membedakannya dari kana. Aksara kanji dipakai untuk melambangkan konsep atau ide (kata benda, akar kata kerja, akar kata sifat, dan kata keterangan). Sementara itu, hiragana (zaman dulu katakana) umumnya dipakai sebagai okurigana untuk menuliskan infleksi kata kerja dan kata-kata yang akar katanya ditulis dengan kanji, atau kata-kata asli bahasa Jepang. Selain itu, hiragana dipakai menulis kata-kata yang sulit ditulis dan diingat bila ditulis dalam aksara kanji. Kecuali kata pungut, aksara kanji dipakai untuk menulis hampir semua kosakata yang berasal dari bahasa Tionghoa maupun bahasa Jepang.
Sejarah
Secara resmi, aksara Tionghoa pertama kali dikenal di Jepang lewat barang-barang yang diimpor dari Tiongkok melalui Semenanjung Korea mulai abad ke-5 Masehi. Sejak itu pula, aksara Tionghoa banyak dipakai untuk menulis di Jepang, termasuk untuk prasasti dari batu dan barang-barang lain. 
Sebelumnya di awal abad ke-3 Masehi, dua orang bernama Achiki dan Wani datang dari Baekje di masa pemerintahan Kaisar Ōjin. Keduanya konon menjadi pengajar aksara Tionghoa bagi putra kaisar.[1] Wani membawa buku Analek karya Kong Hu Chu dan buku pelajaran menulis aksara Tionghoa untuk anak-anak dengan judul Seribu Karakter Klasik.[2] Walaupun demikian, orang Jepang mungkin sudah mengenal aksara Tionghoa sejak abad ke-1 Masehi. Di Kyushu ditemukan stempel emas asal tahun 57 Masehi yang diterima sebagai hadiah dari Tiongkok untuk raja negeri Wa (Jepang).[1]
Dokumen tertua yang ditulis di Jepang menurut perkiraan ditulis keturunan imigran dari Tiongkok. Istana mempekerjakan keturunan imigran dari Tiongkok bekerja di istana sebagai juru tulis. Mereka menuliskan bahasa Jepang kuno yang disebut yamato kotoba dalam aksara Tionghoa. Selain itu, mereka juga menuliskan berbagai peristiwa dan kejadian penting.[2]
Sebelum aksara kanji dikenal orang Jepang, bahasa Jepang berkembang tanpa bentuk tertulis. Pada awalnya, dokumen bahasa Jepang ditulis dalam bahasa Tionghoa, dan dilafalkan menurut cara membaca bahasa Tionghoa. Sistem kanbun (漢文?) merupakan cara penulisan bahasa Jepang menurut bahasa Tionghoa yang dilengkapi tanda diakritik. Sewaktu dibaca, tanda diakritik membantu penutur bahasa Jepang mengubah susunan kata-kata, menambah partikel, dan infleksi sesuai aturan tata bahasa Jepang.
Selanjutnya berkembang sistem penulisan man'yōgana yang memakai aksara Tionghoa untuk melambangkan bunyi bahasa Jepang. Sistem ini dipakai dalam antologi puisi klasik Man'yōshū. Sewaktu menulis man'yōgana, aksara Tionghoa ditulis dalam bentuk kursif agar menghemat waktu. Hasilnya adalah hiragana yang merupakan bentuk sederhana dari man'yōgana. Hiragana menjadi sistem penulisan yang mudah dikuasai wanita. Kesusastraan zaman Heian diwarnai karya-karya besar sastrawan wanita yang menulis dalam hiragana. Sementara itu, katakana diciptakan oleh biksu yang hanya mengambil sebagian kecil coretan dari sebagian karakter kanji yang dipakai dalam man'yōgana.
Cara pengucapan
Satu aksara kanji bisa memiliki cara membaca yang berbeda-beda. Selain itu tidak jarang, satu bunyi bisa dilambangkan oleh aksara kanji yang berbeda-beda. Aksara kanji memiliki dua cara pengucapan, ucapan Tionghoa (on'yomi) dan ucapan Jepang (kun'yomi).
Ucapan Tionghoa (on'yomi)
On'yomi (音読み?) atau ucapan Cina adalah cara membaca aksara kanji mengikuti cara membaca orang Cina sewaktu karakter tersebut diperkenalkan di Jepang. Pengucapan karakter kanji menurut bunyi bahasa Tionghoa bergantung kepada zaman ketika karakter tersebut diperkenalkan di Jepang. Akibatnya, sebagian besar karakter kanji memiliki lebih dari satu on'yomi. Kanji juga dikenal orang Jepang secara bertahap dan tidak langsung dilakukan pembakuan.
On'yomi dibagi menjadi 4 jenis:
• Go-on (呉音? "ucapan Wu") adalah cara pengucapan dari daerah Wu di bagian selatan zaman Enam Dinasti Tiongkok. Walaupun tidak pernah ditemukan bukti-bukti, ucapan Wu diperkirakan dibawa masuk ke Jepang melalui Semenanjung Korea dari abad ke-5 hingga abad ke-6. Ucapan Wu diperkirakan berasal dari cara membaca literatur agama Buddha yang diwariskan secara turun temurun sebelum diketahui cara membaca Kan-on (ucapan Han). Semuanya cara pengucapan sebelum Kan-on digolongkan sebagai Go-on walaupun mungkin saja berbeda zaman dan asal-usulnya bukan dari daerah Wu.
• Kan-on (漢音? "ucapan Han") adalah cara pengucapan seperti dipelajari dari zaman Nara hingga zaman Heian oleh utusan Jepang ke Dinasti Tang dan biksu yang belajar ke Tiongkok. Secara khusus, cara pengucapan yang ditiru adalah cara pengucapan orang Chang'an.
• Tō-on (唐音? "ucapan Tang") adalah cara pengucapan karakter seperti dipelajari oleh biksu Zen antara zaman Kamakura dan zaman Muromachi yang belajar ke Dinasti Song, dan perdagangan dengan Tiongkok.
• Kan'yō-on (慣用音? "ucapan populer") adalah cara pengucapan on'yomi yang salah (tidak ada dalam bahasa Tionghoa), tapi telah diterima sebagai kelaziman.
Kanji Arti Go-on Kan-on Tō-on Kan'yō-on
明 terang myō (明星 myōjō) mei (明暗 meian) (min)* (明国 minkoku) —
行 pergi gyō (行列 gyōretsu) kō (行動 kōdō) (an)* (行灯 andon) —
京 ibu kota kyō (京都 Kyōto) kei (京阪 Keihan) kin (南京 Nankin) —
青 biru, hijau shō (緑青 rokushō) sei (青春 seishun) chin (青島 Chintao) -
清 murni shō (清浄 shōjō) sei (清潔 seiketsu) (shin)* (清国 Shinkoku) —
輸 mengirim (shu)* (shu)* — yu (運輸 un-yu)[3]

眠 tidur (men)* (ben)* — min (睡眠 suimin) [4]

*Ucapan yang tidak umum
Ucapan Jepang (kun'yomi)
Kun'yomi (訓読み?) atau ucapan Jepang adalah cara pengucapan kata asli bahasa Jepang untuk karakter kanji yang artinya sama atau paling mendekati. Kanji tidak diucapkan menurut pengucapan orang Cina, melainkan menurut pengucapan orang Jepang. Bila karakter kanji dipakai untuk menuliskan kata asli bahasa Jepang, okurigana sering perlu ditulis mengikuti karakter tersebut.
Seperti halnya, on'yomi sebuah karakter kadang-kadang memiliki beberapa kun'yomi yang bisa dibedakan berdasarkan konteks dan okurigana yang mengikutinya. Beberapa karakter yang berbeda-beda sering juga memiliki kun'yomi yang sama, namun artinya berbeda-beda. Selain itu, tidak semua karakter memiliki kun'yomi.
Kata "kun" dalam kun'yomi berasal kata "kunko" (訓詁?) (pinyin: xungu) yang berarti penafsiran kata demi kata dari bahasa kuno atau dialek dengan bahasa modern. Aksara Tionghoa adalah aksara asing bagi orang Jepang, sehingga kunko berarti penerjemahan aksara Tionghoa ke dalam bahasa Jepang. Arti kanji dalam bahasa Tionghoa dicarikan padanannya dengan kosakata asli bahasa Jepang.
Sebagai aksara asing, aksara Tionghoa tidak dapat diterjemahkan semuanya ke dalam bahasa Jepang. Akibatnya, sebuah karakter kanji mulanya dipakai untuk melambangkan beberapa kun'yomi. Pada masa itu, orang Jepang mulai sering membaca tulisan bahasa Tionghoa (kanbun) dengan cara membaca bahasa Jepang. Sebagai usaha membakukan cara membaca kanji, satu karakter ditetapkan hanya memiliki satu cara pengucapan Jepang (kun'yomi). Pembakuan ini merupakan dasar bagi tulisan campuran Jepang dan Tionghoa (wa-kan konkōbun) yang merupakan cikal bakal bahasa Jepang modern.
Kokkun
Kokkun (国訓?) adalah karakter kanji yang mendapat arti baru yang sama sekali berbeda dari arti semula karakter tersebut dalam bahasa Tionghoa, misalnya:
• 沖 chū, okitsu, oki (jauh di laut, lepas pantai; pinyin: chōng, membilas; chòng, kuat)
• 椿 tsubaki (Kamelia; pinyin: chūn, Ailanthus)
Jūbakoyomi dan yutōyomi
Gabungan dua karakter sering tidak mengikuti cara membaca on'yomi dan kun'yomi melainkan campuran keduanya yang disebut jūbakoyomi (重箱読み?). Karakter pertama dibaca menurut on'yomi dan karakter kedua menurut kun'yomi, misalnya:
• 重箱 (jūbako)
• 音読み (on'yomi)
• 台所 (daidokoro)
• 役場 (yakuba)
• 試合 (shiai)
• 団子 (dango).
Sebaliknya dalam yutōyomi (湯桶読み?), karakter pertama dibaca menurut kun'yomi dan karakter kedua menurut on'yomi, misalnya:
• 湯桶 (yutō)
• 合図 (aizu)
• 雨具 (amagu)
• 手帳 (techō)
• 鶏肉 (toriniku).
Karakter buatan Jepang
Kokuji (国字 aksara nasional?) atau wasei kanji (和製漢字 kanji buatan Jepang?) adalah karakter kanji yang asli dibuat di Jepang dan tidak berasal dari Tiongkok. Kokuji sering hanya memiliki cara pembacaan kun'yomi dan tidak memiliki on'yomi, misalnya:
• 峠 (tōge): lintasan pegunungan
• 榊 (sakaki): pohon sakaki (Cleyera japonica)
• 畑 (hatake, hata): ladang, perkebunan
• 辻 (tsuji): sudut jalan, perempatan jalan
• 腺 (sen): kelenjar
• 働 (hatara(ku); on'yomi: dō) : bekerja.
Beberapa kokuji dipungut oleh bahasa Tionghoa, misalnya: 腺 (xiàn).
Daftar kanji
Pemerintah Jepang mengeluarkan daftar aksara kanji yang disebut Tōyō kanji (当用漢字表? karakter masa kini) pada 16 November 1946 yang seluruhnya berjumlah 1.850 karakter. Daftar ini memuat aksara kanji yang telah disederhanakan atau shinjitai (新字体? karakter bentuk baru). Sebaliknya, aksara kanji yang belum disederhanakan disebut kyūjitai (旧字体?).
Daftar Tōyō kanji digantikan dengan daftar Jōyō kanji (常用漢字?) berisi 1.945 karakter yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan Jepang pada 10 Oktober 1981. Hingga sebelum akhir Perang Dunia II, Kementerian Pendidikan sudah 4 kali mengeluarkan daftar Jōyō kanji (1923, 1931, 1942, dan 1945).
Kementerian Pendidikan juga memiliki daftar kyōiku kanji (教育漢字? kanji pendidikan) yang diambil dari daftar Jōyō kanji. Daftar ini berisi 1.006 karakter untuk dipelajari anak sekolah dasar di Jepang. Selain itu, pemerintah Jepang mengeluarkan daftar jinmeiyō kanji (人名用漢字? kanji nama orang) yang dipakai untuk menulis nama orang. Hingga 27 September 2004, daftar jinmeiyō kanji berisi 2.928 karakter (daftar Jōyō kanji ditambah 983 kanji nama orang).

Harakiri - Bunuh diri !

Rupanya pada saat sekarang ini; orang bunuh diri sedang ngetren
berat. Kebanyakan orang bunuh diri karena merasa malu dan ini bukan
hanya dilakukan oleh orang dewasa saja bahkan anak-anak sekalipun
sudah banyak yang melakukannya.


Misalnya Eko (15) dari Tegal yang
telah mencoba untuk bunuh diri, karena merasa malu menunggak uang
sekolah. Padahal pungutan uang sekolahnya hanya Rp. 5000 saja per
bulannya. Sedangkan para konglomerat hitam yang memiliki hutang lima
triliun saja tidak pernah mempunyai rasa malu.

Cara yang ditempuh untuk bunuh diri itu macem-macem, mulai dari
terjun bebas dari hotel/gedung tinggi, minum racun, menabrakan diri
ke kereta api atau busway, gantung diri, potong urat nadi maupun
bakar diri. Ini semua adalah cara bunuh diri yang kampungan alias
nDeso. Dlm soal bunuh diri kita harus belajar dari Jepang, yang
telah lama memiliki budaya malu. Mereka melakukan bunuh diri bukan
hanya sekedar bunuh diri secara begitu saja melainkan dengan ritual
dan disaksikan oleh beberapa orang, bahkan oleh anggota keluarganya
sendiri dan juga oleh bikshu Shinto.

Harakiri (Hara = perut, Kiru = menusuk) walaupun demikian orang
Jepang sendiri jarang yang menggunakan kata Harakiri. Mereka lebih
senang menggunakan kata Seppuku yang memiliki arti yang sama dengan
Harakiri. Budaya harakiri ini adalah tatacara budaya kesatrian
(Bushido) yang dilakukan oleh kaum Samurai. Budaya ini sudah
dilakukan sejak abad ke 12 dan mulai dilarang secara resmi di tahun
1868, walaupun demikian s/d saat ini masih tetap saja banyak yang
mempraktekannya.

Harakiri bukanlah sekedar bunuh diri secara begitu saja, melainkan
harus melalui upacara ritual yang jelas dan telah ditentukan
sebelumnya. Mereka melakukan ini bukannya secara dadakan, terkadang
mereka mempersiapkan upacara Harakiri ini seperti juga upacara
perkawinan yang telah dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya.

Sebelumnya orang melakukan harakiri ia harus mendapatkan seorang
pendamping asisten yang berfungsi sebagai algojo. Sang algojo ini
mendapatkan tugas untuk memancung kepala dari orang yang melakukan
harakiri. Masalahnya apabila seorang melakukan harakiri, pada saat
ia mau mati, dilarang mengeluh, menggerang, mengaduh ataupun
memperlihatkan wajah nyeri ataupun takut. Ia harus mati dengan tabah
dan gagah.

Untuk menghindar terjadinya hal ini, maka setelah sang pelaku
harakiri menusukkan pisau ke perutnya, maka sang algojo harus segera
memancung kepalanya dengan samurai. Dengan demikian ia bisa
mempercepat proses kematian dan tidak perlu menderita. Asisten
pembunuh ini lebih lazim dengan sebutan Kaishaku-Nin. Ilmu memancung
kepala dengan cepat dan baik ini bisa dipelajari dan disebut Seiza
Nanahome Kaishaku.

Para pelaku harakiri selalu mengenakan baju putih yang melambangkan
kebersihan dan kesucian. Mereka menusuk perutnya dengan menggunakan
pisau kecil yang disebut Wakizashi atau Tanto. Pisau tajam yang
berukuran 30 s/d 60 cm. Pisau tersebut harus dibungkus oleh kertas
putih.

Pisau tersebut ditusukan keperut; 6 cm dibawah pusar yang disebut
Tanden. Berdasarkan ajaran Zen disitulah letak pusatnya Chi atau
letaknya jiwa manusia. Mereka bukan hanya sekedar menusuk begitu
saja; melainkan harus dari kiri ke kanan dan dari atas ke bawah.
Prosedur merobek udel-udel ini disebut Jumonji-giri agar perutnya
bisa benar-benar robek dan ususnya keluar.

Sebelum mereka harakiri mereka menulis puisi kematian atau death
poem (jisei no ku) bagi yang ingin tahu apa saja yang ditulis di
puisi tsb silahkan klik:
Code:
http://www.salon.com/weekly/zen960805.html


Harakiri bukan dilakukan oleh pria saja tetapi juga oleh kaum
perempuan. Mereka menusukan jarum rambut atau pisau ke ulu hatinya.
Harakiri perempuan ini disebut jigai.

Bagi mereka yang ingin melakukan harakiri secara benar sesuai dengan
ritual sebaiknya membaca terlebih dahulu panduan harakiri di:
Code:
http://kyushu.com/gleaner/editorspick/seppuku.shtml


Agar tidak mati konyol secara begitu saja seperti layaknya Mr
Nobody, maka sebaiknya pada saat mau bunuh diri mengundang seluruh
wartawan cetak maupun elektronik sebanyak mungkin. Bukan hanya
sekedar RCTI saja melainkan CNN juga. Hal inilah yang telah
dilakukan oleh seorang punjangga Jepang - Mishima Yukio pada saat ia
mau melakukan harakiri pada tgl 25 November 1970 di Tokio. Bagi
mereka yang tahan banting silahkan klik film reality show harakiri
dari Mishima Yukio di sini:



Hanya sayangnya Mr Yukio memilih asisten yang Go-Block, sehingga
walaupun sudah tiga kali mencoba memancung, kepala sang pujangga
ternyata tidak berhasil. Maklum asistennya masih muda 25 th setelah
digantikan oleh algojo yang lain baru bisa berhasil.

Di Indonesia tidak akan ada pejabat yang merasa malu sehingga mau
melakukan harakiri. Apabila kasus korupsi mereka terungkap, mereka
lebih senang melakukan "Harta-Kiri" alias menyingkirkan hartanya
kebagian kiri alias keluar negeri daripada harakiri.

History of A Geisha

Geisha dapat diartikan sebagai seniman/penghibur tradisional Jepang yang biasa menampilkan kesenian Jepang seperti tarian dan musik tradisional. Alat musik tradisional yang biasa dimainkan oleh Geisha diantaranya shamisen (sejenis gitar bersenar tiga), shakuhachi (seruling bambu), dan drum.


Selain itu Geisha juga menguasai kesenian-kesenian lain seperti lagu serta tarian tradisional Jepang, upacara minum teh, berbagai buku, dan puisi. Geisha muncul pertamakali pada abad ke-18 dan berkembang pesat sampai abad ke-19, meskipun pada jaman sekarang Geisha masih dapat dijumpai di Jepang, tetapi jumlahnya tidak banyak.
Geisha berasal dari “floating world”; merupakan jaman yang dipenuhi dengan tempat-tempat hiburan, kemudian semakin berkembang menjadi dunia Geisha yang disebut dengan karyukai atau “flower and willow world”. Munculnya tempat hiburan yang pertamakali tidak lepas dari pengaruh kekuasaan Saburoemon sebagai panglima perang pada masa itu yang meminta dan mengijinkan pembangunan rumah pelacuran. Rumah pelacuran dibangun tidak jauh dari Imperial Palace (Istana Kekaisaran) di Kyoto; yang kemudian dikenal dengan nama Yanagimachi atau Willow Town.
Pada waktu itu area pelacuran sempat dipindahkan ke Shimabara karena hukum yang mengatur tentang prostitusi memberlakukan bahwa tempat-tempat hiburan harus berada pada tempat/daerah yang terpencil. Shimabara merupakan pulau tempat pesta-pora di mana seorang pria dapat dihibur sampai malam dengan tarif tertentu.
Para pelacur Shimabara dikenal kurang “available for the night” karena dengan harga yang tinggi maka tidak seorangpun dapat menyewa mereka. Ada beberapa pembagian dari para pelacur Shimabara: yang teratas disebut dengan Tayu, diikuti dengan Koshi dan Sancha, sedangkan yang berada di puncak hirarki sosial disebut dengan Hashi. Tayu dapat digambarkan sebagai pelacur yang berpenampilan sangat mewah dan seringkali memamerkan kemewahan pakaian mereka di depan para pelacur lain, serta bersikap sangat ekslusif ketika berada di tempat-tempat hiburan.
Kebanyakan dari area pelacuran tersebut didirikan dekat dengan kuil Shinto; mereka menawarkan teh dan menghibur para peziarah. Nama Ochaya (rumah teh) digunakan sebagai tempat bagi para wanita ini untuk menghibur, meskipun pada akhirnya minuman keras dengan cepat menggantikan teh pada sajian menunya. Gadis-gadis penari atau Odoroki sebagai penghibur sangat populer di daerah ini. Pada waktu itu dikenal pula keberadaan Geisha pria yang disebut dengan Taikomochi, merupakan Geisha pertamakali, tetapi keberadaan mereka semakin tergantikan oleh popularitas Geisha wanita. Taikomochi lebih tepat diartikan sebagai penghibur (komedian) pria.
Kaisar yang berkuasa pada saat itu melihat bahwa telah terjadi perubahan trend (kebiasaan) dan akhirnya menjadi suatu kepastian bahwa rumah teh diijinkan untuk dijadikan sebagai tempat hiburan. Geisha (governing Giesha) membuat hukum/aturan yang mengatur tentang layanan yang ditawarkan dan juga cara berpakaian seorang Geisha. Dengan jalan tersebut Geisha diharapkan untuk melayani dengan cara yang berbeda dengan para pelacur biasa yang lebih berhubungan dengan kegiatan prostitusi daripada sekedar menggunakan pakaian seperti golongan Tayu. Hal ini mengakibatkan munculnya kimono dan tatanan rambut yang sederhana bagi Geisha; di mana merupakan suatu peristiwa yang menunjukkan bahwa kecantikan lebih diutamakan daripada kemewahan.
Dalam hidupnya, Geisha belajar berbagai macam seni, tidak hanya digunakan untuk menghibur tamu Ochaya tetapi juga untuk kehidupan mereka sendiri. Kawasan yang diijinkan untuk pada Geisha, tumbuh pertamakali di Gion dan kemudian menyebar ke Hanamachi (wilayah Geisha, bagian kota di mana Okiya dan Ochaya berada) lain di seluruh Jepang. Okiya merupakan sebutan untuk rumah Geisha di mana Geiko dan Maiko tinggal. Geiko berarti Geisha itu sendiri, sedangkan Maiko berarti Giesha yang sedang dalam masa pelatihan dalam Hanamachi di Kyoto. Okiya biasanya membawa gadis-gadis yang kebanyakan berasal dari keluarga tidak mampu dan kemudian melatih mereka menjadi seorang Geisha. Pada masa kanak-kanak, Geisha seringkali bekerja sebagai pembantu, kemudian dilanjutkan sebagai Maiko (Geisha pemula) selama masa pelatihan.
Berikut merupakan tahapan-tahapan dari kehidupan seorang Geisha:
1. Shikomi: ketika seorang gadis masih kanak-kanak dan tinggal di Okiya maka dia akan disebut sebagai Shikomi. Shikomi merupakan ’tahapan perbudakan’ di mana anak-anak gadis bekerja berat sebagai pelayan/pembantu di Okiya; membersihkan rumah, diperlakukan sebagai pesuruh, dan lainnya. Selama tahap ini mereka tetap harus menempuh pendidikan di Sekolah Geisha yang berada di Hanamachi.
Ritual yang dijalankan di antara tahapan Shikomi dengan Minarai:
* Misedashi: ketika seorang gadis menjadi seorang Maiko, dia harus mencari seorang Onesan (Geisha yang lebih berpengalaman untuk menjadi pelatih dan penasihatnya). Geisha tersebut tidak harus berasal dari Okiya yang sama. Ritual Misedashi merupakan pemunculan/pertunjukkan Maiko yang pertamakalinya, dan banyak keriuhan di dalam upacara itu. Para fans dan spanduk yang berhubungan dengan kaligrafi dan nama Maiko yang baru biasanya dikeluarkan oleh pelindungnya dan anggota lain Hanamachi. Untuk mengikat Maiko dengan Onesan-nya, diperlukan ritual san san kudo, biasanya di tempat umum seperti Kaburenjo (tempat pertemuan untuk tiap Hanamchi, biasanya di dalamnya terdapat teater, kantor, dan sekolah Geisha) dan disertai dengan mengadakan pesta.
2. Minarai: setelah mereka menjadi ahli dalam hal seni-seni Geisha dan lulus ujian (berupa tarian yang rumit) maka mereka akan dipromosikan ke tahap ke-dua yaitu Minarai. Tahap Minarai ini membebaskan seorang Maiko untuk bekerja sebagai pembantu. Dengan melakukan ritual Misedashi, seorang Maiko sekarang menjadi anggota umum komunitas Geisha, tetapi belum cukup mendapatkan pelatihan untuk menghibur. Hal tersebut menjadi tanggungjawab Onesan untuk membawanya ke dalam Ozashiki (“Tatami room”; pesta atau jamuan makan, sebuah istilah yang digunakan Geisha untuk mengartikan suatu janji), di mana Maiko akan duduk sambil mengamati Geisha yang lebih berpengalaman saat bekerja. Dengan cara ini, Maiko akan belajar menjadi seorang Geisha, dikenalkan dengan para calon klien-nya dan diperlihatkan pada publik meskipun sedang dalam masa pelatihan. Pada masa ini, dan selama menjadi Maiko, ia akan mengikuti kelas-kelas seni di Kaburenjo, meskipun ia tetap mengikuti sekolah formal.
Ritual yang dijalankan di antara tahapan Minarai dengan Okami-san:
* Mizuage: berarti keperawanan Maiko akan dijual kepada seorang klien, meskipun hukum prostitusi Jepang kini melarangnya.
* Perubahan Chignon (hairstyle): ada lima macam tatanan rambut yang harus dikenakan oleh Maiko sebagai tanda tahapan yang sudah dipelajarinya.
* Erikae: perubahan kerah pakaian. Ini merupakan upacara ketika Maiko telah menjadi Geiko. Pada tahap ini ia akan mengganti kimononya dari furisode (”swinging sleeve”; kimono berlengan kupu-kupu, merupakan kimono dengan lengan panjang untuk gadis yang belum dewasa) menjadi kosode, dan mengganti kerah pakaiannya dari warna merah menjadi putih. Semenjak itu ia harus berpakaian dan bersikap lebih seperti wanita dewasa di mana perubahan warna kerah kimono berarti menunjukkan tingkat kedewasaannya.
* San san kudo: merupakan ritual minum dari cangkir sake, tiga isapan dari masing-masing tiga cangkir. Seperti ritual Misedashi, San san kudo ditampilkan saat Geiko mendapatkan seorang Danna (pelindung Geisha yang menyokong keuangan dan berhubungan khusus dengannya; lebih mengarah ke aktivitas seksual tetapi bukan suatu keharusan). Danna biasanya adalah seorang pria kaya, kadang-kadang sudah memiliki istri.
* Hiki-iwai: merupakan perayaan yang di adakan ketika seorang Geisha pensiun/beristirahat dari dunia hiburan. Dewasa ini, perayaan tersebut dapat berarti banyak hal, yaitu ia pensiun secara resmi kemudian menikah atau menjadi seorang Okami-san.
3. Okami-san: merupakan wanita pemilik sebuah Ochaya atau Okiya. Profesi ini umum untuk Geisha yang sudah pensiun untuk mendidik Geisha lain, membesarkan anak, dan atau mengerjakan profesi lain yang diperuntukkan bagi wanita separuh baya di Jepang. Biasanya seorang Geisha akan menyatakan dirinya pensiun setelah memutuskan untuk menikah.
Golongan Tayu semakin lama semakin kehilangan popularitas dan sekarang sudah tidak ditemukan keberadaan Tayu sepanjang hari penuh. Meskipun ada beberapa wanita yang mempertahankan tradisi dengan cara hanya mengadakan pertunjukan di waktu siang hari.
Dengan demikian, lewat keberadaan Geisha kemudian dikenal adanya lambang/contoh high fashion, yang biasanya merupakan para pelopor berbagai trend baru dan memiliki kebiasaan Iki (simplistic chic; cantik-sederhana, gaya dari fashion Geisha). Hal tersebut membuat mereka terlalu disakralkan serta dengan jumlah Geisha yang semakin berkurang membuat mereka tidak dapat terjangkau oleh pria kelas menengah. Semenjak kebudayaan barat menguasai Jepang, Geisha bukan lagi sebagai wanita penghibur/seniman yang mempunyai high fashion tetapi sebagai pemegang kebudayaan tradisional.
Perang Dunia II merupakan hal utama yang merubah kehidupan Geisha. Hukum baru tentang prostitusi dan gadis-gadis penghibur mengatur bahwa para gadis tidak lagi bisa dijual oleh keluarganya untuk menjadi seorang Geisha, juga melarang transaksi jual-beli keperawanan Maiko. Hal itu mengakibatkan hilangnya upacara tradisional Mizuage yang dilakukan pada masa lalu. Mizuage berarti ”the flowing of the waters” atau upacara yang diadakan ketika seorang Maiko kehilangan keperawanannya.
Pada jaman dahulu, anak-anak perempuan dari seorang Geisha juga akan tumbuh menjadi Geisha, biasanya sebagai seorang penerus/pewaris (Atotori) atau tetap sebagai anak perempuan (musume-bun) di Okiya. Kini kehidupan Geisha sangatlah berbeda, gadis-gadis yang menjadi seorang Geisha dilakukan berdasarkan keinginannya sendiri dan seringkali hanya bertahan sampai mereka menikah. Seorang gadis yang ingin menjadi Geisha, kini diharuskan untuk menempuh seluruh pendidikan formal bahkan sampai ke jenjang perguruan tinggi. Seiring dengan perkembangan dunia modern, pertumbuhan Geisha cenderung lambat dan Hanamachi semakin jarang ditemui pada saat ini.

Geisha

KONTRADIKSI DALAM ASUMSI RELIGIUSITAS PADA BANGSA
JEPANG: TELAAH FILOSOFIS PERGESERAN MAKNA RELIGI

Sartini
Abstract: The religion generally creates religious society. Thereligious society principally could be seen from their attitude thatfollow religious norms, because religion it self guides the people notto do something bad. But in special case, religious Japanese peoplewere founded something unusual and contradict to this ideal values.In the history, the concepts of Geisha, Jugun Ianfu, and any sexualharassments had been founded in religious Japanese people. Thiscontradiction may be caused by the change of their religion point ofview.




Kata kunci: Geisha, Jugun Ianfu, kekerasan seksual, masyarakat agamis
Gagasan akan tema ini muncul setelah melihat adanya beberapa peristiwa yang berhubungan dengan perilaku bangsa Jepang, khususnya yang berhubungan dengan wanita. Peristiwa atau fenomena dimaksud adalah jugun ianfu yang menghebohkan dunia dan menjadi trade mark bangsa Jepang, budaya geisha yang juga khas Jepang dan “budaya” pelecehan seksual terhadap wanita. Sedangkan di sisi lain, bangsa Jepang sering dianggap sebagai bangsa yang religius. Hal ini dapat dilihat dari adanya keyakinan bangsa Jepang bahwa bekerja merupakan satu bentuk manifestasi peribadatan. Di samping itu penampilan cultural bangsa Jepang dengan banyaknya festifal keagamaan memberi gambaran sesungguhnya ungkapan-ungkapan religiusitas bangsa Jepang sangat kental. Bangsa Jepang sangat menyukai acara-acara ziarah dan perayaanhari raya (Benedict, 1982:97) Singer berpendapat bahwa masyarakat Jepang adalah masyarakat yang matang dari segi budaya (Singer,1990:94). Hal ini dapat dilihat pada kematangannya mengemas budaya sendiri dan budaya luar menjadi budaya yang khas Jepang. Orang Jepang menunjukkan perilaku sinkretik dengan mengkombinasikan beberapa ritual keagamaan dalam hidup untuk tujuan-tujuan tertentu (Earhart, 1984:22). Agama atau secara lebih umum religi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam perkembangan Bangsa Jepang dan tentunya mempengaruhi perilaku masyarakat secara keseluruhan. Menurut FukuzawaYukichi (1985:220) agama dan religi merupakan sumber nilai bagi kehidupanmasyarakat Jepang.
Bila dikatakan bahwa agama lazimnya akan melahirkan budaya agamis pada suatu masyarakat (Brede Krentensen dalam Musa Asy’ari dkk, 1993:56) maka mungkin tesis ini pun harus diterjemahkan. Di Jepang dikenal banyak upacara dan festival keagamaan. Boleh jadi ini salah satu bagian dari kategori agamis. Dalam arti yang lebih rohaniah mungkin agama akan memberi arti dalam menuntun masyarakat untuk hidup yang lebih beradab, meskipun istilah beradab tidak selalu memberi pengertian standar. Kadang suatu hal yang dianggap beradab dalam suatu budaya dihargai berbeda dalam budaya lain. Ekstrimnya lagi, suatu hal yang dilarang dalam budaya tertentu mungkin tidak dilarang dalam budaya lain. Yang dilarang di dalam kepercayaan atau religi yang satu tidak atau bahkan dianjurkan dalam religi yang lain. Kegiatan ritual yang bernilai dalam religi tertentu mungkin ditafsirkan sebagai kejahatan dalam tradisi religi yang lain. Dalam masyarakat Jepang yang dianggap budayanya telah matang sebagaimana di atas, dengan jalin-menjalinnya agama-agama di Jepang dengan budaya masyarakat (Inazo Nitobe, 1900:7-10) maka ironis bila ternyata bangsa Jepang menunjukkan perilaku yang menunjukkan moralitas rendah terutama dalam perlakuannya pada wanita. Oleh karena itu, maka dimungkinkan ada satu penyebab sehingga muncul dua hal yang bertentangan tersebut. Yad Mulyadi(1997:58) menengarai bahwa aspek dominan yang menentukan pola tindakan manusia terhadap lingkungan salah satunya adalah religi. Oleh karenanya maka sangat mungkin ada unsur-unsur dalam religi yang tumbuh di Jepang mewarnai fenomena masyarakat yang kemudian muncul. Masalahnya kemudian, mengapa yang muncul justru hal negatif yang lazimnya tidak mencirikan moralitas masyarakat religius itu sendiri. Atas dasar dua sisi factual dan teoritis di atas maka tampak bahwa terdapat semacam logika yang kontradiktif. Lazimnya, masyarakat yang cenderung dipahami sebagai bersifat religius akan menampilkan karakter masyarakat yang cenderung memenuhi standar moralitas religius yang menempel padanya. Sistem keyakinan pada dasarnya akan menjadi sistem nilai kebudayaan, menjadi pendorong, penggerak dan pengontrol terhadap anggota individu dan masyarakat agar berjalan sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan dan ajaran-ajaran agamanya (Robertson, 1998:vi-viii). Pada bangsa Jepang (istilah bangsa menunjukkan Jepang sebagai kelompok manusia dengan karakter tertentu), tesis tersebut terkesan bertolak belakang. Atas dasar logika berpikir ini, maka dalam artikel ini akan dibahas kemungkinan teoritis yang mendasari hal tersebut.

GEISHA, JUGUN IANFU, DAN PERLAKUAN MINOR BANGSA
JEPANG TERHADAP WANITA SEBAGAI FAKTA SEJARAH

Geisha merupakan bagian dari sejarah dan kebudayaan Jepang. Geisha sebagai bagian dari sejarah dan kebudayaan Jepang cukup fenomenal. Di satu sisi menggambarkan betapa anggun dan berbudayanya wanita Jepang tetapi disi lain memunculkan gambaran negatif wanita Jepang itu sendiri. Geisha pernah diteliti antaralain oleh Ida Anggraeni Ananda (1994). Kajian ini menyimpulkan bahwa sesungguhnya geisha sebagai agen seni tidak sama dengan wanita penghibur yang lain. Seorang geisha asli adalah wanita Jepang
yang berbakat dan berkemampuan lebih dalam bidang seni, moral dan intelektual dengan aktivitas yang terpola dan terkonsep. Pandangan bahwa geisha adalah wanita penghibur adalah salah karena geisha menghibur melalui seni dan penampilan keduanya berbeda. Geisha di masa lampau di samping berfungsi menghibur para pria dengan menampilkan banyak seni dan juga menjadi teman bercakap-cakap. Hal ini terjadi karena para istri masa lampau tidaklah dianggap sebagai makhluk sejajar yang dapat menjadi teman bicara bagi suaminya. Ketika konsep kesetaraan mulai memasuki pemikiran orang Jepang, geisha menjadi langka dan hanya ditampilkan pada saat-saat tertentu. Sebagai kesimpulan, kajian ini memandang positif potret seorang geisha. Meskipun demikian, yang ideal dan bernilai pada diri geisha dapat saja bergeser pada tataran permukaan saja sehingga yang berkembang di masyarakat, geisha adalah juga wanita penghibur seksual. Mungkin benar bila dikatakan tidak ada yang menjamin apakah seorang geisha yang hidup dalam dunia hiburan dengan jaman yang semakin berubah akan tetap kukuh dalam kegeishaannya yang asli. Buku Memoar Seorang Geisha dari Golden (2002) menggambarkan bahwa geisha tidak hanya seperti yang ideal di atas. Seorang geisha harus mengorbankan harga dirinya dalam hidup sebagai penghibur. Satu kemungkinan, geisha pada jamannya memang figur ideal dan dibutuhkan masyarakat karena konsepnya yang masih murni (ideal). Akan tetapi setelah berkembang di masyarakat akan muncul semacam tingkatan dalam konteks nilai wanita tersebut sebagai penghibur. Oleh karena itu, dimungkinkan ada geisha mulai dari yang berkualifikasi dalam konsep asli, murni geisha sebagaimana ideal di jamannya, sampai yang berkualifikasi sejenis wanita penghibur. Meskipun demikian dapat disimpulkan profesi mereka sama-sama berada dalam peran sebagai penghibur para pria. Oleh karenanya, tidak aneh sinyalemen Kartini-Kartono yang mengatakan bahwa ada kecenderungan umum kaum wanita banyak dijadikan budak nafsu biologis para pria, baik dalam fungsi prokreatif (melahirkan anak) maupun dalam fungsi “hiburan” (Kartini-Kartono, 1986:2). Jugun ianfu, merupakan salah satu tema yang menarik perhatian di antara sekian banyak tema yang mengganggu rasa keadilan dan perghargaan harkat kemanusiaan khususnya wanita. Fenomena ini telah meninggalkan trauma sosial yang dalam dan melukai kelompok bangsa lain (Saya Shiraishi dan Takashi Shiraishi, 1998). Jugun ianfu adalah sebutan untuk perempuan-perempuan Asia, khususnya, yang direkrut oleh pemerintah Jepang pada masa pendudukan tentara Jepang sekitar Perang Dunia II dan dijadikan budak nafsu seksual bala tentara Jepang (confort women). Perempuan-perempuan ini direkrut pada usia yang
sangat muda dengan dijanjikan untuk meneruskan belajar di negeri Jepang atau dengan alasan untuk menjadi penyanyi atau penari. Secara sederhana, perempuan-perempuan belia ini terbuai oleh iming-iming pemerintah Jepang atau dalam kasus tertentu dipaksa oleh orang tua mereka yang pada waktu itu harus tunduk pada pemerintah pendudukan tentara Jepang. Tentara pendudukan yang memaksa daerah pendudukan untuk mengikuti aturan yang dibuat penjajah itu sudah biasa dilakukan. Penduduk pribumi yang takut terhadap penjajah itu juga biasa. Penjajah memang pada dasarnya ingin mengeruk segala keuntungan, biasanya hasil bumi, dari negara yang dijajah. Oleh karenanya maka tindakan-tindakan pemaksaan sering dilakukan untuk mencapai tujuannya. Lebih dari itu, arogansi dan superioritas bangsa penjajah tidak hanya berimbas pada pemaksaan untuk tujuan material. Karena bangsa penjajah -kebanyakan tentara - tidak banyak membawa para wanita istri-istri mereka sedangkan kegiatan seksual merupakan salah satu kebutuhan manusia, maka sangat mungkin di daerah pendudukan ditemukan tentara yang memanfaatkan wanita pribumi untuk dijadikan istri, memanfatkan rumah pelacuran, atau
bahkan melakukan pemaksaan terhadap wanita untuk pelampiasan nafsu. Kondisi daerah konflik dikatakan rentan terhadap tindak kekerasan seksual, perkosaan dan sejenisnya (Wiwik Setyawati dalam Achie Sudiarti Luluhima, 2000:169). Ditemukan adanya banyak kasus tentara pendudukan melakukan perkosaan terhadap wanita pribumi. Korban perkosaan oleh tentara atau sipil pada wanita pada masa perang terjadi sepanjang sejarah. Bahkan hampir keseluruhan keberadaan tentara di daerah konflik diwarnai noda perkosaan (Apong Herlina dalam http://www.korea-np.co). Begitu pula yang terjadi pada pemerintah pendudukan tentara Jepang di Indonesia. Hanya saja yang terjadi, tentara Jepang bahkan mengoperasikan dan mengatur keseluruhan kebutuhan akan hal tersebut
dengan mendirikan pusat-pusat pelacuran (comfort station). Perekutannya pun dengan kekerasan kekuasaan militer yang penuh intimidasi (http://www.mofa.go.jp). Dari sini terlihat bahwa kebutuhan biologis seksual manusia -tentara Jepang- bahkan harus dipenuhi dengan cara apapun. Karena dalam hal ini tentara pendudukan yang berkuasa, maka secara resmi pula hal tersebut dipenuhi dengan komando militer yang langsung berhubungan dengan pemerintah Jepang. Hal ini bisa dibuktikan dengan telah ditemukannya dokumendokumen berkaitan dengan perintah perekrutan dan pendirian comfort station (Apong Herlina dalam http://www.korea-np.co.jp). Maka sudah selayaknya bila kemudian muncul tuntutan dari sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat atau setidaknya himbauan moral secara internasional dari Mahkamah Internasional agar pemerintah Jepang mengakui hal itu sebagai kesalahan formal pemerintah Jepang. Oleh karenanya, pemerintah Jepang diminta untuk mengajukan permohonan maaf baik secara formal maupun individual, memberikan kompensasi dan memulihkan harga diri para mantan jugun ianfu. Reaksi yang kemudian muncul ternyata tidak memunculkan aksi sebagaimana yang diharapkan para penuntut ini. Bahkan pemerintah Indonesia sebagai pihak bangsa yang ikut menderita sebagai akibat peristiwa itu nampaknya belum merespon masalah ini sebagai hal yang harus diselesaikan secara kenegaraan. Ketidakpedulian terhadap masalah ini antara lain didasari oleh pemikiran bahwa kasus jugun ianfu merupakan masalah aib yang harus ditutupi rapat-rapat. Di tengah masyarakat bahkan mantan jugun ianfu ini harus menerima tatapan sinis, sindiran dan perlakuan massa yang menghakimi (Juliani Wahjana dalam Suara Perempuan Radio Nederlands 17, 24, dan 31 Desember 2001). Nasibnya seperti halnya kasus pelecehan atau perkosaan yang terjadi di masyarakat yang tidak banyak dilaporkan ke polisi karena dianggap sebagai aib keluarga yang akan mencemarkan bila diketahui umum. Ada perasaan malu di dalamnya, meskipun dirasa sebagai ketidakadilan. Atas argumentasi semacam ini, maka dengan dalih melindungi martabat wanita Indonesia, pemerintah Indonesia (semasa Orde Baru) menolak uang kompensasi yang diurus Asia Women’s Funds, sebuah lembaga swasta yang mengurusi ganti rugi mantan jugun ianfu). Sebagai gantinya Indonesia menerima “bantuan” yang diterima Departemen Sosial yang digunakan untuk membangun panti-panti sosial yang sedianya diperuntukkan bagi para mantan jugun ianfu ini. Meskipun disinyalir tidak ada mantan jugun ianfu yang memanfaatkan panti-panti sosial tersebut (http://www.gamma.co.id). Tidak kalah anehnya adalah tanggapan pemerintah Jepang. Menurut catatan Agus Susanto (Kompas, 13 Februari 2002), pemerintah Jepang menolak tuntutan pihak-pihak yang menginginkan permintaan maaf, kompensasi dan sebagainya yang juga diperjuangkan dalam bentuk RUU Perkembangan Pemecahan Masalah mengenai Korban Tindak Pemaksaan Seksual pada Masa Perang oleh Koalisi Partai Oposisi Jepang . Delegasi Partai Oposisi Tomiko
Okozaki yang pernah berkunjung ke Indonesia bahkan mengatakan bahwa pemerintah Jepang selalu mengatakan bahwa persoalan jugun ianfu telah selesai. Mereka berlindung pada Perjanjian San Fransisco dan Perdamaian Indonesia-Jepang pada 50 tahun lalu. Padahal perjanjian tersebut dibuat ketika masyarakat Jepang dan masyarakat internasional belum mengenal persoalan jender. Catatan dalam http://www.gamma.com menyebutkan bahwa kelompok sayap kanan, Uyoku, juga membela pemerintah Jepang seakan-akan pemerintah Jepang tidak pernah memaksa Mardiyem dan kawan-kawannya menjadi jugun ianfu. Jepang memang masih berusaha menolak mengakui hal tersebut sebagai kejahatan yang telah dilakukan meskipun Simposium Internasional untuk Wilayah Asia dengan tema “Menuntut Pertanggungjawaban Jepang Masa Lalu” di Pyongyang Korea Utara 31 Mei 2002 juga telah merekomendasikan untuk menuntut pemerintah Jepang meminta maaf secara formal dan individual langsung pada mara mantan jugun ianfu dan mengusulkan kompensasi. Jepang merupakan satu-satunya negara di dunia yang menyambut abad 21 dengan tidak menyelesaikan masalah masa lalunya, padahal Jepang telah melukai dan membunuh 10 juta manusia romusha dan menderitakan 200 ribu budak seks (jugun ianfu) (KR, 3 Juni 2002). Jugun ianfu sebagai fenomena sosial banyak dibahas baik di lingkungan nasional, regional Asia, maupun internasional. Pembahasan pada umumnya terfokus pada kajian hukum, hak asasi manusia, dan jender. Situs www.mofa.go.jp pernah memuat artikel dengan judul On the Issue of Wartime Comfort Women pada tanggal 4 Agustus 1993 dari Ministry of Foreign Affairs of Japan, Cabinet Counsellors’ Office on External Affairs. Radio Nederlands (Juliani Wahjana, 2000) juga pernah melakukan pembahasan masalah jugun ianfu ini dengan menghadirkan Mardiyem, seorang mantan jugun ianfu yang sampai sekarang masih aktif menggugat pemerintah Jepang bersama LBH Yogyakarta. Kajian ini juga memuat apa dan bagaimana kejadian tersebut, akibat-akibatnya bagi pribadi baik psikologis maupun sosial, juga usaha-usaha yang pernah ditempuh untuk menyelesaikan termasuk adanya seruan moral internasional. Demikian juga situs www.gamma.co.id memuat pengalaman Mardiyem dan perempuan lainnya, masalah kompensasi dan bantuan, dan sedang dibuatnya film tentang jugun ianfu ini oleh Kana Tomoko (BLU dan Seichi Okawa, 2001). International Symposium of China Comfort Women juga membahas makalah dengan judul Japanese Military Comfort Houses and Overseas China Comfort Women in South East Asia (Hayashi Hirofumi, 2000). Di dalam artikel ini termuat masalah rekrutmen yang memfungsikan aktivitas advertensi, kekuasaann pimpinan lokal dan penggunaan kekuatan, siapa yang direkrut dan jumlah, termasuk juga wanita Jepang yang dipaksa dibawa ke Malaysia dan Borneo. Meskipun sebatas cerita pengalaman dan penyelidikan di lapangan di Pulau Buru, Pramudya Ananta Tour juga mengkisahkan ditemukannya banyak wanita mantan jugun ianfu yang ditinggalkan tentara Jepang setelah Jepang menyerah dan hidup menderita karena tersesat dan diperistri kepala suku yang sangat kolot dan tradisional (Pramudya Ananta Toer, 2002). Situs www.fire.or.cr Desember 2001, witness.peacenet.or.kr juga membahas sekitar tuntutan tanggung jawab Jepang akan masalah tersebut. KR 3 Juni 2002 (Don, 2002), Kompas 13 Februari 2002 (Agus Susanto, 202), KR 1 Mei 2002 (Eddy Hasby, 2002) memuat tulisan tentang perlunya penyelesaian masalah terutama tuntutan terhadap pemerintah Jepang sebagai hasil simposium internasional di Pyongyang 2002, desakan Partai Oposisi Jepang dan juga tentang usulan LBH Yogyakarta untuk memasukkan materi jugun ianfu sebagai tambahan isi kurikulum nasional. Secara lebih argumentatif Apong Herlina, sebagaimana dimuat dalam situs www.koreanp.co.jp mengungkap fenomena pelik ini termasuk informasi tentang adanya tim investigasi Jepang dalam mencari kebenaran akan hal tersebut. Tidak keluar dari visi sebuah lembaga bantuan hukum, dalam artikel ini juga ditulis kesimpulan argumentasif penyelesaian pertanggungjawaban pemerintah Jepang dan kompensasi terhadap perburuhan, tenaga kerja dan perkosaan tentara Jepang di koloni Indonesia.
Ditemukan kajian dan penelitian tentang jugun ianfu pada perpustakaan Pusat Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada. Yang pertama dari Budi Hartono dan Dadang Yuliantoro (1997) dengan judul tulisan Derita Paksa Perempuan Kisah Jugun Ianfu pada Masa Pendudukan Jepang 1942- 1945. Di dalam kajian ini dibicarakan kisah hidup para jugun ianfu sekitar masa pendudukan Jepang. Mendasarkan pada kajian ini selanjutnya diteliti tentang dampak baik fisik maupun psikis akibat kekerasan seksual tersebut. Lucia Juningsih tahun 1997 meneliti dampak kekerasan ini pada para mantan jugun ianfu di wilayah Yogyakarta. Di samping diteliti dampak fisik dan psikisnya, juga diteliti respon lingkungan dan strategi para mantan jugun ianfu tersebut dalam menghadapi hambatan sosial dalam pergaulan di masyarakat (Lucia Juningsih, 1999). Secara kultural suatu peristiwa (budaya) merupakan akibat dari akumulasi pemahaman masyarakat akan budayanya. Dimungkinkan adanya hubungan antara peristiwa munculnya jugun ianfu dengan peristiwa atau perilaku sejenis misalnya bagaimana masyarakat Jepang memposisikan wanita itu sendiri. Sebagaimana budaya patriarkhi yang lain yang memandang wanita sebagai makhluk yang lemah sehingga kaum pria mempunyai kekuasaan besar dan menentukan nasib kaum wanita (Lucia Juningsih, 1999:7), budaya Jepang tidak lepas dari konsep tersebut. Budaya kaum samurai yang berurat berakat pada masyarakat Jepang menunjukkan hal tersebut. Di dalam The Hagakure: A Code to the Way of Samurai (Yamamoto Tsunetomo,1980) disebutkan sebagai berikut. Di dalam dunia samurai yang merupakan cikal bakal tentara Jepang, berlaku etiket hubungan wanita-pria sebagaimana hubungan rakyat dengan raja. Pertama-tama, seorang istri harus berpikir bahwa suaminya adalah sebagai rajanya. Dengan kata lain istri harus menganggap rajanya di atas segala yang lain (Yamamoto Tsunetomo, 1980:16). Ada kesan bahwa istri atau wanita umumnya adalah makhluk rendahan yang harus tunduk dan patuh pada kehendak raja, tuan, laki laki. Hal ini juga bisa dilihat dari perilaku permisifnya wanita Jepang yang dapat dilihat pada kedudukannya di rumah tangga. Penelitian tentang budaya pelecehan seksual yang terjadi di masyarakat Jepang atau yang dilakukan orang Jepang di negara lain juga menunjukkan keterkaitan dengan budaya merendahkan wanita ini (lihat Sartini, 2001). Dan yang terakhir paparan yang berupa memoar dari seorang geisha menunjukkan bagaimana pihak wanita menjadi semacam komoditi bagi pria Jepang (Golden, 2002). Dengan mendasarkan pada munculnya peristiwa jugun ianfu, fenomena geisha, pelecehan seksual dan kedudukan wanita di rumah tangga dan di masyarakat maka dimungkinkan adanya benang merah yang menghubungkan antar peristiwa. Tentu saja sebagai letupan-letupan budaya ada faktor filosofis kultural yang memberi inspirasi bagi munculnya peristiwa-peristiwa tersebut. Satu aspek yang paling mungkin adalah pernah adanya konsep religius dalam bentuk ajaran etis filosofis maupun ritual yang kemudian berkembang menjadi bentuk tindakan masyarakat yang tidak disadari dan ternyata menyimpang dari kelaziman predikat yang semestinya melekat. Masalahnya, bagaimana hal tersebut dapat dipahami secara teoritis.

KEMUNGKINAN TEORITIS PERGESERAN PEMAHAMAN RELIGI
Religi, dari bahasa Inggris religion, sering juga diartikan dengan agama, dipahami dengan makna percaya pada Tuhan, kekuatan supranatural atau kehidupan akhirat. Khusus istilah agama, biasanya mengacu pada sebutan agamaagama besar dunia seperti Hindu, Budha atau Islam (Pals, 2001:15). Akan tetapi dalam kontek Jepang religi dapat lebih bersifat umum. Religi lebih bersifat umum, dapat dikonotasikan dengan istilah-istilah lain yang dekat seperti: Tuhan, dewa, malaikat, wahyu, roh, puasa, monoteisme, mistik, totemisme, tabu, sakral, kudus, duniawi. Kata-kata tersebut mempunyai persamaan dengan istilah bovennatuurlijk (gaib), yang mengandung nilai boven-natuur (di atas alam). Kata-kata tersebut ada hubungannya dengan hal-hal yang tidak dapat diamati melalui persepsi normal. Oleh karenanya, religi termasuk semua yang berkaitan dengan kenyataan yang tidak dapat ditentukan secara empiris dan semua gagasan tentang perbuatan yang bersifat dugaan dan hal tersebut dianggap benar. Magi dan ramalan yang ada di masyarakat termasuk di dalamnya (Baal, 1987: 32, 34). Religi Jepang menunjukkan banyak hal dan tidak selalu mengarah pada lembaga agama yang besar. Religi Jepang lebih mewujud dalam konteks kebudayaan secara luas sehingga wujud kepercayaan rakyat (sering disebut agama rakyat) menjadi sangat kental. Religi bagi bangsa Jepang secara khusus lebih mudah dipahami sebagai adanya kepercayaan kepada kekuatan supranatural dengan segenap konsekuensinya. Baal mengatakan bahwa religi pada umumnya yang merupakan gejala manusiawi dan juga sebagai kompleks gagasan yang muncul dalam kelompok manusia tertentu. Oleh karenanya religi selamanya seperti juga kebudayaan (dan religi merupakan bagian di dalamnya), terikat pada kelompok (Baal, 1987:34). Religi Jepang mempunyai kekhasan termasuk dala mperkembangan yang berbeda dengan perkembangan religi pada masyarakat lai nMenurut Geertz, agama menjadi menarik secara sosiologis karena agama begitu juga religi, tidak hanya akan menggambarkan tatanan sosial tertentu, meskipun kabur dan tidak lengkap, tetapi juga akan membentuk tatanan sosial seperti: lingkungan, kekuasaan politis, kesejahteraan, kewajiban hukum, afeksi personal, juga rasa akan keindahan (Geertz, 1992:41). Atas dasar pemahaman ini maka sangat mungkin peran lembaga-lembaga sosial di masyarakat akan ikutmenentukan perkembangan religi itu sendiri. Ini dapat dilihat pada kasus Jepang
ketika Shinto dan Budha sebagai religi menjadi satu asset politik yang digunakan untuk kepentingan tertentu. Shinto sebagai satu bentuk kepercayaan bangsa Jepang pernah menjadi penggalang patriotisme, satu pergeseran makna religi yang sifatnya sacral menjadi hanya berfungsi pada kepentingan profan, apalagi politis. Pandangan pragmatis bangsa Jepang (Sartini, 1998) juga menunjukkan bahwa agama lebih menjadi pendorong kesejahteraan hidup di dunia ini dan bukan menyuruh mereka berpikir tentang dunia lain. Oleh karena peran politik yang berkembang di Jepang nampak cukup menonjol, maka kebesaran pemimpin masyarakat juga menjadi hal yang krusial menentukan pergeseran makna religi ini. Munculnya satu religi baru ( dan dalam hal ini bahkan cukup subur pertumbuhna religi di Jepang) menurut Barbu, normalnya akan diikuti dengan munculnya kelompok sosial baru yang di dalamnya ada yang memprakarsai dan diprakarsai (Barbu,1971:64). Oleh karena kuatnya peran pemimpin di Jepang memungkinkan perubahan ini sehingga dalam kasus di atas, peran transenden religi dapat beralih lebih pada peran politik. Agama dan religi sebagai bagian dari masyarakat mempunyai andil yang signifikan dalam memberi dan membentuk corak masyarakat. Hendropuspita (1983:34), khusus dengan menyebut agama, mengatakan bahwa agama merupakan suatu jenis sistem sosial yang dibuat oleh penganut-penganutnya yang berporos pada kekuatan-kekuatan yang bersifat non-empiris yang dipercayai dan didayagunakan dalam pencapaian keselamatan bagi diri dan juga masyarakat kelompoknya. Secara lebih tegas dijelaskan setidaknya keterkaitan antara agama dengan masyarakat dapat dilihat pada lima kategori fungsi: edukatif, penyelamatan, pengawasan sosial, pemupukan persaudaraan dan fungsi tranformatif (Hendropuspita, 1983:38-56). Dengan fungsi-fungsi ini agama dan religi akan hidup di masyarakat. Dalam kasus Jepang, fungsi-fungsi religi ini dapat dipertanyakan. Sejauh mana bentuk edukasi religi tetap mengalir dalam konteks nilai yang seharusnya. Fungsi penyelamatan mungkin harus diterjemahkan dalam dua sisi, duniawi dan non duniawi. Religi Jepang tida semuanya mengajarkan pentingnya memikirkan hidup setelah dunia ini. Fungsi persaudaraan dalam konteks sosial di Jepang bahkan mewujud dalam kepentingan politik. Fungsi transformatif sebagai media transfer nilai ada hanya saja kenyataannya nampak terjadi pergeseran sebagaimna diungkap sebagai latar belakang tulisan ini.Agama begitu juga religi akan hidup dalam masyarakat dan bergerak sesuai dengan fungsi-fungsinya dan bersinergi dengan fungsi masyarakat itu sendiri. Dengan demikian hidup religi dan hidup masyarakat akan berjalan sesuai dengan sejarahnya yang meliputi segala unsur yang sifatnya fisik dan non fisik bahkan yang supra natural. Kesemua unsur akan berjalan dalam fungsi kebudayaan yang merupakan wadah kreativitas manusia. Dawson mengatakan, kebudayaan adalah sekaligus pandangan hidup yang mendasari yang di dalamnya adalah tertib spiritual itu sendiri. Kebudayaan sebagai jalan hidup ini tidak terpisah dari tradisibahasa dan pikir serta pewarisan pengetahuan. Termasuk dalam hal ini adalah usaha-usaha terorganisasi dari kegiatan manusia dengan kekuatan ilahiah transenden yang mengatur dunia dan tempat manusia menggantungkan hidupnya. Faktor material dan spiritual saling memasuki secara sempurna dan tidak terpisahkan sehingga religi dan kehidupan menyatu. Oleh karenanya setiapkejadian dalam hidup dapat dikatakan sebagai bagian dari tradisi religius dan biasa ditanamkan dalam arti religius (Dawson,1959:197). Tampak di sini bahwafungsi-fungsi religi berjelan seiring sejarah dan perkembangan kebudayaan. Jalinm enjalin sehingga sulit dipisahkan mana peran religi yang ilahiah dan mana peran sosial politik yang duniawi. Oleh karena itu maka logis ketika satu pemahaman atas dasar religiusitas berkembang di dalam masyarakat dan menjadi sangat cultural. Mengalir begitu saja sepanjang sejarah hidup manusia. Dawson mengatakan, dalam banyak kasus tidak ada konflik terbuka dalam proses ini tetapi yang terjadi adalah suatu penyesuaian diri yang gradual dan hampir keseluruhannya tidak disadari hidup dalam tradisinya sampai akhirnya memunculkan suatu integrasi budaya yang baru (Dawson,1959:200). Hal ini tidak lepas dari fungsi-fungsi agama bagi manusia sebagaimana kategori religi di atas. Agama akan memberi makna spiritual bagi kehidupan manusia di samping aspek ajarannya akan tumbuh dan berkembang dalam kancah berbudaya manusia itu sendiri. Maka boleh jadi bangsa Jepang telah melewati satu proses religi yang panjang sehingga apa yang dulu kala dimungkinkan menjadi salah satu ritual religi yang bernilai ilahiah termanifestasikan sekarang menjadi perilaku dan tindakan masyarakat yang tidak disadari ternyata jauh menyimpang dari konteks religi yang sebenarnya suci.
DAFTAR PUSTAKA
Achie Sudiarti Luluhima,2000, Pemahaman Bentuk-bentuk Tindak Kekerasan
terhadap Perempuan dan Alternatif Pemecahannya, Alumni, Jakarta.
Baal, J. van, 1987, Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropoligi Budaya Jilid I,
Jurnal Filsafat, Agustus 2003, Jilid 34, Nomor 2
156
Gramedia, Jakarta.
Barbu, Zevedei, 1971, Society, Culture and Personality, Basil Blackwell, Oxford.
Benedict, Ruth, 1982, Pedang Samurai dan Bunga Seruni: Pola-Pola
Kebudayaan Jepang, Diindonesiakan: Pamudji, Sinar Harapan, Jakarta.
Budi Hartono, A. dan Dadang Yuliantoro, 1997, Derita Paksa Perempuan
Kisah Jugun Ianfu pada Masa Pendudukan Jepang 1942-1945, P3PK
UGM, Yogyakarta.
Dawson, Christopher, 1959, Religion and Culture, Meridian Books INC., New
York.
Earhart, H. Byron, 1984, Religions of Japan, Harper & Row, San Fransisco.
Fukuzaha Yukichi, 1985, Di Antara Feodalisme dan Modernisme,
Diindonesiakan: Arifin Bey, Yayasan Kartika Sarana, Jakarta.
Geertz, Clifford, 1992, Kebudayaan dan Agama, Kanisius, Yogyakarta.
Golden, Anton, 2002, Memoar Seorang Geisha, Gramedia, Jakarta.
Hendropuspita, D., 1983, Sosiologi Agama, Kanisius, Yogyakarta.
Ida Anggraeni Ananda, 1994, “Potret Seorang Geisha: Kajian Filsafat
Keindahan” , Skripsi pada Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.
Inazo Nitobe, 1900, Bushido The Soul of Japan, Nihonbashi-ku, Tokyo.
Kartini Kartono, 1986, Psikologi Wanita Jilid II, Mandar Maju, Bandung.
Lucia Juningsih, 1999, Dampak Kekerasan Seksual pada Jugun Ianfu, Pusat
Penelitian Kependudukan UGM, Yogyakarta.
Musa Asy’ari dkk, 1993, Alquran dan Pembinaan Budaya (Dialog dan
Transformasi, LESFI, Yogyakarta.
Pals, Daniel S., 2001, Dekonstruksi Kebenaran: Kritik 7 Teori Agama, Ircisod,
Yogyakarta,
Pramudya Ananta Toer, 2002, Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer,
KPG, Jakarta.
Robertson, Roland (ed), 1998, Agama dalam Nalisa dan Interpretasi Sosiologis,
Rajawali Press, Jakarta.
Sartini, 1998, “Makna Hidup Berkelompok pada Masyarakat Jepang”, Tesis pada
Pasca Sarjana Ilmu Filsafat UGM, Yogyakarta.
Sartini, 2001, “Matrilinialitas dalam Masyarakat Paternalistik Jepang”, Laporan
Hasil Penelitian Lembaga Penelitian UGM, Yogyakarta.
Saya Shiraishi dan Takashi Shiraishi, 1998, Orang Jepang di Koloni Asia
Tenggara, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
Singer, Kurt, 1990, Mirror, Sword and Jewel The Geometry of Japanese Life,
Kodansha International, Tokyo.
Yamamoto Tsunetomo, 1980, The Hagakure A Code to the Way of the Samurai,
translated by Takao Mukoh, The Hukoseido Press, Tokyo.
Sumber non-buku:
http: //www.korea-np.co
http: //www.mofa.go.jp
Sartini, Kontradiksi antara Geisha
157
http: //www.gamma.co.id
http: //www.fire.or.cr
http://witness.peacenet.or,kr
Juliani Wahjana,, Suara Perempuan Radio Nederlands, Desember 2001.
Kompas 13 Februari 2002
KR, 3 Juni 2002
Hayashi Hirofumi, 2000
KR, 1 Mei 2002