Menu

Tuesday, 14 September 2010

Kisah di Balik Kesenangan


Assalamualaikum
Kepada pembaca yang terhormat, saya ingin mencoba menuliskan sebuah tulisan yang berasal dari kisah saya sendiri yang belum lama terjadi. Dan semoga apa yang telah saya tuliskan ini dapat di ambil ibrah/pelajaranya untuk kita semua. Dan saya berharap cerita ini berisi dangan kabaikan.
*******
Berasal dari kerinduanku untuk bersilaturahmi dengan teman lamaku satu pesantren di Bogor, yang pada semester lalu ia di keluarkan karena banyaknya nilainya yang jelek di bawah standar yang telah di tentukan pihak yayasan.
Sudah lama keinginan ini ku pendam dalam dada. Setiap kali aku pulang ke rumahku di depok, ada saja alasan dan penghalangnya untuk dapat berziaroh ke kediaman temanku.




Akhirnya ketika datang liburan puasa kali ini, aku berinisiatif untuk melakukan kunjunganku itu. Tanpa pikir panjang aku mempersiapkan motor yang akan ku tunggangi menuju Parung-Bogor (di situlah daerah tempat tinggal temanku).
Tapi, sayangnya aku tidak memiliki nomer hp temanku ini, jadi hanya bermodal nekat dan alamat yang ala kadarnya itu akau memaksakan diri menghalau segala kesulitan yang akan saya dapati nanti di jalan.

Setelah aku memasuki daerah parung, aku mulai bertanya alamat yang akan ku tuju. Karena kebingunganku itu, aku jadi sering bertanya ke orang yang aku temui di pinggir jalan.
Setelah susah payah ku mencari, akhirnya aku menemukan jalan yang menghubungkan langsung ke kampung temanku berada. Tanpa pikir panjang ku telusuri jalan berbatu kasar yang tak tahu sampai di mana jalan ini membawaku. Ternyata kampung temanku ini tak semudah yang akau bayangkan, aku berkali-kali harus bertanya ke warga sekitar untuk mengetahui jalan ke kampung temanku itu. Ada pepatah mengatakan “Malu bertanya sesat di jalan”, tapi aku juga pernah mendengar “kebanyakan bertanya sesat di jalan”, ya itulah pepatah yang cocok untukku saat itu, aku di buat pusing dengan penjelasan orang yang ku tanya. Aku sampai berkali-kali melintasi ujung ke ujung jalan yang sama berkali-kali, tanpa arah yang jelas.

Aku kesal dengan penjelasan orang, akhirnya aku putuskan untuk berbelok ke sebuah jalan yang ku sangka itu benar, dan ternyata memang itu benar.
Tapi, tampaknya aku belum beruntung, sudah susah payah aku mencari alamat temanku, tapi, setelah dapat dia sedang tidak ada di rumah.
Ingin rasanya aku berteriak, tapi tak apalah yang penting aku telah tahu di mana rumah temanku itu.

Malamnya aku hanya di tertawai oleh temanku yang memang rumahnya berdekatan dengan rumah teman yang ku tuju.
******
Temanku ialah Hadi, yang aku ingin sekali menemuinya. Di dekat rumahnya juga ada beberapa temanku yang lain dari pesantrenku, yaitu Enda.

Setelah hari Raya Iedul Fithri, aku di minta temanku Hadi untuk berkunjung kembali ke sana, karena di sana ada teman-temanku sekaligus ustadzku.

Permintaan itu aku penuhi, setelah 3 hari dari hari Ray Iedul Fithri aku berangkat ke parung untuk kali ke dua. Dan sekarang tak susah seperti sebelumnya, dalam waktu 1 jam aku telah sampai di kediaman temanku. Aku langsung di sambut oleh Enda dan di ajak ke rumahnya.

Aku masuk bersama Enda dan Hadi, kami berbincang-bincang di halaman depan rumah Enda yang memang cukup lebar, lalu keluarlah Ayah dan Ibu Enda untuk menemui kita di luar, aku pun bersalaman dengan kedunya dan berlebaran pula dengan keduanya.
Kami asyik mengobrol dengan di temani beberapa kue di hadapan kami, dan ternyata aku juga melihat ayah Enda sedang ada di dekat kami, tapi beliau hanya diam semenjak tadi dan hanya bersender ke tembok kamar. Dalam hati aku sedikit bingung dengan beliau, tapi tak lama kemudian Enda mengajaku masuk ke kamar karena akan turun hujan.
Memang akhir-akhir ini hujan selalu mengguyur ketika datang sore, dan kali ini pun hujan turun sangat deras dengan diiringi lantunan gemuruh yang membuat jantung berdegup.

Saat memasuki waktu shalat maghrib, kami memutuskan untuk sholat di mushola yang memang dekat dengan rumah Enda, kami memakai caping ala petani yang lebar, yang Enda bilang ini adalah payung pedesaan.

Kami shalat hanya berdua saja, sedangkan temanku Hadi shalat di rumahnya karana hujan yang sangat deras. Setelah shalat, kami kembali ke rumah Enda dan kami mendapatkan orang-orang berkerumun di rumah Enda, aku di buat panik dengannya, dan Enda segera memasuki rumahnya tapi aku hanya berdiri di pelataran rumah Enda. Setelah menunggu agak lama, aku memutuskan untuk kembali saja ke Mushola, dan Enda memanggil Hadi untuk membantunya di rumah. Setelah itu Enda menemuiku di mushola bersama Hadi, mereka mengatakan bahwa ayahnya Enda sedang sakit, dan aku di ceritakan kejadian sore itu tentang ayah Enda, aku hanya mengira bahwa itu sakit biasa, seperti kebanyakan orang tua yang paling sering hanya masuk angin biasa saja.

Namun dari informasi yang ku dapatkan dari Hadi, ternyata di sana di datangkan seorang dukun (dokter kampung) aku dan Hadi hanya bergeleng-geleng kepala. Namun setelah shalat Isya bersama Hadi aku mendapat kabar dari Enda bahwa ayahnya sudah dalam kondisi membaik, kita di buat lega dengan kabar itu. Dan mereka berdua idzin kepadaku untuk kembali ke rumah Enda, dan aku sendiri di mushola.

Setelah beberapa saat mereka datang dengan membawa makanan yang cukup banyak untuk kami santap bertiga. Dengan senang kami makan dengan mengobrol dan canda. Setelah kami semua selesai makan malam, tiba-tiba datang seseorang memanggil Enda dengan tergopoh-gopoh. Spontan Enda dan Hadi berdiri dan cepat keluar menginggalkan Mushola. Aku bingung apa yang terjadi gerangan, aku berdiri dan menatap sekeliling dari balik kaca musholla, dan aku melihat orang-orang di sekitar berlarian membelah hujan yang masih turun cukup deras. Semakin lama ku perhatikan semakin banyak orang berlarian menuju rumah Enda, dan aku mendengar orang-orang yang meneriakan nama Ayah Enda. Aku semakin galau di buatnya. Aku hanya duduk sendiri di mushulla dan berharap semua akan baik-baik saja. Tapi, lama kelamaan ketenanganku terusik dengan suara-suara yang membuat panik orang yang mendengar.

Aku dengan spontan segera bangkit dan bergegas menuju rumah Enda, dan aku sangat heran dan bingung, ternyata di sana sudah banyak orang berkumpul di dalam dan di depan rumah Enda. Dengan langkah terbata-bata aku maju hasta demi hasta mendekati rumah Enda. Seketika itu juga aku mulai mendengar tangisan beberapa orang dari dalam rumah dan di ikuti oleh orang-orang yang ada di dalam. Suara tangis itu mengeras dan memecah heningnya malam di kampung itu, dan aku mendengar Endapun menangis sejadi-jadinya. Barulah aku tersadar akan kejadian yang sebenarnya menimpa Enda dan keluarga itu. Ya, berita duka cita yang sangat mengherankan bagiku, bahwa ayah Enda Telah meninggal dunia. “inalillahi wa ina ilahi raji’un”

Akupun menitkan air mata yang di temani oleh air hujan sampai membasahi pipiku, aku tidak menyangka perjumpaan dengan ayah Enda berlangsung sangat singkat, tangan itu masih bisa aku rasakan ketika bersalaman dengan beliu, dan itu adalah salaman pertama dan terakhirku, dan salam itu juga menjadi salam terakhir yang kuucapkan kepada beliu.
Kejadian ini sungguh ironis, aku sedikit tidak percaya, kedatanganku akan mengagetkanku. Lalu aku melihat Enda keluar sambil menangis tersedu-sedu yang langsung menghampiriku, dengan tangan yang ia selipkan ke wajahnya ia berjalan perlahan sambil menangis. Aku langsung memeluknya dan ia mengatakan hal-hal tentang ayahnya yang membuat aku juga menangis di pelukannya. Aku mencoba menasihatinya, agar ia dapat tabah dan bersabar menerima ini semua. Lalu ia pergi bersamaku menuju musholla untuk melakukan sholat Isya yang semenjak tadi ia masih di sibukan dengan kondisi ayahnya. Sambil duduk bersandar pada tembok masjid, aku hanya mendengar suara tangis yang tertahan dari emosi Enda. Dalam sujudnyapun dia menangis, aku dibuat pilu oleh tangisnya yang menyesakan dadanya itu.

Lalu ia kembali ke rumahnya dan aku memutuskan untuk tetap tinggal di musholla sendiri, dan tidak beberapa lama, temanku Hadi datang menemaniku. Kita berniat untuk tidur di mushollah malam itu, tapi Hadi di panggil untuk pulang karena keponakannya sedang sakit. Maka tinggalah aku seorang diri di musholla, aku sempat memberitahukan teman-temanku apa yang terjadi, ada juga yang menenangkan hatiku dan menemaniku hingga aku teridur. tanpa banyak daya, aku yang sudah kekenyangan itu tidak dapat bertahan menahan mata untuk terus terjaga, akhirnya aku tidur seorang diri di mushollah hingga pagi.

Setelah shalat Shubuh, aku di temani Hadi dan ustadzku datang ke rumah Enda, dan di halaman rumahnya telah di pasangkan tenda, dan banyak orang yang sedang tidur di bawahnya. Aku masuk ke ruang tamu di mana jenazah ayah Enda berada di sana, aku melihat orang-orang sedang membaca surat yasin. Yang aku tahu bahwa itu adalah salah, temanku Enda juga mengetahui akan hal itu, tapi apalah daya ia tidak mampu melarangnya karena dia tidak mempunyai daya akan hal itu.

Lalu aku di ajak ke rumah Hadi, untuk sarapan pagi dan mengobrol bersama di halaman rumahnya. Kami melihat beberapa orang yang melintasi kami pergi dengan membawa pacul yang hendak menggali kubur untuk ayah Enda.

Kami sambil bertanya apakah jenazah ayah Enda telah dimandikan atau belum, dan ternyata jawaban mereka bahwa jenazahnya belum juga dimandikan, karena pihak keluarga menunggu saudara mereka yang berada jauh dari Parung untuk hadir, maka proses pemandian jenazahpun di tunda-tunda.

Barulah kira-kira pukul sembilan, jenazah dimandikan dan kemudian di shalatkan di Musholla. Aku turut hadir untuk menyolati jenazah ayahanda Enda. Dan aku menemukan kebiasaan-kebiasaan orang desa pada kegiatan menyolathi jenazah, yang biasanya aku hanya mendengar dari cerita ayahku.

Lalu jenazah langsung diiringi sampai pemakaman desa yang juga tak jauh dari rumah temanku, yang letaknya di tengah-tengah sawah.
Sesampainya kami di kuburan, jenazah langsung di kuburkan. Dan di sana aku juga mendapatkan beberapa kebiasaan yang aku anggap menyalahi syariat islam. Dan setelah beberapa lama prosesi penguburan selesai dan kami memisahkan diri dari rombongan untuk pulang ke rumah masing-masing.

Depok, 14 September 2010


Mungkin cukup sampai di sini ceritaku kali ini, kalau pembaca menemukan hal-hal yang kurang jelas bisa tulis komentar di kotak kometar.


Monday, 13 September 2010

Pengumuman


Assalamualaikum

Setelah mengalami kegagaln dalam perancangan template, blog ini jadi lumpuh total..berbagai cara telah di lakukan tapi tak kunjung sembuh...so...terpaksa harus bkin blog lain deh...

tpi hati serasa ga tenang ja....blog kesayangan qu sekarang rusak ga jelas bentuk n model'a..



aqu mikir terus gimana cara'a benerin lagi...tapi...untung blogger ngeluarin fitur tuk rancang template baru jadi bisa manfaatin itu n selamatlah blog qu ini...

n now,,,saat'a kita bangkit lagi...dah kangen pengen posting..

selamat datang kembali my blog....

Saturday, 30 January 2010

Stooooppp

Ini adalah trik untuk menghentikan billing yang biasa ada diwarnet.
bisa dilambatin sma bisa diberhentiin .
pakai Cheat Engine v5.3

download disini .
cyberbilling-ray16




Size: 186.82MB

Busyet,,, gede bener nih ya???? anda harus usaha…\

Vurln nya di sinkronisasi waktu server sma client,
coz
Client > Server
kalo klien waktunya berhenti / lambat di server pun juga gitu .

cara, tapi jng ketahuan servernya ya ??
1. SETELAH PAKAI CHEAT ENGINE DAN WAKTU BERHENTI / LAMBAT
2. SETELAH PUAS MAIN
3. RESTARTTTT!! DENGAN TOMBOL PANIC.

coba aja !!

cheat engine bisa didownload lewatb sini



setelah itu cari cheat engine v5.3 .

Stop Timer Billing

Mengakali Billing Explorer (yang di warnet-warnet tuh )
Tiap kali kita Login di warnet pake BX, Otomatis server billing akan mulai menghitung waktu pemakaian dan berhenti saat kita selesai.
Ide dasarnya adalah bagaimana jika kita bisa me-reset timer server semau kita, sehingga biaya yang dikeluarkan bisa sesuka udel kita.


Syarat-syaratnya :
a.Kamu harus tau nomor IP server Billingnya. Upayakan segala cara untuk hal ini, kalau perlu pake social enggineering :-).catatan : Kalau tau nama komputer server billingnya lebih mudah lagi,tinggal pakai "command prompt" n ketik : ping [nama_server_billing]
Hasilnya, kalau server hidup, anda pasti diberitahu IPnya.
b.Punya Software chatting client-server (yang bisa komunikasi LAN aja udah cukup).Pilihannya bebas..Saya pakai ClientTest link http://www.ziddu.com/download/6123842/ClientTest.zip.html
Langkah-langkahnya nih :
1. login billing client BX seperti biasanya.
2. Ping server billing untuk memastikan server hidup. Karena kita lokal, maka gak usah kuatir ttg hal apapun. tinggal ketik aja di "command prompt" : ping [nomor_IP_server_billing]" . Kalau ada "reply", berarti beres.
3. Sekarang saatnya pakai Software chatting. Gunakan port nomor 1500 TCP, karena sang empunya BX sepertinya lebih sreg pakai nomor port ini untuk server.
4. Kalau sudah berhasil connect (lihat indikator koneksinya),berarti bakar dulu sebatang rokok (kalau kamu perokok & warnetnya memperbolehkan lho ya.!).
5. Dapatkan nomor client dan nama user kamu. Sebenarnya terlihat jelas di program billing yang di komputermu (sisi client).
6. Langkah terakhir,dalam software chatting-mu, ketikkan perintah berikut secara berurutan.!!! [Ingat : salah urutan, dijamin koneksimu segera diputus oleh server billing] [Ingat : ketik perintah dalam tanda kutip ganda dan tunggu respon dari server billing] Asumsi : nomor client kamu adalah 8
- "XJ6$con22$8$TES$" --> respon server : "YA6$/connn$"
- "XJ6$www4$8$TES$" --> respon server : "YA6$www4$087104104104$Warnet xxx$Jl. Siliwangi No.5 Bulan$Emailinfo_008@yahoo.com - http://www.billingexplorer.com$087104104104$HALO$49$402"
- "XJ6$data$8$" --> respon server : "YA6$startmZ$8$2500$15$1250$30$202.155.0.10$0$0$"
- "XJ6$con$8$" --> respon server : GAK PENTING LAGI
7. Sesaat setelah perintah terakhir itu, server billing akan segera me-reset waktu pemakaian kamu
8. Seterusnya, tiap kali ingin me-reset timer server, tinggal kasih perintah : "XJ6$con$8$" lewat software chattingan-mu

Hacking Billing

Cara ini berlaku untuk segala versi billing explorer dan kebanyakan aplikasi billing lainnya. Dan merupakan kelemahan semua billing warnet yang berbasis windows!!!

Penasaran mau tau caranya ? Baca aja sampai habis !
Skali lagi saya ingatkan buat anda yang merasa udah pinter diharap ga usah baca, kecuali pengen mati kebosanan (niru kata-kata siapa ya?


Ini dia caranya …
Saat kita mulai menyalakan komputer di warnet yang pertama muncul saat windows dimulai adalah login screen client billing yang menutupi seluruh area windows. Fungsi Alt+Tab dan Ctrl+Alt+Del biasanya ikut-ikutan di-disable untuk memaksa kita login melalui program billing itu.
Sebenarnya saat kita menghadapi login screen itu komputer sudah siap dijalankan. Hanya terhalang oleh screen login yang menyebalkan itu. Naah… udah tau apa yang bakal saya jelasin ? Kalo udah tau, brenti aja bacanya. Daripada mati kebosanan

Yess.. betul sekali. Yang perlu kita lakukan hanyalah menyembunyikan jendela login itu tanpa perlu login. Ada banyak progie buat nyembunyiin window, salah satunya ZHider. Saya hanya akan menjelaskan penggunaan ZHider. Bagi yang menggunakan progie laen silakan baca manualnya, tapi yang perlu diperhatikan adalah progie yang anda gunakan harus bisa show/hide window pake hotkey coz windows kita kan ditutupi sama login screen sialan itu.

Yang harus disiapkan:
1. Program ZHider. Cari sendiri pake tante Google. Ukurannya kecil kok, ga sampe setengah isi disket.
2. Muka bego
3. Mental yang kuat

Langkah-langkahnya:

01. Masuk warnet dan pasang muka bego biar ga dicurigai operator
02. Pastikan selain box/bilik yang kita tempati masih ada box lain yang kosong. Biar ga dicurigai juga sih.
03. Usahakan cari tempat yang jauh dari op, supaya ga ketahuan box kamu kosong apa nggak.
04. Nyalakan kompi dihadapan anda bila masih dalam keadaan mati.
05. Saat masuk login screen, login aja seperti biasa.
06. Jalankan ZHider yang sudah disiapkan di disket/flashdisk. Kalo belom ada, cari aja pake google.
07. Setelah ZHider dijalankan langsung aja logout.
08. Naah, di login screen ini kita mulai aksi mendebarkan kita. Tekan Ctrl+Alt+Z.. Jreeeng, login screen telah menghilang !!!
09. Browsinglah sepuasnya, tapi tetap pastikan ada box lain yang kosong. Kan aneh kalau ada yang masuk warnet, dia lihat udah penuh. Padahal di billing server kelihatan masih ada yang belum login.
10. Kalo sudah puass tekan Ctrl+Alt+x untuk memunculkan kembali login screen yang menghilang entah kemana
11. Login seperti biasa dan browsing beberapa menit sampai penunjuk tarif sampai ke angka yang kita kehendaki. Ini supaya ga dicurigai.
12. Logout. SIapkan muka bego, lalu bayar tarif.

Cara ini lebih mudah dilalukan bila si operator ga terlalu kenal sama kamu. Apalagi bila si op sering keluyuran.

Ini beberapa hotkey ZHider yang bisa digunakan, untuk hotkey lainnya silakan baca file readme yang disertakan bersama zhider

CTRL+ALT+Z Menyembunyikan jendela aktif
CTRL+ALT+X Menampilkan kembali semua jendela yang disembunyikan
CTRL+ALT+L Menampilkan dialog zhider
CTRL+ALT+M Menampilkan kembali semua jendela yang disembunyikan, dan juga menutup zhider.

Cara 2:

Nyalain kompi .Setelah loading windows tekan tahan Ctrl+Alt+Del sebelum keluar jendela billing(harus cepet coz jendela billing muncul hanya 2 detik setelah loading windows). Setelah kluar task manager klik ‘End Task’ pada aplikasi “client 008″.

Cara 3:

Menggunakan software “Billing Hack”(bisa download di www.vb-bego.com). Software ini bahkan bisa mereset time billing.

Bisa juga sebelum nyalain kompi cabut kabel LAN di belakang CPU. Biar gak terlalu mencurigakan, cabut kabelnya sambil pura-pura pasang USB ato Flash Disk (sambil nyelam mancing ikan gitu deh pepatahnya).Trus nyalain kompi tunggu sampai jendela billing keluar. Klik “Admin” masukkan password default “008″. Trus di Exit Client&Password masukkan juga password 008. Abis tu, setelah muncul kotak yang terakhir cari tanda ****** yang letaknya paling bawah kiri, delet tanda tsb dan terakhir klik ‘Exit Client’ yang terletak di sebelah kanan tanda yang telah kita hapus tadi. Jadi deh…

Kalo semua cara di atas ga bisa dilakuin, hentikanlah usahamu. Sesungguhnya perbuatan jahatmu tidak diridhoi Tuhan
Kalo ketahuan langsung pertebal “muka bego”-mu. Misalnya bilang “Eh, kok jadi gini ya? Kemaren ga gini kok.” Ato kata-kata lain, tergantung kreatifitas kamu.

Wednesday, 6 January 2010

Pendahuluan_shahih Bukhari

Oleh: Muhammad Nashiruddin Al-Albani



Segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, minta tolong kepada-Nya, dan minta ampun kepada-Nya. Kami mohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan nafsu dan kejelekan perbuatan kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada yang dapat menyesatkannya. Barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka tiada yang dapat memberi petunjuk kepadanya.


Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah. "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (Ali Imran: 102)



"Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya. Dari keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan wanita yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (an- Nisaa': 1)


"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesunguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (al-Ahzab: 70-71)


Amma ba'du. Di antara program-program (rencana) saya yang telah lalu adalah berkhidmat kepada Sunnah yang suci, yang saya istilahkan dengan "Mendekatkan Sunnah kepada Umat". Saya membahasnya dalam beberapa kitab saya. Di antaranya adalah mukadimah saya terhadap Ringkasan Shahih Muslim oleh Hafidz al-Mundziri, yaitu dari satu sisi membuang isnad dan dari sisi lain membedakan yang sahih dan yang dhaif. Para Ulama telah menyepakati dan tidak ada yang membantah terhadap isnad Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, sebagaimana yang telah saya kembangkan dalam mukadimah tersebut. Maka, yang saya lakukan adalah menghapus sebagian isnad dan matan yang berulang-ulang.


Pertama kali yang saya lakukan adalah mentahkik Ringkasan Shahih Muslim, menyebutkannya, menomori hadits dan menjelaskan kata kata yang sulit, membuat catatan kaki, dan menerbitkannya di Beirut. Tetapi, setelah selesai mempelajarinya, tampak oleh saya bahwa Al-Hafidz al-Mundziri - semoga Allah memberi rahmat kepadanya - di dalam meringkas kitab tersebut tidak hanya membatasinya dengan membuang isnad dan matan yang berulang-ulang saja. Ia juga membuang sebagian isinya.


Karena itu, kalau saya mempunyai kesempatan, niscaya saya akan meringkasnya sendiri dengan metode khusus yang saya ciptakan sendiri. Kiranya Allah Yang Mahatinggi menghendaki hal itu. Yaitu, ketika saya ditakdirkan Allah dipenjara pada tahun 1389 H / 1969 M bersama beberapa ulama tanpa kesalahan yang kami lakukan kecuali hanya berdakwah kepada agama Islam dan mengajarkannya kepada masyarakat. Saya diseret ke penjara Qal'ah di Damaskus. Kemudian dikeluarkan setelah dipenjara yang kedua kalinya dengan menjalani hukuman beberapa bulan. Saya hanya mengharapkan pahala dari Allah.


Allah telah menakdirkan kesendirian saya di penjara yang hanya ada buku yang saya cintai Shahih Imam Muslim, pensil, dan penghapus. Di penjara, saya mewujudkan cita-cita saya dalam meringkas dan memudahkannya dengan menghabiskan waktu sekitar 3 bulan. Saya bekerja siang dan malam tanpa merasa lelah ataupun bosan. Dengan begitu, keinginan musuh-musuh umat untuk membalas dendam kepada kami ternyata berbalik menjadi nikmat. Yakni, nikmat yang bayang bayangnya menaungi kaum muslimin penuntut ilmu di manapun mereka berada. Maka, segala puji bagi Allah karena dengan nikmat-Nya sempurnalah amal-amal yang saleh.


Allah telah memudahkan bagi saya dalam menyelesaikan sejumlah besar tugas ilmiah yang kiranya tidak ada kesempatan bagi saya seandainya masih ada sisa umur dan saya tempuh metode yang biasa. Pihak pemerintah berikutnya melarang saya pergi ke kota-kota Suriah untuk melakukan kunjungan bulanan yang biasa saya lakukan untuk mengajak masyarakat supaya kembali kepada Al-Qur'an dan as-Sunnah. Acara tersebut terkenal dengan nama "tahanan kota". Pada masa masa itu, saya juga dilarang menyampaikan pelajaran ilmiah yang banyak menyita waktu saya. Semua itu telah memalingkan saya dari mengerjakan banyak tugas, dan menghalangi saya untuk bertemu dengan orang-orang yang biasa memanfaatkan waktu saya untuk mendapatkan banyak hal (pengetahuan).


Setelah menelaah ringkasan tersebut, sebagian ikhwan ingin menerbitkannya. Akan tetapi, sebelumnya saya merasa perlu memulainya dengan meringkas Shahih Imam Bukhari untuk diterbitkan lebih dahulu. Kemudian disusul dengan menerbitkan ringkasan Shahih Imam Muslim. Beberapa hari kemudian saya mulai mewujudkan keinginan tersebut. Yaitu, meringkas Shahih Bukhari dalam beberapa kesempatan yang terpotong-potong, dan dalam waktu berbulan-bulan. Sehingga, dengan karunia dan kemurahan-Nya, Allah menakdirkan saya untuk menyelesaikan tugas tersebut.


Kemudian Allah menghendaki saudara kami Ustadz Zuhair asy-Syawisy menerbitkannya. Saya mempersiapkan segala sesuatunya, yaitu menyiapkan jenis jenis huruf dan tulisan, supaya dapat diterbitkan kitab yang mudah dimengerti oleh pembaca dalam mengenal macam-macam hadits yang ada di dalamnya. Apakah hadits itu musnad yang maushul, mu'allaq marfu', atau atsar mauquf sebagaimana yang menjadi ciri khas takhrij dan catatan kaki saya.


Secara lamban buku tersebut dicetak pada tahun 1394 H kemudian indeksnya dicetak di Beirut pada tahun 1399 H. Terjadilah beberapa peristiwa yang menyedihkan, yaitu kami kehilangan hal-hal yang menjadi kelaziman suatu kitab[1] yang karenanya Saudara Zuhair terpaksa menggambarkan kelaziman-kelaziman dan bagian-bagian kitab itu. Maka, dapatlah - dan segala puji bagi Allah - dikembalikan bagian pertama kitab itu secara lengkap, dengan berharap kepada Allah semoga Dia memberikan kemudahan untuk segera menghidangkannya kepada masyarakat.





Tindakan yang Saya Lakukan dalam Meringkas Kitab Ini


Di dalam meringkas Shahih Imam Bukhari, saya menggunakan metode ilmiah yang cermat. Saya kira saya telah menerapkannya pada semua isi hadits Bukhari, atsar-atsarnya, kitab-kitabnya, dan bab-babnya. Tidak ada satu pun yang terluput, insya Allah, kecuali apa yang tidak dapat dihindari sebagai tabiat manusia (khilaf dan lupa).


Perinciannya sebagai berikut:


1. Saya buang semua isnad hadits tanpa tersisa kecuali nama sahabat perawi hadits yang langsung dari Nabi saw.. Juga kecuali perawi-perawi yang di bawah sahabat yang tak dapat dihindari karena keterlibatannya dalam kisah, sedang riwayat itu tidak sempurna kecuali dengan menyebutkan mereka.


2. Telah dimaklumi oleh orang-orang yang mengerti kitab Shahih Bukhari bahwa ia mengulang-ulang hadits dalam kitabnya itu dan menyebutkannya dalam beberapa tempat, kitab-kitab, dan bab-bab yang berbeda-beda, dan dengan riwayat yang banyak jumlahnya. Terkadang ia menggunakan jalan periwayatan lebih dari satu, sekali tempo ditulisnya hadits itu dengan panjang, dan pada waktu yang lain dengan ringkas. Berdasarkan hal itu, saya pilih di antara riwayat-riwayat yang diulang itu yang paling lengkap dan saya jadikan sebagai pokok dalam ringkasan ini. Akan tetapi, saya tidak berpaling dari riwayat-riwayat yang lain. Bahkan, saya menjadikannya sebagai kajian khusus, untuk mencari-cari barangkali di sana terdapat faedah tertentu. Atau, untuk menambah sesuatu yang tidak terdapat dalam riwayat yang dipilih, lalu saya ambil dan saya gabungkan ke dalam yang pokok.


Penggabungan tersebut menggunakan dua bentuk:



Pertama, apabila ada tambahan, digabungkan sesuai dengan aslinya dan diatur sesuai dengan tingkatan dan urutannya. Sehingga, pembaca yang budiman tidak merasa bahwa itu adalah tambahan. Kemudian saya letakkan di antara dua kurung siku [], misalnya apa yang ada pada sebagian karya saya seperti Shifatush Shalah, Hijjatun-Nabi, dan Ahkamul Janaiz.



Kedua, jika tambahan itu tidak teratur sesuai dengan tingkatan dan urutannya, maka saya letakkan diantara tanda kurung dan saya katakan: (dan dalam riwayat ini dan ini). Apabila riwayat itu dari jalan lain dari sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut, saya katakan: (dan dalam satu jalan periwayatan) atau (dan dalam jalan periwayatan yang kedua). Apabila terdapat tambahan lain dari jenis jalan periwayatan yang ketiga, saya katakan: (dan dalam jalan yang ketiga). Dengan demikian, tujuan menjadi jelas, yaitu dapat memberi manfaat kepada pembaca dengan menggunakan ungkapan yang sangat singkat, bahwa hadits tersebut tidak gharib 'asing' dan sendirian periwayatannya dari sahabat tersebut. Pada masing-masing bentuk tadi saya letakkan nomor juz dan halaman dari cetakan Istambul pada tahun (.....) di akhir tambahan sebelum tanda kurung tutup.


3. Hadits shahih dari segi isnadnya menurut para ulama dibagi menjadi dua. Pertama, hadits maushul, yaitu hadits di mana penyusun menyebutkan isnadnya yang bersambung hingga para perawinya dari kalangan sahabat, itu termasuk sebagian atsar yang mauquf pada sahabat atau yang lainnya. Kedua, hadits mu'allaq, yaitu penyusun tidak menyebutkan isnadnya sama sekali atau disebutkan sebagian dari yang paling tinggi derajat nya dengan men-ta'liq-kannya pada sahabat atau lainnya, terkadang sanadnya adalah guru-guru Imam Bukhari. Bagian ini dibagi menjadi dua macam, yaitu marfu' dan mauquf yang tidak semuanya sahih menurut penyusun dan para ulama sesudahnya karena di dalamnya terdapat hadits sahih, hasan, dan dhaif.[2] Matan ini juga saya bawakan dalam Mukhtashar 'Ringkasan' ini, tetapi saya bermaksud mentakhrijnya pada catatan kaki dengan menjelaskan tingkatannya dengan isnadnya itu sendiri atau lainnya jika hadits itu marfu'. Apabila dari atsar mauquf, maka saya cukupkan dengan mentakhrijnya saja, dan jarang sekali saya menyebutkan derajatnya (tingkatannya).


4. Kemudian saya memberi nomor pada ketiga jenis hadits tersebut dengan nomor khusus, dan setiap hadits mempunyai ukuran yang berbeda. Hadits yang musnad mempunyai nomor-nomor khusus yang berurutan, dan hadits yang marfu' mu'allaq mempunyai nomor-nomor khusus yang berurutan pula. Begitu juga atsar yang mauquf mempunyai nomor-nomor khusus pula. Manfaatnya ialah bahwa apabila kitab itu telah selesai, maka akan mudah diketahui jumlah setiap hadits dari ketiga jenis tersebut.[3]


5. Saya memberi nomor pada kitab-kitab dalam Shahih Bukhari ini dengan nomor-nomor yang berurutan[4] begitu juga pada semua bab. Dalam setiap babnya saya beri nomor yang berurutan, dengan memperhatikan setiap bab dari bab-bab yang ada. Hal itu karena telah populer di kalangan para ulama bahwa fiqih Bukhari itu ada dalam judul bab-babnya. Kemudian saya membuang satu bab yang di dalamnya tidak ada judulnya di mana Imam Bukhari menulis "Bab" tanpa tambahan apa-apa lagi. Apabila di bawah jenis itu ada hadits yang terdapat dalam Ash-Shahih, kemudian di dalam ringkasannya perlu dibuang, sehingga tinggal bab tanpa hadits, maka dalam kondisi semacam ini saya membuang bab tersebut karena jika dibiarkan tidak ada manfaatnya. Hanya saja saya membuangnya dengan nomornya sekaligus sebagai tanda pembuangan.


Tujuan dari penomoran dalam paragraf ini adalah agar indeks pada kitab-kitab hadits Kutubus-Sittah dapat dipergunakan dalam Mukhtashar ini sebagaimana dipergunakan pada aslinya, untuk mempermudah mencari suatu hadits manakala diperlukan.


Pada catatan kaki, saya jelaskan kata-kata yang sulit dan sebagian kalimat yang samar, sebagaimana yang sering saya lakukan pada karya ilmiah saya. Kemudian saya cantumkan pada setiap jilid indeks buku secara terinci baik untuk kitab-kitabnya, bab-babnya maupun haditsnya dengan tiga bagiannya itu.


Selanjutnya saya berniat memberi indeks secara terinci, yang di antaranya memuat indeks khusus untuk lafal-lafalnya dalam jilid tersendiri - mudah-mudahan Allah swt. mengizinkan - yang sekiranya memudahkan pembaca untuk mencari hadits dari kitab tersebut dalam waktu singkat.


Saya memohon kepada Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi semoga Dia berkenan menjadikan apa yang saya lakukan ini sebagai amal yang ikhlas karena-Nya, dan mudah-mudahan bermanfaat bagi kaum muslimin di belahan bumi bagian timur dan barat. Semoga Allah menyimpan pahalanya untuk saya hingga, "Pada hari ketika harta dan anak laki-laki tidak berguna kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (asy-Syu'araa': 88-89)


Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.

Beirut, awal Rajab 1399 H

Penulis,


Muhammad Nashiruddin al-Albani


Syarah 'arbain nawawi 1

الحــديث الأول

HADITS PERTAMA



عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

[رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة]



Arti Hadits / ترجمة الحديث :

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.

(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .



Catatan :

Hadits ini merupakan salah satu dari hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’i berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i bahwa dia berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan sepertiga Islam.

Hadits ini ada sebabnya, yaitu: ada seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).



Pelajaran yang terdapat dalam Hadits / الفوائد من الحديث :

Niat merupakan syarat layak/diterima atau tidaknya amal perbuatan, dan amal ibadah tidak akan mendatangkan pahala kecuali berdasarkan niat (karena Allah ta’ala).

Waktu pelaksanaan niat dilakukan pada awal ibadah dan tempatnya di hati.

Ikhlas dan membebaskan niat semata-mata karena Allah ta’ala dituntut pada semua amal shalih dan ibadah.

Seorang mu’min akan diberi ganjaran pahala berdasarkan kadar niatnya.

Semua perbuatan yang bermanfaat dan mubah (boleh) jika diiringi niat karena mencari keridhoan Allah maka dia akan bernilai ibadah.

Yang membedakan antara ibadah dan adat (kebiasaan/rutinitas) adalah niat.

Hadits di atas menunjukkan bahwa niat merupakan bagian dari iman karena dia merupakan pekerjaan hati, dan iman menurut pemahaman Ahli Sunnah Wal Jamaah adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan perbuatan.

Thursday, 17 December 2009

Cinta Laila Majnun

Hanya ingin menumpah kata

Laila Majnun, sebuah kisah dari cerita rakyat arab, tentang kecantikan seorang gadis bernama Laila, yang menarik hati seorang pemuda, Qais keturunan Bani Amir.

Qais yang semula pandai, gagah dan berasal dari kabilah terhormat, menjadi majnun alias gila, karena kasihnya yang tak sampai. Qais, yang tersiksa karena takdir yang selalu memusuhinya, sedang hasrat tak mampu ditundukan hatinya, menjadikan dia lupa akan hakikat hidupnya sendiri. Walau kegilaan yang dialaminya mengilhami tutur bahasa sastra yang indah, dan ketulusan jiwa dalam derita cinta, tetap saja sebutan majnun tak dapat ditepisnya.


Kisah tentang Qais dan Laila yang hidup di suatu negeri wilayah tanah Arab. Qais yang berwajah tampan dan Laila yang terkenal akan kecantikannya, yang menjadi dambaan setiap laki-laki. Akhirnya cinta mereka kandas karena adat melarang mereka untuk mengekspresikan gelora cintanya. Maka, tumpah ruahlah segala rasa rindu dan cinta dalam bentuk syair dan puisi yang mengalir menentang takdir mereka.

Suatu ketika Qais memutuskan ikut berniaga ke negeri lain bersama ayahnya agar kelak ia memiliki bekal pengetahuan sendiri tentang perniagaan. Ketika pamit kepada Laila, Qais memberikan seuntai kalung mutiara sebagai tanda kesetiaannya. Qais minta Laila berjanji untuk melepaskan sebuah mutiara dari untaiannya apabila waktu sudah menunjukkan bulan baru. Ia pun berjanji akan kembali sebelum untaian mutiara habis.

Meskipun sangat sedih, Laila merelakan kekasihnya pergi mencari pengalaman.

Sepeninggal Qais, Laila hanya bermenung diri dan menciptakan syair sebagai pelambang rindu. Suatu hari, ayah Laila, Al-Mahdi, pulang ke rumah bersama seorang tamu bernama Sad bin Munif, yang diajak menginap. Tamu itu seorang saudagar kaya raya yang berasal dari Irak. Ketika berjumpa Laila, Sad bin Munif langsung jatuh cinta dan melamar Laila kepada ayahnya. Tanpa sepengetahuan Laila, Al-Mahdi menerima lamaran tersebut karena tergiur oleh mas kawin 1.000 dinar dan harta kekayaan Sad bin Munif. Laila tak berdaya melawan perintah ayahnya karena adat memang menyatakan bahwa laki-laki berkuasa atas perempuan. Sementara itu, Qais yang telah memasuki bulan ke-9 ikut berniaga ke negeri-negeri seperti Damsjik, Jerusalem, Hims, Halab, Anthakijah, Irak, Koefah, hingga Basrah tidak dapat lagi menahan rindunya terhadap Laila. Wajahnya tampak muram dan badannya semakin kurus.

Ayah Qais melihat kesedihan anaknya dan menanyakan ada apakah gerangan yang telah mengganggu pikirannya. Akhirnya Qais berterus terang tentang kisah cintanya dengan Laila. Demi mendengar penuturan anaknya, Al-Mulawwah memutuskan segera kembali ke kampung halamannya dan berjanji akan melamar Laila untuk Qais. Ketika sampai kampung halaman, Al-Mulawwah bergegas menemui ayah Laila dan menawarkan 100 unta sebagai pengganti uang 1.000 dinar yang telah diberikan Sad bin Munif. Akan tetapi, dengan sombongnya, ayah Laila menolak lamaran Al-Mulawwah. Tak berapa lama kemudian, pesta perkawinan Laila dan Sa�d bin Munif diselenggarakan secara besar-besaran. Maka, hancur luluhlah hati Qais. Tak ada satu obat pun yang bisa menyembuhkan sakitnya ini, meskipun orangtuanya telah mendatangkan banyak tabib ternama. Sejak itu Qais tidak mau berbicara kepada orang lain, ia sibuk dengan dirinya sendiri dan sering kali terlihat berbicara sendiri. Karena perilaku aneh inilah orang sekampungnya memanggil Qais dengan Majnun, yang berarti kurang sempurna pikirannya.

Akan halnya Laila, meskipun kini telah menjadi istri Sad bin Munif, ia tetap mencintai Qais. Menurut Laila, secara fisik ia boleh menjadi istri Sad bin Munif, tetapi jiwanya tetap untuk Qais. Dalam ungkapannya, di dunia Qais dan Laila bukanlah pasangan suami istri, tetapi di akhirat mereka menjadi pasangan abadi. Karena tak kuat menanggung penderitaan cinta ini, Laila sakit dan selalu memanggil nama Qais. Akhirnya Qais pun dipanggil untuk menemui Laila. Ketika mereka bertemu, Laila memberi pesan terakhir bahwa mereka akan bertemu nanti di akhirat sebagai sepasang kekasih. Demi melihat kekasihnya meninggal, putus asalah Qais. Tak ada lagi keinginannya untuk hidup. Sehari-hari kerjanya hanya duduk di pusara Laila hingga akhirnya Qais meninggal. Maka, jasad Qais pun dibaringkan di samping pusara Laila.

Kira-kira 10 tahun kemudian, beberapa musafir menziarahi kubur mereka berdua. Di atas kedua pusara itu telah tumbuh dua rumpun bambu yang pucuknya saling berpelukan. Maka, masyhurlah kisah ini sebagai kisah Laila-Majnun.

Cinta memang tidak datang tiba-tiba, juga tidak dapat padam seketika.
Tak seorangpun dapat mengelak jika gelora asmara tiba-tiba menggelegak.
Tak ada jiwa yang dapat menyangka, jika badai cinta menggelora di dada.

Cerita roman yang penuh puisi cinta dan pengorbanan, menjadi inspirasi para pemuja cinta, yang rela mengorbankan hidupnya demi cita-cita absurd yang bertema cinta.

Persis cerita shakespeare tentang Romeo & Juliet yang berujung bunuh diri karena tak sudi menyerah atas perjuangan cintanya, cerita film Titanic tentang Rose DeWitt & Jack Dawson, yang �gagal� mewujudkan cinta mereka dan tenggelam bersama Titanic yang perkasa, cerita epik � romantik ini selalu menjadi contoh khayal para pemujanya, yang selalu mengagungkan cita-cita cinta mereka.

Laskar cinta, rekaan Dhani Ahmad, adalah salah satu lagu yang banyak digandrungi orang karena nada dan liriknya yang seolah meng-kampanyekan keagungan cinta.

Banyak orang yang tergelincir kedalam kekufuran karena api cinta yang menyala-nyala. Banyak orang tersesat dari jalan surga, karena tipu daya syahwat yang berbungkus cinta.

Banyak orang yang termehe-mehe (baca: melankolis, mengurai air mata) ketika mendengarkan lagu-lagu Chrisye bertemakan cinta.

Padahal, cinta sejati seorang muslim adalah cintanya terhadap Allah SWT & Rasul. Apapun yang diperbuatnya, selalu menginginkan pertemuannya dengan Allah &Rasul di akhirat kelak. Cinta yang berlandaskan keimanan, seolah mengorbankan keluhuran jiwa dan kemurnian hati, yang dinamakan cinta. Padahal cinta terhadap kekasih hati, belahan jiwa, tumpuan asa, tidak pernah diharamkan oleh agama. Tetapi itu semua haruslah demi meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Sang Pecipta, Allah Robb Al Amin..

Laila Majnun hanyalah sebuah kisah cinta sepasang manusia biasa, yang mungkin menerpa kita juga. Tak perlu kita mengagungkan perjuangan cintanya karena hal itu sama saja menggugat takdir yang diberikan Allah.

Cinta adalah bumbu kehidupan yang menjadikan indahnya perjalanan hidup manusia.

Cinta bukanlah tujuan dari keberadaan manusia di dunia, bukan pula akhir dari perjuangan di alam fana. Cinta hanyalah kendaraan untuk meraih kebahagiaan sejati, yaitu keridloan Allah untuk mendapatkan surga, yang luasnya seluas bumi dan langit.

Tuesday, 27 October 2009

Ma'ad Badr Al-Islami


Selintas tentang jam’iyah Al Wafa Al Islamiyah
Bogor Indonesia

Jami’iay Al Wafa Al Islamiyah Bogor didirikan untuk mengusung da’wah sunnah berdasarkan manhaj salafus sholih sambil berupaya keras melakukakn proses kaderisasi da’wah untuk menyiapkan tenaga-tenaga muda yg kelak menjadi penerang bagi umat ini. Lembaga ini berdiri pada tanggal 27 Desember 2004 dan berkantor pusat di Bogor Jawa Barat.
Menyadari betapa urgennya proses kaderisasi dakwah, lembaga ini merasa perlu menyiapkan media-media yg mendukung proses tersebut dengan berbagai potensi yang dimilikinya. Oleh karenanya seluruh pimpinan lembaga ini berupaya keras menyiapkan beberapa ma’had dengan ma’had yang semuanya berdomisili di Bogor dan Cianjur Jawa Barat. Pertama Ma’had Yatim Al Wafa Bogor, kedua Ma’had Badr Al Islami sebagai wadah dan pembentuk dan membina para da’I, ketiga Ma’had Putri Al Wafa sebagai media membina para akhwat muslimah menjadi ibu yang sholihah dan sebagai da’iyah bagi komunitas muslimah dilingkungannya. Ketiganya berlokasi di kecamatan Taman Sari Bogor. Dan keempat Ma’had Al Wafa Cianjur Jawa Barat (Ma’had Uhud). Saat ini Jam’iyah Al Wafa sedang membangun sebuah markas dakwah di Lampung, setelah membangun beberapa masjid yang dilengkapi dengan rumah imam di Serang Banten. Dan kedepan Jam’iyah Al Wafa terus berupaya mengasuh anak-anak yatim yang telah kehilangan orang tua mereka dengan membuka ma’had-ma’had yatim di beberapa tempat di Indonesia.
Sesungguhnya Jami’iay Al Wafa Al Islamiyah merupakan lembaga yang bergerak dalam bidah Dakwah, pendidikan dan sosial, dengan berbagai program berkesinambungan yang terjabar dalam kegiatan sebagai berikut :
Mengadakan daurah-daurah Syar’iyah dan da’wiyah secara rutin. Baik yang bersifat internal maupun eksternal.
Pengiriman da’i ke daerah-daerah tertentu untuk menyebarluaskan da’wah sunnah berdasarkan pemahaman salafus sholih.
Penerbitan buku-buku islam dan brosur-brosur dakwah yang bermanhaj salaf.
Mengasuh dan membina anak-anak yatim piatu dalam ma’had yang didesain secara khusus dengan menyediakan semua fasilitas pendukung secara maksimal. Dari makan sehari-hari, pakaian, perlengkapan pribadi, SPP, Laboratorium Bahasa, kendaraan bis untuk rihlah (Tamasya) dan semua kebutuhan sekolah sampai perawatan kesehatan.
Menyiapkan kader da’i dan da’iyah dalam sebuah ma’had yang dirancang khusus dengan kurikulum berbasis kompetensi yang menekankan penguasaan bahasa arab dan hafalan Al-Qura’an.
Membangun masjid dan rumah imam di daerah-daerah yang membutuhkannya. Dan menyipakan imam khusus yang mengelola kemakmuran masjid tersebut.
Mengadakan buka puasa bersama pada bulan Ramadhan.
Pembagian hewan qur’ban
Khitanan massal
Melakukan upaya-upaya semaksimal mungkin untuk mengurangi berbagai bentuk kemungkaran yang menyebar dikalangan masyarakat dengan cara-cara yang hikmah dan elegan.

Tentu saja lembaga ini tidak dapat bergerak dinamis tanpa dukungan dan partisipasi dari para muhsinin yang dengan penuh keikhlasan mendonasikan sebagian harta kekayaan mereka untuk da’wah ini. Dan lembaga ini juga tidak akan mampu meretas jalan da’wah sunnah yang mulia in tanpa dukungan partisipasi dan kerja sama yan baik dengan institusi dan lembaga-lembaga da’wah lainnya yang sama-sama memiliki visi dan misi yang sejalan, yaitu menegakan da’wah ahlus sunnah wal jama’ah berdasarkan pemahaman salafus sholih dan berjuang membendung berbagai bentuk bid’ah dan kemungkaran yang menyebar luas di lingkungan masyarakat.





Wednesday, 7 October 2009

Welut Listrik

Beberapa ratus species ikan memiliki organ penghasil listrik, namun hanya sedikit yang dapat menghasilkan daya listrik yang kuat. Organ penghasil listrik yang dimiliki oleh kebanyakan ikan tersusun dari sel saraf dan sel otot yang telah mengalami perubahan penting. Bentuk organ listrik seperti piringan kecil yang memproduksi lendir disebut elektrosit, tersusun dan menyatu di bagian atas dari susunan lain yang sejajar.
Pada umumnya, semua piringan menghadap arah yang sama yang memuat 150 atau 200 piringan setiap susunannya. Misalnya, pada ikan torpedo terdapat 140 sampai 1000 piringan listrik pada setiap kolom. Pada ikan torpedo yang sangat besar, jumlah seluruh piringan sampai setengah juta. Prinsip kerja piringan listrik ini mirip dengan cara kerja baterai. Ketika ikan beristirahat, otot-otot yang tidak berhubungan belum aktif. Namun jika menerima pesan dari saraf, akan segera bekerja secara serentak untuk mengeluarkan daya listrik. Pada saat itu, voltase semua piringan listrik atau elektrosit menyatu, sehingga mampu menghasilkan daya listrik sampai 220 volt pada ikan torpedo atau sampai 650 volt pada belut listrik.

Pada umumnya semua spesies ikan tawar hanya bersifat listrik ringan, kecuali sembilang listrik dan belut listrik. Ikan listrik yang hidup di laut memiliki tenaga listrik yang lebih kuat dan berbahaya, karena air laut mengandung garam membuat dirinya lebih tahan terhadap arus listrik. Posisi dan bentuk organ listrik ini bervariasi tergantung pada speciesnya.

Selain ikan yang dipersenjatai dengan muatan listrik potensial, ada jenis ikan lain pula yang menghasilkan sinyal bertegangan rendah dua hingga tiga volt. Jika ikan-ikan ini tidak menggunakan sinyal listrik lemah semacam ini untuk berburu atau mempertahankan diri, lalu digunakan untuk apa?

Ikan ini memanfaatkan sinyal lemah ini sebagai alat indera. Allah menciptakan sistem indera dalam tubuh ikan ini, yang menghantarkan dan menerima sinyal-sinyal tersebut.

Ikan ini menghasilkan pancaran listrik dalam suatu alat khusus di ekornya. Listrik ini dipancarkan melalui ribuan pori-pori di punggung makhluk ini dalam bentuk sinyal yang untuk sementara menciptakan medan listrik di sekitarnya. Benda apa pun dalam medan ini membiaskannya, sehingga ikan ini mengetahui ukuran, daya alir dan gerak dari benda tersebut. Pada tubuh ikan ini, ada pengindera listrik yang terus menentukan medan ini seperti halnya radar.

Pendeknya, ikan ini memiliki radar yang memancarkan sinyal listrik dan menerjemahkan perubahan pada medan yang disebabkan oleh benda yang menghambat sinyal-sinyal di sekitar tubuhnya. Ketika kerumitan radar yang digunakan oleh manusia kita renungkan, penciptaan mengagumkan dalam tubuh ikan akan menjadi jelas.

Bentuk tubuh belut listrik unik. Hampir 7/8 bagian tubuhnya berupa ekor. Di bagian ekor inilah terdapat baterai-baterai kecil berupa lempengan-lempengan kecil yang horizontal dan vertikal. Jumlahnya sangat banyak, lebih dari 5.000 buah. Tegangan listrik tiap baterai kecil ini tidak besar, tetapi kalau semua baterai dihubungkan secara berderet (seri), akan diperoleh tegangan listrik sekitar 600 volt (bandingkan dengan batu baterai yang hanya 1,5 volt).

Ujung ekor bertindak sebagai kutub positif baterai dan ujung kepala bertindak sebagai kutub negatif. Belut listrik dapat mengatur hubungan antara baterai kecil dalam tubuhnya itu untuk mendapat tegangan listrik kecil dan tegangan listrik besar.

Untuk navigasi, belut listrik hanya membutuhkan tegangan listrik yang kecil. Tetapi ketika ketemu musuh atau mangsanya, belut listrik akan memberikan tegangan semaksimal mungkin melalui kepala dan ekornya yang ditempelkan pada tubuh musuh atau mangsanya itu. Arus listrik sekitar 1 ampere yang ditimbulkan oleh tegangan listrik yang tinggi ini akan mengalir dan membunuh mereka. Hewan lain tidak terganggu karena mereka tidak bersentuhan langsung dengan ekor dan kepala belut.